Aku menjalani keberadaan dalam waktu yang berjalan maju. Ia terus berjalan dalam waktu yang bergerak maju, masa kini akan menjadi masa lalu dan masa yang belum ada menjadi masa depan, masa yang diharapkan datang. Setiap aku menatap masa kini, aku menatapnya dengan jalinan masa lalu, tidak lepas oleh presuposisi dari masa-masa sebelumnya.

Tatapan masa kini adalah tatapan dengan persepsi masa lalu, bahkan untuk menatap situasi yang akan datang sang aku harus jatuh terlebih dahulu dalam tenunan masa kini yang menentukan masa yang akan datang. Aku dengan cara berada selalu terkekang dalam ruang dan waktu, bahkan walaupun ruang dikesampingkan, Aku dengan eksistensinya harus mengandaikan waktu sebagai sarana aku mengada.

Namun sayangnya seberapa pedulinya Aku terhadap waktu, waktu akan terus berjalan dengan mengkesampingkan Aku. Ia akan terus bergulir ketika aku melebur dalam ruang, walau aku tidak lagi mewaktu, tanpa mengganggu waktu yang terus mengarah ke depan.

Mengapa waktu tidak peduli kepadaku, padahal Aku selalu menyadari waktu sebagai bagian dari kemengadaanku?

Satu fenomena metafisis, mungkin, melibatkan Aku dan perhatianku terhadap waktu. Kebingungan melanda bagaimana aku harus memahami waktu, ternyata sukar untuk didefinisikan. Di era super-modern ini kemewaktuan mengalami pemahaman ulang, ternyata waktu tidak seabsolut yang dibayangkan, waktu diskeptisasi, ia menjadi relatif. Dengan begitu dapatkah dibenarkan perkataan orang bahwa waktu identik dengan ilusi?

Juga mungkinkah waktu merupakan akumulasi pengalamanku? Inilah fenomena metafisis itu yang dekat dengan pengalamanku mengada, 'Lupa', 'keter-lupa-aan, melupakan, terlupakan, atau bahasa lain yang bisa menjelaskannya dan mungkin selain bahasa. Lupa selalu harus diletakkan dalam pengalamanku dengan waktu sebagai bagian dari akumulasi tadi.

Aku yang selalu menyadari dan menjalani waktu, kini dan yang sudah lewat, harus bertemu dengan fenomena Lupa. Lupa begitu absurd, ia harus diletakkan pada kerangka waktu masa lalu, ia terjadi di kekinian namun terhadap keberlaluan fenomena.

Tidak dapat dipahami mengapa masa depan tidak pernah menjadi korban dari keter-lupa-an ini. Karena yang dilupakan selalu pengalaman akan kesadaran masa lalu, mengapa ia tidak menyerang masa kini atau mendatang? Mungkinkah karena aku hanya menyadari masa kini?

Erat definisinya dengan Lupa jika hal itu adalah 'lepas dari ingatan'. Ada bagian dari pengalaman yang lepas dari ingatanku, ternyata pengalaman ini pernah kusadari sebelumnya dan tiba tiba, boom, ia keluar dari ingatanku, kira-kira begitu.

Pengalaman itu tidak teringat lagi, ia lepas dari kesadaranku yang berarti bagian dari fenomena pengalaman ini adalah bagian dari kemewaktuanku di waktu yang telah lewat, aku mengesampingkannya atau kesadaranku menjauhinya. Terjadilah Lupa. Aku tidak tahu lagi partikular pengalaman lalu yang dimiliki.

Kesadaranku di masa kini sudah lagi berbeda dengan kesadaran di masa lalu, padahal aku berada dengan cara sadar, namun tak tahu mengapa tetap saja terjadi Kesadaran yang tak lagi sama, Kesadaran yang berbeda dari sebelumnya, Kesadaran akan masa kini bahwa ada bagian Kesadaran yang hilang. Sadar bahwa ada pengalaman yang dulu disadari pergi dari Kesadaran. Sadar akan Lupa.

Mengapa kejadian aneh ini harus ada dalam kemewaktuanku? Bukankah ini merugikan? Aku tidak lagi dapat mengingat kejadian penting dalam hidupku jika diserang fenomena absurd ini. Mungkinkah kesadaran yang kumiliki adalah cara sadar yang terbatas? Apakah kesadaran bekerja hanya pada objek yang ingin Aku sadari? Berarti kesadaranku dibatasi? Aku Sadar jika Aku ingin Sadar?

Apabila kesadaranku terhadap suatu fenomena tidak lagi persis sebagaimana kesadaranku dulu menyadarinya, berarti bukan fenomena itu yang melarikan diri dari kesadaranku namun kesadaranku yang tidak ingin menyadarinya. Mungkinkah keter-lupa-an terjadi karena ini? Lupa, realita yang tidak ingin disadari atau tidak mau terbawa kesadaran?

Apapun yang terjadi, tetaplah Lupa menjadi bagian dari pengalamanku, ia tidak bisa dilepas dari ikatannya. Aku yang berada dengan cara sadar dibutuhkan oleh sang Lupa untuk disadari. Ia terjadi jika aku menyadarinya, mungkin keter-lupa-an tidak pernah tampak di benakku jika benakku tidak menyadari dirinya bahwa ia sedang Lupa. Untuk melupa membutuhkan kegiatan kesadaran.

Lupa terjadi hanya pada makhluk berkesadaran. Juga berarti Lupa adalah bagian dari kesadaran. Manusia harus mengalami hal ini, sebagai mahkluk sadar, walaupun banyak yang ingin menghindarinya dengan menambah kemampuan mengingat, tidak tau bagaimana jelas caranya. Dapat diterimalah sebuah pepatah, "Semakin banyak mengingat, semakin banyak yang terlupakan."