Usulan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Yasonna Laoly  di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 dianggap luar biasa. Akan tetapi, sebagian besar kalangan anti-korupsi menilai itu aneh dan tidak masuk akal. Padahal tujuannya sangat mulia. Mungkin mereka saja yang tidak mampu menyamai rasa kemanusiaan Pak Menteri Yasonna Laoly.

Berbicara rasa kemanusiaan, tidak ada satu pun orang tega membiarkan orang lain terancam. Bahkan penjahat kelas elite pun, apabila dalam kondisi tak berdaya. Itu naluri manusia, tidak bisa dibantah. Tapi ada sisi yang tidak nyambung rasanya.

Kemenkumham mengusulkan kebijakan untuk membebaskan para napi kasus korupsi yang berusia di atas 60 tahun dan telah menjalani 2/3 masa tahanan melalui revisi Peraturan Pemerintah (PP) nomor 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas PP nomor 32 tahun 1999 tentang syarat dan tata cara pelaksanaan hak warga binaan pemasyarakatan. Usulan itu sontak membuat sebagian kalangan anti-korupsi mengkritik kebijakan tak masuk akal ini.

Berawal hasil rapat kerja virtual bersama Komisi III DPR pada Rabu 1 April 2020, Pak Menteri Yasonna Laoly berkeinginan merevisi PP No. 99 Tahun tentang syarat dan tata cara pelaksanaan hak warga binaan pemasyarakatan.

Hasilnya, terbitlah surat keputusan Menkumham Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak melalui Asimilasi dan Integrasi dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19. 

Sejumlah faktor menjadi pertimbangan, di antaranya kembaga pemasyarakatan (Lapas), lembaga pembinaan khusus anak (LPKA), dan rumah tahanan negara merupakan institusi tertutup yang memiliki tingkat hunian tinggi, sehingga sangat rentan penyebaran dan penularan Covid-19. Kebijakan ini dinilai upaya pencegahan dan penyelamatan narapidana dan anak. Itu artinya, napi kasus megakorupsi juga bakal bebas.

Berdasarkan data Kementerian Hukum dan HAM periode 2018, jumlah narapidana seluruh Indonesia tercatat sebanyak 248.690 orang dan 4.552 orang di antaranya adalah napi kasus korupsi. Itu artinya, akan ada puluhan napi megakorupsi bakal dapat berkah dari kebijakan Kemenkumham.

Setidaknya Indonesia Corruption Watch (ICW) merilis daftar narapidana kasus korupsi yang kemungkinan bebas. Di antaranya terpidana kasus suap Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Medan Oce Kaligis (77 tahun), Mantan Menteri Agama Suryadharma Ali (63 tahun), Mantan Ketua DPR, Setya Novanto (64 tahun), dan Mantan Hakim Konstitusi, Patrialis Akbar (61 tahun). 

Kemudian, Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (70 tahun), Mantan Hakim Adhoc Pengadilan Tipikor Ramlan Comel (69 tahun), Mantan Menteri ESDM Jero Wacik (70 tahun), Eks pengacara Setya Novanto Friedrich Yunadi (70 tahun), Mantan Walikota Bandung Dada Rosada (72 tahun), Mantan Gubernur Riau Rusli Zainal (62 tahun),

Selanjutnya, Mantan Gubernur Papua Barnabas Suebu (73 tahun), Mantan Walikota Madiun Bambang Irianto (69 tahun), Mantan Bupati Batubara OK Arya Zulkarnaen (63 tahun), Eks Walikota Mojokerto, Masud Yunus (68 tahun), Mantan Bupati Subang, Imas Aryumningsih (68 tahun), dan Mantan Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud (60 tahun). 

Selanjutnya, Mantan Walikota Pasuruan, Setiyono (64 tahun), Mantan Anggota DPR Budi Supriyanto (60 tahun), Mantan Anggota DPR Amin Santono (70 tahun), Mantan Anggota DPR Dewie Yasin Limpo (60 tahun), Direktur Operasional Lippo Group, Billy Sindoro (60 tahun), dan terakhir terpidana kasus suap PLTU Riau-1 Johannes B. Kotjo (69 tahun). 

