Pada bagian ini saya mau mulai dengan pertanyaan lain, “Apakah Barbie sungguh-sungguh merepresentasikan perempuan dari berbagai kalangan, ras, suku, kelas, dan golongan? Apakah Barbie merupakan simbol untuk perempuan secara umum?”

Pertanyaan tersebut muncul karena Barbie merupakan simbol yang terbuka untuk berbagai pemaknaan yang kadang saling bertentangan. Pemaknaan ini juga turut memperluas wilayah makna simbol ini, dan dengan demikian juga cakupan massa (dalam hal ini perempuan) yang disimbolkan olehnya.

Boneka Barbie tidak hanya dijadikan teman bermain, tapi juga koleksi bagi para penggilanya. Beberapa kolektor Barbie cenderung memilih Barbie edisi khusus, seperti Barbie Afro-American dalam edisi “Barbie Seri Dunia.” Namun sayangnya, boneka-boneka Barbie didominasi oleh Barbie kulit putih. Seperti ada perjanjian tidak tertulis bahwa Barbie yang diterima masyarakat luas adalah Barbie versi kulit putih.

Barbie versi “kulit berwarna” dianggap sebagai yang lain, yang diperlakukan sebagai sesuatu yang berbeda atau bahkan eksotis. Bagi kolektor Barbie, hal ini disayangkan karena Barbie versi “kulit berwarna” tersebut menjadi sangat jarang ditampilkan.

Walaupun ada beberapa Barbie versi “kulit berwarna”, namun sayangnya Mattel Inc. tidak menggambarkannya secara realistis. Hampir semua Barbie versi “kulit berwarna” ditampilkan dengan menggunakan tolok ukur Barbie kulit putih (MFR, hlm. 73-74).

Kondisi demikian seolah-olah merefleksikan adanya hierarki rasial dan etnik bahwa kulit putih dipahami sebagai yang lebih tinggi dan lebih menarik daripada kulit berwarna. Barbie membawa pesan tersebut dengan sangat jelas. Boneka-boneka versi “kulit berwarna” terlihat seperti peniru Barbie.

Boneka Afro-American Barbie digambarkan memiliki kulit hitam yang terlihat seperti “Barbie kulit putih yang dicat warna hitam” dan rambut yang sangat lurus seperti rambut pirang Barbie. Mattel mengeluarkan berbagai produk Barbie Afro-American atau Barbie Hispanik untuk merefleksikan keragaman budaya yang mereka wakili (MFR, hlm. 75-76).

Namun sayangnya, hanya sedikit kesempatan untuk membentuk citra boneka-boneka tersebut sebagaimana aslinya. Barbie cenderung membuat “gayanya” sendiri dalam merepresentasikan kebudayaan-kebudayaan tersebut. Dengan demikian, Mattel terlihat seperti sedang mempromosikan pemikiran-pemikiran yang sempit dan stereotipikal mengenai beragamnya identitas rasial dan etnis (MFR, hlm. 79).

Pada tahun 1997, muncul film Barbie yang terbaru berjudul Barbie: Who’s The Boss? yang menceritakan tentang kehidupan sosial Barbie dan keponakannya Kate. Pada satu bagian cerita, diceritakan Barbie sedang menjemput Kate dan mengajaknya untuk makan siang.

Dalam adegan itu, para penonton dapat melihat keberadaan lima gadis lain di sekitar Barbie dan Kate. Salah satunya adalah gadis berkulit coklat dengan penampilan seperti gadis Afro-American yang mengenakan baju berwarna kuning cerah dan sepatu kets biru.

Empat gadis lainnya terlihat seperti gadis Asian-American atau gadis Hispanic-American dengan baju berwarna merah muda dan rambut berwarna hitam. Kate, keponakan Barbie, digambarkan sebagai juru bicara Everyone Plays Club dengan rambut pirang yang dikuncir kuda dan mata biru besar seperti Barbie, dan tentunya berkulit putih.

