Tak ada satupun pengusaha di muka bumi ini yang mau usahanya mengalami kerugian. Apalagi kerugiannya bernilai sangat besar dan mencengangkan.

Beberapa bulan lalu tersiar kabar menghebohkan dari Negeri Paman Sam. Facebook, salah satu raja media sosial di dunia, diberitakan mengalami kerugian cukup besar. Hal ini diketahui setelah ada kabar bahwa dari beberapa perusahaan besar dari pihak Unilever sampai Coca-Cola mencabut seluruh konten iklan yang ada di dalamnya.

Unilever dkk menuduh pihak Facebook telah gagal menghadang postingan-postingan berbau SARA dan banyak sekali ujaran kebencian. Apalagi yang terakhir itu ketika Unilever mengumumkan dukungan morilnya kepada kaum berlambang pelangi, LGBT.

Dilansir dari beberapa media, kerugian akibat pencabutan iklan para perusahaan besar, mas Mark kehilangan pendapatan per hari mencapai US$ 7,2 Miliar atau setara dengan Rp. 107 Triliun. Harga yang cukup untuk membangun sekitar 20 bangunan sekolah sampai interiornya. Saham Facebook juga rontok sampai 8%. Bagi pengusaha, tentu penurunan 8% nilai saham akan membuat mereka pusing 7 keliling.

Tidak hanya tahun ini Facebook mengalami kerugian cukup besar. Tahun 2018 Facebook mengalami kerugian yang fantastis. Nilai kerugian ditaksir mencapai US$ 19,9 Miliar atau setara dengan Rp. 287 Triliun. Hal tersebut dikarenakan adanya kebocoran data 50 juta pengguna setia Facebook ke pihak ketiga untuk kepentingan politik dan iklan. Tentu saja para investor dan jutaan pengguna Facebook menuntut untuk pengamanan data pribadi mereka.

Tapi, apakah hanya dengan pencabutan iklan di Facebook oleh beberapa perusahaan besar di dunia, mas Mark Zuckerberg harus merasa rugi?

Bukan Mas Mark kalau tidak lihai melihat peluang menambah pundi-pundi kekayaannya. Setelah kerugian besar di tahun 2018, Facebook langsung meraup keuntungan yang sebanding dengan nilai kerugiannya pada tahun setelahnya. 

Pada awal 2019, Mas Mark mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp. 209 Triliun. Masih awal tahun lho. Ibarat baru rugi kemarin, sekarang bisa balikin kekayaannya lagi. 2019 baru berumur 1 bulan.

Setelah tren terus positif akibat kecerdikan dan pandai melihat situasi, Mas Mark dkk pada pertengahan tahun 2019 menjadi induk perusahaan Instagram dan WhatsApp. Mas Mark makin menambahkan kran pendapatan kantong baju dan dompetnya dengan bergabungnya Instagram dan WhatsApp. Eh kaos oblong abu-abu Mas Mark punya kantong ga sih?

Dari kran pendapatan Instagram saja tahun 2019 mencapai Rp. 247 Triliun. Dari Kran WhatsApp saja bisa meraup keuntungan sebesar Rp. 69 Triliun. Namun, angka kecil dari WhatsApp tersebut bisa jadi bertransformasi menjadi angka yang fantastis. 

Hal ini setelah beredar info bahwa tahun 2020, pihak Facebook akan membuka layanan iklan di WhatsApp. Jika tidak mau terganggu oleh iklan, maka setiap pengguna wajib menyetor US$ 1, setara dengan Rp. 14.000,- per tahun. Coba saja kalikan dengan 2 miliar pengguna WhatsApp, hasilnya berapa? Itu belum termasuk penambahan akun WhatsApp yang setiap tahun makin meningkat.

Saat laporan keuangan tutup tahun 2019, pendapatan Instagram itu menyumbang setara seperempat dari pendapatan total Facebook. Berarti secara hitung-hitungan kasarnya, pendapatan Facebook mencapai Rp. 988 Triliun, hampir Rp. 1000 Triliun gaes, nyaris sama seperti utang APBN kita. Tak bisa dipungkiri Facebook yang berkolaborasi dengan Instagram dan WhatsApp akan siap merajai dunia permedsosan pada tahun 2020. Are you ready?