Deretan nama-nama napi megakorupsi ini menjadi sorotan publik. Selain dari hasil “rampokan” dengan nominal cukup banyak, jabatan mereka sebagai pejabat negara dan politisi telah menambah catatan buruk politik Indonesia. Kini mereka berpotensi dibebaskan dari sel tahanan karena pandemi corona.  

Alasannya, usia para napi di atas 60 tahun rentan terpapar corona. Demi menghindari dari ancaman itu, pilihannya adalah membebaskan agar tetap stay at home dan mudah menerapkan pysichal distancing. Jika itu alasannya, mengapa pemerintah tidak menyiapkan tim medis untuk mengawasi kondisi kesehatannya?

Para pegiat anti-kosupsi telah mengkritik usulan tersebut. Namun setelah mendengar penjelasan Pak Menteri Yasonna Laoly, ternyata tidak mudah membebaskan para koruptor kelas kakap itu. Dalam salah satu poin Permenkumham 10/2020 dan Kepmenkumham Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020 menarasikan napi kasus korupsi berusia di atas 60 tahun dan sudah menjalani 2/3 masa tahanan berpotensi bebas. 

Mengingat usia tersebut daya imun tubuh lemah. Itu artinya, para napi kasus korupsi yang sudah menjalani masa tahanan di atas 60 tahun bisa bebas sebelum masa tahanan berakhir. Misalnya, dari 64 napi kasus korupsi di Lapas Sukamiskin, ada pada OC Kaligis dan Jero Wacik yang memenuhi syarat dibebaskan. 

Menggunakan penjelasan tersebut, dari deretan nama-nama napi kasus megakorupi, dimungkinkan ada beberapa yang berpotensi bebas. Tapi apa pun penjelasannya, tetap sama saja beberapa di antaranya ada yang bebas karena syarat utamanya adalah usia dan masa tahanan.

Jika faktor utama adalah pandemi, idealnya napi di atas 60 tahun diisolasi di sel tahanan masing-masing. Mengingat sel tahanan para napi megakorupsi ini dilengkapi sejumlah fasilitas mewah. Kondisi ini cukup memudahkan proses isolasi para napi. 

Adapun alasan over kapasitas juga tidak subtansi. Padahal pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang tidak berujung pada pembebasan napi karena narasi pandemi. 

Padahal pamdemi corona tidak berlangsung lama. Apalagi dalam bagian Kedua huruf a dan b disebutkan bahwa asimilasi dan pembebasan bersyarat tidak berlaku bagi kejahatan yang diatur dalam PP Nomor 99 Tahun 2012, termasuk narapidana korupsi.

Kebijakan terhadap para napi megakorupsi justru melemahkan efek jera atas tindakan yang telah dilakukan. Parahnya, kebijakan Pak Menteri Yasonna Laoly terkesan menganggap kejahatan korupsi samakan dengan kejahatan lainnya. Sehingga kebijakan yang diberikan sama dengan kelas kasus napi lainnya.

Padahal korupsi bukan hanya merugikan uang negara, tapi juga telah menimbulkan kerusakan pada sistem demokrasi, pendidikan politik dan penyimpangan hukum. Lebih jelasnya, sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan Konvensi PBB tentang Anti-Korupsi, korupsi dikatakan sebagai kejahatan luar biasa  karena masalah dan ancaman yang ditimbulkan terhadap stabilitas dan keamanan masyarakat sangat besar.  

Rusak lembaga-lembaga dan nilai-nilai demokrasi, nilai-nilai etika dan keadilan, serta mengacaukan pembangunan yang berkelanjutan dan penegakan hukum merupakan sektor yang paling terdampak terhadap tindak pidana korupsi.