Barbie digambarkan sebagai sosok yang menawan hati, menghanyutkan, memesona, memikat, jelita; memperdaya, lembut, dramatis; cantik dan indah; fantastis, bergaya dan menarik; glamor dan gemerlapan; anggun, elok, berseri-seri. Lihat Mary F. Rogers (MFR), Barbie Culture: Ikon Budaya Konsumerisme (Yogyakarta: Relief, 2009). Sekilas, Barbie menampilkan suatu gambaran femininitas yang sangat menggoda dan membujuk.

Femininitas seorang perempuan yang sempurna, dan menjadi dambaan setiap gadis, tentunya femininitas yang hanya terbatas pada penampilan dan pembawaan saja. Namun, juga menjadi ironi karena femininitas yang demikian sempurna merupakan hal yang tidak mungkin diwujudkan (MFR, hlm. 25). Femininitas Barbie bersifat fantastis sehingga tidak dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Persoalan femininitas Barbie ini juga menyita perhatian Rogers—seorang Profesor sosiologi di Universitas Florida Barat—sebagaimana dikutipnya dari R.W Cornell yang menyatakan bahwa, femininitas Barbie sudah melampaui “femininitas tegas” yaitu gaya berpenampilan dan bersikap yang begitu diharapkan dan dikukuhkan dalam realitas masyarakat kita (MFR, hlm. 27).

Pada saat saya menyaksikan beberapa film (animasi) Barbie, di situ diceritakan pekerjaan-pekerjaan Barbie yang berbeda-beda di setiap filmnya. Seperti pemadam kebakaran, anggota kepolisian, olahragawan, pegawai kantoran, dan lain sebagainya. Namun, dari semua film tersebut ada satu kesamaan dalam sosok Barbie, yaitu Barbie tidak pernah bersikap maskulin.

Walaupun Barbie merupakan anggota kepolisian, femininitas Barbie tetap menonjol dalam balutan seragam kepolisian serta senjata dan borgol yang dibawa. Barbie sebagai polisi merupakan petugas yang gemar memberikan tips-tips keselamatan kepada anak-anak.

Sebagai polisi, sisi keibuan dan feminin Barbie ditunjukkan melalui interaksinya terhadap anak-anak. Barbie merupakan polisi terbaik yang tidak pernah menggunakan senjata dan borgolnya.

Namun, “femininitas” Barbie bukan tanpa cela. Digambarkan bahwa Barbie merupakan pusat dunia Barbie sendiri, segalanya tentang Barbie dan dirinya. Barbie menghabiskan waktu bersama dengan orang lain, hanya jika dia menginginkannya.

Saya tidak bermaksud menyatakan bahwa sikap demikian identik dengan laki-laki dan maskulinitasnya. Namun, kecenderungan sosial yang ada, sikap yang menjadikan diri sebagai pusat dunianya sendiri sangat tidak identik dengan gambaran umum tentang femininitas atau sikap perempuan yang “ideal”.

Barbie digambarkan tidak memiliki sifat pengorbanan diri, Barbie bukanlah perempuan yang berorientasi pada orang lain. Juga bukan perempuan yang menciptakan impian-impiannya sendiri demi sebuah pita pengantin, tas popok bayi, atau apa pun yang berhubungan dengan perkawinan dan sikap keibuan. Femininitas Barbie dengan demikian bersifat tidak konsisten atau ambigu (MFR, hlm. 29).

Barbie yang kemunculannya sudah menggeser boneka bayi sebagai mainan kesukaan anak-anak, ternyata bukanlah sosok perempuan dengan pribadi yang keibuan. Gambaran Barbie yang dekat dengan anak-anak saat bekerja sebagai polisi, terlihat seperti pemenuhan harapan masyarakat akan sosok perempuan. Namun, secara pribadi, sosok Barbie tidak menjadikan hal lain di luar dirinya sebagai pusat dunianya.

Dengan demikian Barbie diterima masyarakat karena femininitas yang lekat pada tampilan dirinya sebagai perempuan. Melalui penampilan, dan cara bersikapnya, Barbie sedang mengendalikan cara pandang setiap orang atas dirinya.