Selain karena nilai perusahaan yang sudah pasti bisa bikin balik modal akibat kerugian yang diderita, gaya hidup keluarga Mas Mark Zuckerberg memang jauh dari kesan kemewahan. Beda banget sama gaya hidup ya yang itulah, you know lah. Mendapatkan kerugian seakan cuma angin lalu bagi Mas Mark, ga perlu dibuat stres berlebihan. Cukup untuk menyadari sedikit Mas Mark yang harusnya itu kerja, kerja, dan kerja.

CEO yang terkenal dengan kaos oblong abu-abu, jeans, dan sepatu biasa memang sangat jauh dan sangat timpang dengan pendapatannya sendiri. Harusnya kan sekelas CEO itu pakai jas berdasi, sepatu hitam kinclong, jam tangan juta-jutaan, dan asesoris lainnya yang tentunya mahal. Ini tidak. 

Apa perlu kita beri bantuan ke Mas Mark buat beli barang-barang branded itu? Yang ada Mas Mark yang pernah berkunjung ke Candi Borobudur bakal berkata, “Niki ngge sampeyan mawon, ngge tumbas beras lan lauk pauk e.

Contoh sederhana lainnya yaitu pemilikan mobil. Bayangan kalau Mas Mak memiliki mobil mewah-mewah, seperti artis-artis kita itu yang punya Mercedes, Royal Roice, Ferarri, sampai Lamborghini, semuanya akan sirna semua. 

Dari Laporan Forbes 2018, Mas Mark mengoleksi 4 mobil dan murah-murah. Yang paling murah dan paling sering digunakan yaitu Honda Jazz. Iya, Honda Jazz. Ga sesuai sama kelasnya. Mobil keluarga nan kecil ini memang sering digunakan Mas Mark untuk bekerja maupun berkeluarga. 

Mobil yang sesuai dengan strata Mas Mark yaitu Pagani Huayra, ya mirip-mirip ferarri gitu. Harganya US$ 2 Juta atau setara Rp. 28 Miliar. Tapi, mobil ini jarang diperlihatkan ke publik. Hanya terparkir di garasi rumahnya. Mungkin takut ditarik pajak sama pemerintah sono, mungkin lho.

Tak hanya Mas Mark saja yang terlihat sederhana, Mbak Priscilia Chan (istri Mas Mark) pun tak kalah sederhana. Mbak Priscilia nyaris tak pernah menggunakan make up dan pakaian mewah di keseharian maupun acara. 

Kehidupannya juga jauh dari kesan glamour. Ga punya grup arisan maupun grup hibah, tapi Mbak Priscilia punya yayasan amal yang diberi nama Chan Zuckerberg Initiative. Konon, sekitar 90%-an saham Facebook digunakan untuk kegiatan amal yang dikelola oleh yayasan Mas Mark tersebut.

Walaupun punya koleksi mobil, Keluarga Mas Mark terlihat lebih sering berjalan kaki ketimbang naik mobil. Sehingga hemat untuk pengeluaran BBM yang mahal. Selain itu, mereka tak segan-segan untuk makan di “angkringan” jalanan Amerika. Tak perlu menuju restoran mewah yang identik dengan para petinggi perusahaan, pejabat, maupun artis-artis terkenal.

Sifat kesederhanaan Keluarga Mas Mark Zuckerberg menggambarkan kerugian yang diperoleh akibat perusahaannya menemui masalah, tak berdampak signifikan terhadap kehidupannya. Justru sifat sederhana ini yang menguatkan segala permasalahan ekonomi yang pelik yang dihadapi keluarga. Selain perasaan biasa aja menghadapi kerugian, secara psikologi juga tak sampai membuat depresi berat.

Tapi ya Mas Mark Zuckerberg memang sudah punya usaha dan pekerjaan sejak umur 20 tahun. Kerja keras dan kerja cerdas yang membuatnya sukses seperti sekarang. Badai kerugian pasti sering dialami awal-awal usaha. Yang membedakan adalah seberapa tangguh kita menghadapi kerugian tersebut. Yang terpenting ialah gaya hidup harus tetap sederhana, jangan malah naik.

Makanya, saya cukup yakin Mas Mark Zuckerberg tidak akan merasakan dampak langsung kerugian secara finansial maupun psikologisnya. Mau seperti itu? Pegang kata-kata ini, “Tujuannya untuk memperoleh kekayaan, bukan untuk terlihat kaya.