Dua ekor burung gagak berkelahi
Satunya mati.

Setelah membunuh Habil,
Qabil menggigil.

Qabil mengubur Habil yang tiada
Setelah melihat gagak mengubur saudaranya.

Cibinong. 7 Februari 2019


Doa Semut untuk Sulaiman

“Jauhilah lembah semut
dan berangkatlah tanpa rasa takut!”
kata Raja Sulaiman kepada pasukannya.

“Doaku kepada Allah
agar memasukkanmu dengan rahmat-Nya
ke dalam hamba-hamba-Nya yang salih,”
kata semut kepada Raja Sulaiman.

“Allah akan menjadikan kata-katamu
dalam memberikan peringatan kepada
bangsa semut sebagai ayat-ayat yang akan dibaca
orang-orang beriman dalam salat mereka,”
balas Raja Sulaiman kepada semut.

Cibinong, 7 Februari 2019


Sapa Rayap Tak Berbalas

Rayap menyapa Raja Sulaiman
khusuk duduk di singgasana kerajaan.

Sapa rayap tak berbalas meski berkali-kali
menepuk telinga penguasa di bumi.

Rayap memakan tongkatnya
hingga Raja Sulaiman tersungkur seketika.

Seluruh makhluk-Nya merasa merdeka
hingga jin tertawa sepuasnya.

Cibinong, 7 Februari 2019


Demi Waktu

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Walashri
Innal insaana lafii khusr
Illal ladziina aamanuu waamilush shaalihaati wa tawaashaubil haqqi wa tawaashau bish shabr

( 1. Demi masa (waktu ashar).

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

3. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. )

/1/
detik terbirit mengelebat
bagai celurit mengerat

/2/
menit cepat menggebrak
bagai granat meledak

/3/
jam lari menghunjam
bagai belati menikam

/4/
hari kencang menerabas
bagai pedang menebas

/5/
minggu berkesiur melebur
bagai sangkur membentur

/6/
bulan perlahan merangkak
bagai senapan menyalak

/7/
tahun risau menangis
bagai pisau mengiris

Cibinong, 18 Januari 2019. 


Senja Menengok Fajar

Senja itu hampir. Fajar itu mengalir. Senja itu dekat. Fajar itu cepat. Senja itu diam. Fajar itu geram. Senja itu tua merona. Fajar itu balita memesona.  Oh, senja memanggilku pulang. Oh, fajar menyuruhku bertualang.

Jakarta, 11 November 2018


Sajak Mata Gadis Itu

/1/
Mata gadis itu menyapa senja
yang dilumuri garis-garis wajah lelaki.
Menanti angin membawa nyanyi
asmarandana. Ketika sunyi menjelaga.

/2/
Mata gadis itu mendengar ringkik
kuda jantan. Berlari di panas terik
padang sabana. Mencumbu bau gerai
rambutnya. Mengoyak biru sansai.

/3/
Mata gadis itu menanti isyarat
matahari. Menggelucak di antara batas
impian dan harapan. Gairah memekat.
Kapan waktu akan mendekat.

Jakarta, 3 November 2015


Kisah Sepasang Mata Indah dan Secangkir Kopi

“Selamat pagi!” Sepasang mata indah menyapa secangkir kopi. Lama menatapnya. Kemudian mengenangnya. Sebelum bibir merah merekah menyentuhnya. Bibir cangkir memintanya untuk teguk pertama.

“Sudahlah, kita akhiri saja! Karena engkau diam-diam menyimpan nama lain. Juga foto. Di dalam album dan buku harianmu. Tak perlu dipertahankan. Tak perlu dilanjutkan. Jika ini beraroma pengkhianatan!”

Pada teguk kedua, terbayang hijau telaga. Air menggigir. Angin berdesir. Langit biru. Serombongan belibis terbang mengoyak senja. Mengayuh dayung. Perahu tak lelah menyisir. Seolah mengekalkan cinta!

Pada teguk ketiga, terbayang rinai hujan. Mengguyur wajah, juga tubuh. Pinus dan cemara. Mengiring berjalan. Tak ada resah, juga keluh, Seolah cinta tak kan merapuh!

Pada teguk keempat, terbayang belati. Mengajaknya bunuh diri. Darah meruah. Rindu mengalah. Senyum matahari dan bulan, juga bau parfum melambai. Seolah cinta telah selesai!

Pada teguk terakhir, sepasang mata indah berbinar. Ketika kopi pagi diseruput lelah hatinya pudar. Hidup tak selamanya manis. Tak selamanya pahit. Berkelindan. Telah dirasakan. Telah ditemukan. “Selamat pagi, kawan!” Suaranya lirih tapi menyenangkan.

Jakarta, 5 November 2015


Sajak Mata Harimau

/1/
sepasang mata harimau jantan
di belantara. menyapa betina,
juga anak-anaknya. kuku tajam
membelai. seringai dan auman
memecahkan cemburu purnama.

/2/
mata tajamnya mencabik kelam.
mengirim kabar kepada semesta.
malam diliput kabut gurau senda.
hingga pagi menyapa. malam
tersuruk. mata tajamnya membenam.

Jakarta, 28 Oktober 2015


Sajak Mata Elang

/1/
sepasang mata elang betina
melayang. mencumbui angkasa.
matanya menyihir semesta
hingga aku tersungkur, dinda.

/2/
ketika kau menakik senja
mata pedangmu lumerkan baja
yang mengeram di hati. iba
menjaga marwah. senantiasa.

Jakarta, 27 Oktober 2015

Catatan: 1) Puisi "Belajar dari Burung Gagak", "Doa Semut untuk Sulaiman", "Sapa Rayap Tak Berbalas", "Demi Waktu", dan "Senja Menengok Fajar" pernah tayang di Rubrik Puisi POJOKPIM.COM edisi Minggu, 10 November 2019. 2) Puisi "Sajak Mata Gadis Itu",  "Kisah Sepasang Mata Indah dan Secangkir Kopi", "Sajak Mata Harimau", dan "Sajak Mata Elang" pernah tayang di Rubrik Puisi MBLUDUS.Com edisi Minggu, 28 Juli 2019.