Rogers mengutip seorang sosiolog bernama Erving Goffman yang menyatakan bahwa, kita secara sadar atau tidak, bertindak sedemikian rupa sehingga dapat mengontrol bagaimana orang lain melihat diri kita. Selanjutnya Goffman menambahkan, hal tersebut berkenaan dengan tata laksana kesan yang lahir dari cara bersikap yang berpusat pada pakaian dan bahasa tubuh seseorang (MFR, hlm. 30).

Dalam hal ini, Barbie tidak pernah salah dalam menyesuaikan kesan yang ingin diberikannya. Barbie selalu tampil feminin bahkan ketika dia harus menyebrangi batas-batas yang memisahkan pengertian antara perempuan dan laki-laki (MFR, hlm. 30-31).

Pakaian dan perilaku Barbie yang sangat feminin, memastikan bahwa Barbie tidak akan pernah tampil sebagai sosok tanpa gender. Barbie seperti sedang menyatakan bahwa, perempuan tetap bisa menjadi feminin bahkan saat perempuan berada di wilayah yang didominasi oleh laki-laki.

Perhatian Barbie yang berlebihan terhadap penampilannya juga memunculkan anggapan baru. Barbie dianggap sebagai “artefak” yang memperkuat pandangan bahwa perempuan hanya berfungsi sebagai dekorasi, terlalu sadar penampilan, tidak punya otak, dan sedikit tolol (MFR, hlm. 32). Suatu anggapan yang sangat sinis terhadap sosok Barbie, dan secara tidak langsung pada perempuan.

Tidak hanya itu, Barbie sebagai boneka juga menimbulkan kengerian yang lain dengan kemampuannya dalam mendefinisikan kesempurnaan. Gambaran tentang kecantikan dan fisik yang sempurna ini telah ditanamkan pada pikiran anak-anak sejak orangtua mereka memberikan Barbie sebagai teman bermain.

Namun, femininitas Barbie sekiranya bisa menjadi titik tolak yang baik. Paling tidak, Barbie merupakan objek imajinasi anak-anak yan dipenuhi dengan citra gender (MFR, hlm. 46-47).

Setelah kita melihat pemaparan di atas, maka dapat kita katakan bahwa femininitas Barbie merupakan femininitas yang relatif luwes tanpa harus menyubordinasikan laki-laki. Tanpa kewajiban-kewajiban rumah tangga yang sering kali tidak adil, dan tanpa kewajiban-kewajiban pengasuhan.

Dengan kata lain, Barbie bukanlah simbol dari perempuan yang tertindas yang tidak mampu berbuat apa-apa. Melainkan, Barbie mengambil alih tanda-tanda subordinasi perempuan dan menjadikannya sarana menuju kesuksesan, kebahagiaan, dan keglamoran (MFR, hlm. 55).

Ini berarti, Barbie melambangkan kebebasan dan kegembiraan yang dapat dimiliki perempuan dewasa lajang jika dia memiliki sedikit keberanian dan uang. Bagi saya sendiri, hal ini terdengar seperti kebahagian yang hanya dapat diraih oleh perempuan kelas menengah atas saja. Kebahagiaan edisi terbatas yang tidak bisa dijangkau oleh perempuan dari kelas yang lebih rendah.

Meskipun femininitas Barbie dan kecantikan fisiknya merefleksikan pandangan masyarakat tentang apa yang dipahami laki-laki sebagai cantik, namun kecantikan Barbie tidak ditujukan untuk siapa-siapa, melainkan dirinya sendiri. Dengan kebebasannya, Barbie mengambil bagian dalam kedudukan istimewa laki-laki dengan menjadi individu atas dirinya sendiri dan bersumpah untuk berkorban demi sebuah aktualisasi diri.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa pada abad 21 ini, tidak semua laki-laki memiliki kedudukan istimewa seperti laki-laki yang memiliki hak-hak istimewa pada masa sebelum ini. Barbie menjadi simbol perempuan bebas yang tidak perlu menadahkan tangannya kepada laki-laki.

Dengan femininitasnya yang tegas, Barbie justru memperdaya dan memberikan dasar bagi penyimpangan sejumlah kode femininitas yang tampaknya memang ingin diungkapkan (MFR, hlm. 58-59).