Generasi muda saat ini menjadi sasaran terbesar untuk terlibat dalam radikalisme. Gempar-gemparnya provokasi radikal yang beredar di masyarakat saat ini sangatlah memprihatikan. Adanya kekerasan yang tidak berperikemanusiaan di setiap tindakan menjadi ciri dari radikalisme. Dalam hal ini, generasi muda harus mempunyai pertahanan dari doktrin-doktrin tersebut.

Pemuda menjadi incaran para provokator radikal disebabkan karena sifat pemuda yang kadang masih labil dan belum memiliki prinsip yang matang dalam hidupnya. Karena kebanyakan generasi muda masih berusaha untuk proses pencarian jati diri. Hal itulah yang menjadikan para radikal mengajak pemuda untuk bergabung dalam kelompok mereka.

Didukung dengan kecanggihan teknologi yang memberikan kemudahan untuk berkomunikasi meskipun tidak bertatapan langsung. Fasilitas media sosial menunjang pergaulan antarmanusia sekaligus menjadi wadah untuk penyebar radikalisme melancarkan aksinya.

Pengawasan media online, website, blog, dan sebagainya harus makin digencarkan oleh pemerintah. Dikarenakan dengan media online, semua informasi berkembang sangat cepat, baik hoaks ataupun fakta. Maka pemerintah pun harus tegas menindaknya, seperti melakukan pemblokiran secara permanen jika diperlukan.

Radikalisme sangat erat kaitannya dengan aksi terorisme. Mereka melakukan aksi teror karena semata-mata mengejar apa yang mereka inginkan. Demi mengejar keegoisan dan nafsu sesaat memengaruhi mereka untuk membunuh atas nama Tuhan.

Tindakan mereka berawal dari paham radikal yang selama ini dipegang. Pemahaman agama yang masih dangkal menjadi pemicu tersebar luasnya aksi terorisme. Ditambah lagi kondisi ekonomi yang memprihatinkan menjadi salah satu faktor terpenting mengapa mereka terjerumus ke dalam kelompok radikal

Hal inilah yang dikhawatirkan pada generasi muda Indonesia. Kita waswas dengan keadaan generasi yang masih labil dan tingkat pemahaman agama yang masih belum cukup. Banyak provokator radikal yang akan mengambil alih dan beraksi untuk mendapatkan anggota sebanyak-banyaknya.

Generasi muda nantinya akan dijadikan korban bujuk rayu para penganut paham radikal. Maka dari itu, hal ini menjadi peringatan bagi segenap komponen masyarakat dan juga pemerintah. Yang terpenting adalah peran dari keluarga dalam mendidik anak-anaknya. Keluarga sangat berpengaruh dalam mencegah anaknya terjebak pada paham-paham yang mengajarkan kekerasan.

Pendidikan moral dan agama juga perlu digiatkan oleh setiap institusi pendidikan yang ada. Selain diajarkan pelajaran tentang materi di kelas, bisa disisipkan nasihat-nasihat yang bisa menghindarkan anak didik dari tindakan tidak bermoral.

Terdapat kasus di lembaga pendidikan level sekolah menengah atas, tepatnya di Cilacap, Jawa Tengah. Baru saja ditemukan 14 sekolah menengah atas yang dikejutkan adanya temuan oknum guru diduga mengajarkan radikalisme dengan memberikan ajaran yang menyesatkan.

Di perguruan tinggi juga menjadi sasaran empuk oleh radikalisme. Di salah satu perguruan negeri di Bogor, kemarin juga diberitakan adanya mahasiswa yang menginginkan terwujudnya negara khilafah. Meski pihak kampus tidak percaya dan membantahnya, namun beberapa pihak mengingatkan bahwa radikalisme sering masuk dalam kegiatan di dalam kampus.

Data BNPT menyebutkan, pelaku teroris terbesar berpendidikan SMU, yakni 63,3 persen, kemudian disusul perguruan tinggi 16,4 persen, SMP 10,9 persen, tidak lulus perguruan tinggi 5,5 persen, dan SD 3,6 persen.

Kemudian berdasarkan umur, pelaku teroris terbanyak usia 21-30 tahun, yakni 47,3 persen, disusul usia 31-40 tahun 29,1 persen. Sedangkan, usia di atas 40 tahun dan di bawah 21 tahun masing-masing 11,8 persen.

Penyumbang terbesar pelaku teroris adalah anak remaja yang baru menginjak dewasa. Sedangkan untuk usia di bawah umur juga sudah terjerumus oleh virus radikal. Hampir semua kalangan, baik muda, remaja, dewasa maupun tua, terjerat kasus terorisme.

Radikalisme disuarakan melalui kelompok mulai dari keluarga terdekat. Sekarang sudah mulai bergeser dan berkembang melalui media sosial, sehingga paham ini sangat mudah menyebar luas.

Remaja saat ini kurang adanya fondasi iman yang kuat sehingga masih sangat mudah dipengaruhi oleh paham radikal. Dengan penyebaran yang sangat halus, sulit untuk membedakan mana hal yang seharusnya kita ikuti dan tidak.

Di sisi lain, nilai-nilai nasionalisme dan Pancasila perlu terus dibumikan. Pancasila disusun oleh para ulama kita sebagai falsafah bernegara. Landasan yang bertumpu pada lima asas Pancasila, di mana sila yang satu dengan sila yang lain saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengingatkan bahwa sudah sejak lama generasi muda menjadi sasaran kelompok radikal. Dengan propagandanya sering kali menjadikan anak muda sebagai korban. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya anak muda yang mulai terpapar radikalisme, bahkan menjadi pelaku terorisme.

Fakta di atas merupakan hal yang terjadi di negeri katanya sangat toleran. Jika kita tidak aktif melakukan pencegahan, maka provokator radikal yang akan menjadi pemenangnya. Tapi tentu saja kita tidak ingin negeri kita menjadi negeri yang berpaham sepihak. Kita juga tidak ingin setiap hari ada pembunuhan di depan publik hanya karena perbedaan pendapat dan keyakinan semata.