Saat ini, Jakarta menjadi pembicaraan dunia terkait tata kelola lingkungan kota. Media-media internasional seperti BBC London dan Al-Jazira mengapresiasi perubahan drastis waduk dan sungai yang terdapat di Jakarta.

Semua ini karena kinerja Basuki-Djarot yang serius menciptakan Jakarta menjadi kota memiliki lingkungan bersih. Basuki-Djarot berhasil mewujudkan Jakarta menjadi kota yang ramah lingkungan.

Sebagai Kota Metropolitan, tentu saja Jakarta memiliki jumlah penduduk yang sangat padat. Konsekuensinya adalah maraknya sampah, limbah, dan polusi udara yang berpotensi membuat kota tidak bersih dan nyaman. Atas dasar inilah Basuki-Djarot memprioritaskan kebersihan dan kenyamanan penduduk dengan mengatasi permasalahan lingkungan Jakarta yang sangat kompleks.  

Kinerja Basuki-Djarot

Terkait permasalahan sampah misalnya, Basuki-Djarot membuat sistem pengelolaan sampah yang menyeluruh dan terpadu dari pengangkutan sampah di rumah warga hingga pengiriman sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di samping itu, juga membangun incinerator di empat lokasi, yaitu Sunter, Semanan, Cakung, dan Marunda.

Incinerator ini memiliki kapasitas tinggi pada pengolahan sampah sebanyak 3.000 ton per hari dengan tekhnologi yang sudah terbukti di negara maju. Meski saat ini bank sampah di Jakarta sudah cukup banyak, namun Basuki-Djarot tetap mengupayakan satu rukun warga (RW) di Jakarta agar dapat memiliki satu bank sampah.

Dengan cara ini Basuki-Djarot membuat sungai dan kali di Jakarta bersih dan bebas sampah. Inisiatif ini sebagai bentuk respon cepat terhadap keluhan masyarakat terkait kebersihan. Karena itulah Basuki-Djarot mengambil alih pengelolaan sampah di Bantar Gebang.

Di samping itu, juga membangun satu unit percontohan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di Matraman dan meluncurkan kartu ATM Bank Sampah. 4045 PHL dikontrak untuk kebersihan sungai di Jakarta.

Untuk mengurangi volume sampah di Jakarta, Basuki-Djarot menerapkan regulasi pemberian insentif bagi masyarakat untuk melakukan daur ulang dan pengurangan volume sampah. Basuki-Djarot juga bekerja sama dengan bank sampah yang dikelola oleh masyarakat dalam pengelolaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS).

Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta sudah menambah alat berat untuk menunjang pembersihan sampah di Jakarta. Seperti 127 truk arm roll besar, 554 truk arm roll kecil, 49 excavator amphibious, dan 10 unit excavator spider.

Untuk penegakan lingkungan hidup, Basuki-Djarot sebelumnya sudah memperketat pengujian KIR. Basuki-Djarot menghimbau pada masyarakat DKI Jakarta untuk tidak segan melaporkan melalui aplikasi Qlue, jika mereka menemukan oknum yang nakal.

Untuk mengurangi polusi udara, Basuki-Djarot telah melakukan peremajaan armada bus Transjakarta dan Kopaja. Di samping itu, Basuki-Djarot juga melarang pemasangan reklame luar ruang iklan rokok di seluruh wilayah Jakarta.

Terkait permasalahan limbah yang berasal dari transportasi umum, Basuki-Djarot membuat kebijakan agar Transjakarta menggunakan bahan bakar gas (BBG) yang ramah lingkungan. Selain itu, Public Service Obligation (PSO) tahun 2016 mencapai Rp. 1,7 triliun.

Selain itu, Basuki-Djarot juga telah mendorong integrase PAM dan PAL untuk memberikan layanan satu pintu atas kebutuhan air dan pengolahan limbah. Dan yang lebih utama, mendorong pengelolaan IPAL di bangunan pemerintah, swasta, dan rumah tangga berbasis komunal (sanitasi masyarakat) terutama di lingkungan padat penduduk.

Perubahan wajah kali di Jakarta tidak lepas dari peningkatan kesejahteraan pegawai harian lepas (PHL). Sebelum tahun 2016, semua PHL digaji sesuai UMP dan mereka tidak mendapat BPJS, KJP, dan tidak mendapatkan prioritas rusun.

Namun, pada masa Basuki-Djarot, PHL diberikan UMP plus. Artinya, gaji mereka di atas UMP tergantung kerja yang mereka lakukan. Selain itu, mereka diberikan BPJS, KJP, dan prioritas rusun. Mereka juga boleh menaiki bus Transjakarta tanpa membayar.

Prestasi Membanggakan

Karena kinerja baik Basuki-Djarot tersebut , kini Jakarta telah memiliki 3131 titik Ruang Terbuka Hijau (RTH)/9.98% dari total wilayah. Artinya, selama kepemimpinan Basuki-Djarot, terjadi peningkatan 0.98 % dari tahun 2000. Maka tak heran jika Ibu Kota mendapat penghargaan Indonesia Green Awards 2016 dengan kategori ‘The Most Inspiring’. Ini merupakan prestasi yang membanggakan bagi Basuki-Djarot.

Selain itu, Jakarta telah menjadi Center of Excellence Bangunan Gedung Hijau. Pada tahun 2030, Jakarta akan mengurangi 30% konsumsi energi, 30% konsumsi air (komitmen 30:30). Maka juga tak heran, Jakarta kembali dianugerahi gelar sebagai National Earth Hour Capital dalam ajang Earth Hour City Challenge (EHCC) pada tahun 2016 yang diselenggarakan WWF

Dalam peningkatan air bersih, Basuki-Djarot telah membangun Water-Treatment Plant (WTP) dengan kapasitas 50.000 meter kubik air bersih per hari dengan sumber air baku banjil Kanal Barat dan Waduk Pluit.

Semua prestasi membanggakan ini tak lepas dari tangan dingin kepemimpinan Basuki-Djarot. Ini semua juga merupakan bukti bahwa Basuki-Djarot berkomitmen mewujudkan kota Jakarta yang bersih dan ramah lingkungan.