Menjadi seorang muslim hari ini cukup membuat penulis kesulitan ketika harus membuktikan bahwa ajaran Islam itu masih bisa menjadi rujukan yang relevan untuk menuju manusia yang paripurna. Terutama ketika ada beberapa kalangan yang menilai dan melihat wajah Islam hanya berdasarkan tingkah laku dan adab para pemeluknya saja. Ketika penulis menjawab secara normatif bahwa agama tidak bisa di ukur hanya oleh cara pandang dan tingkah laku para pengikutnya saja, namun kemudian akan ada respon yang lebih panjang bahwa Islam faktanya masih saja gagal diterjemahkan dengan baik oleh muslim.

Selera masyarakat yang secara umum hari ini lebih cocok dengan corak Islam yang sangat ekslusif dan tidak ramah dengan pluralisme, membawa Islam lebih jauh pada ruang sempit yang tidak mampu hadir dalam panggung peradaban manusia modernis dan pluralis. Lebih jauh, pluralisme sudah mendapat stigma yang sejajar dengan liberalisme-destruktif bahkan juga dengan komunisme yang telah sangat akrab dalam kamus sosial para fundamentalis yang semakin percaya diri hadir di berbagai ruang publik hari ini.

Sesekali, penulis sendiri merasa sangat lelah dengan semua realitas yang dihadirkan oleh lingkungan terutama mereka “penggiat dakwah” yang telah sukses menciptakan ketegangan antar sesama manusia dengan membawa persepsi egosentrisnya dalam menilai universalitas kehidupan yang sebenarnya kompleks dan tidak mungkin bisa di ukur, di atur dan diseragamkan hanya dengan nalar mereka yang sangat egois dan sempit.

Tidak sedikit para intelektual muslim dari berbagai kelompok hadir membawa pendekatan dakwah esensial dan cultural dalam rangka merekonstruksi nilai-nilai Islam yang telah semakin bias dan deviatif. Namun kaum fundamentalis tidak kalah cepat untuk memberi pagar-pagar kebencian terhadap cara pandang para sarjana muslim yang keilmuannya didapatkan dengan prosedur dan nalar yang jauh lebih terukur.

Ajaran Islam yang damai yang memperkenalkan Tuhan sebagai yang maha pengasih dan maha penyayang seringkali dipropagandakan sebagai gerakan pelemahan aqidah. Sebaliknya, kaum fundamentalis melakukan sebuah oposisi dengan memperkenalkan Tuhan sebagai yang maha besar dan agung sebagai legitimasi untuk tetap menjalankan dakwah provokatif tidak hanya terhadap agama lain di luar Islam, namun juga kepada sesama internal muslim yang berbeda pandangan keislamannya atau mereka yang lebih terbuka (inklusif).

Kelompok muslim yang tidak sepakat dengan sistem hukum Islam tekstualis yang termanifestasi misalnya dalam gerakan khilafahisasi, dengan mudah akan dikategorikan sebagai muslim liberal yang mereka anggap telah keluar dari ajaran autentik Islam menurut tafsir tekstual mereka. Lebih jauh, akan mudah kita temui kata-kata “halal darahnya” dari kelompok fundamentalis kronis yang sudah membakar hatinya dalam api kebencian namun merasa telah berdakwah sebagaimana yang diinginkan Tuhan.

Al-qur’an sebagai jangkar nilai yang spiritnya bisa digali menjadi penyokong laku dan langkah umat, nyatanya telah cukup lama diisolasi dalam ruang skripturalis yang kaku. Melakukan ijtihad nilai dianggap sebagai pembangkangan terhadap kalam Tuhan yang telah dikunci mati dalam pengkultusan diksi. Semakin quranik seorang muslim, semakin fundamentalis dia. Padahal seharusnya tidak demikian samasekali.

Kalau boleh pesimis, melihat “muslim hari ini” akan membutuhkan usaha keras dan waktu beberapa abad untuk mampu menghadirkan kembali nilai autentik Islam yang bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam. Adalah ilusi bahwa muslim ingin jauh lebih baik dari saudara semitiknya yang lain bila pemahaman atas Islamnya masih sangat tekstual dan sangat jauh dari nilai substansial Islam itu sendiri.

Sementara kita mungkin merasa bangga dengan apa yang telah kita capai hari ini, namun tidak usah marah atau jengkel ketika dunia internasional menatap muslim sebelah mata terutama dalam prestasi dan sumbangsih terhadap peradaban hari ini. Islam “pernah” besar dan sangat berpengaruh terhadap dunia, namun membanggakan kejayaan masa lalu hanyalah sebuah arogansi tidak berdaya yang lari dari realitas ketidakmampuan untuk menjadi contoh dan teladan bagi semesta alam.