Dalam adegan itu, muncul seorang gadis yang mengganggu kesenangan kelima gadis di sekitar Barbie dan Kate dengan cara memerintah mereka untuk melakukan ini dan itu. Kelima gadis yang tidak terima kesenangannya diganggu memberikan perlawanan sehingga menimbulkan keributan kecil di antara mereka.

Pada akhir cerita, ditunjukkan bahwa Barbie mampu menyelesaikan masalah dengan menyarankan agar gadis-gadis itu menuliskan keinginan mereka pada secarik kertas lalu meletakkan kertas itu dalam sebuah topi—dalam adegan itu, Kate digambarkan memakai topi baseball—dan mengambilnya kembali, secara acak.

Melalui potongan adegan itu, digambarkan bahwa Barbie mampu menyelesaikan masalah dengan baik. Adegan tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa kulit putih mampu mendominasi, baik secara kualitas maupun kuantitas. Jika melihat keseluruhan karakter, mayoritas karakter adalah kulit putih dan hanya lima gadis di restoran itu saja yang bukan kulit putih.

Sekalipun Barbie bersifat multikultural, namun Barbie tetap mencerminkan gambaran perempuan kulit putih. Hal ini yang membuat sifat multikultural Barbie menjadi terlihat tidak konsisten (MFR, hlm. 82). Rogers, mengutip M.G Lord, menyatakan bahwa Barbie hadir untuk mewakili pandangan perempuan yang menentang batas-batas nasionalitas, etnik, dan regional.

Hal ini disebabkan oleh tolok ukur yang digunakan adalah Barbie berkulit putih, tanpa mengindahkan keragaman perempuan dari berbagai etnis dan ras. Bahkan diyakini bahwa Barbie—yang berkulit putih itu—mampu menjadi kulit hitam dengan menggunakan identitas kulit putihnya (MFR, hlm. 83).

*****

Barbie muncul pertama kali di pasaran pada 1959, tidak lama setelah gerakan perjuangan hak-hak asasi manusia ras Afro-American mendapat kemenangan pertama. Empat tahun setelah kemunculan Barbie di pasaran Amerika, tepatnya pada 1963, gerakan feminisme gelombang kedua pun lahir. Dalam ranah budaya yang seperti inilah Barbie melangkah.

Barbie adalah seorang perempuan kulit putih, berpenghasilan menengah, pekerja kantoran, dewasa muda yang tengah menyatakan banyak hal tentang apa yang sedang terjadi dalam masyarakat Amerika saat itu. Barbie merefleksikan seberapa jauh persoalan gender, ras, dan berbagai realitas sosial lainnya ada dalam pikiran kebanyakan orang selama tahun 1950-1960-an.

Secara disengaja atau tidak, citra Barbie yang selalu muda (dewasa muda) dan tidak pernah tua mementahkan persoalan diskriminasi karena usia (ageism) yang menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh feminis multikultural.

Diskriminasi karena usia ini berhubungan dengan pembentukan jati diri yang menjelaskan krisis identitas dalam hidup seseorang. Lihat Rosemarie Putnam-Tong, Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction, (USA: West Views Press, 2009), hlm. 201-202.

Walaupun demikian, Barbie yang muncul tidak lama sebelum pergerakan feminis gelombang kedua muncul, mendapatkan pengaruhnya. Barbie lebih sering menampilkan dirinya sebagai perempuan kulit putih, kelas menengah, dengan kualitas melebihi ras lain. Seolah-olah melupakan aspek kultural yang membentuk pribadi setiap perempuan, sehingga menjadi demikian berbeda antara yang satu dengan yang lain.

Sebelum terlalu jauh, saya akan ambil satu contoh kasus. Salah satu distributor boneka ini adalah Wal-Mart yang menjual Barbie kulit putih seharga US$5.99, sedangkan untuk Barbie berkulit hitam seharga US$2.99. Hal ini dilakukan secara sengaja karena penjualan Barbie kulit hitam tidak setinggi penjualan Barbie kulit putih.

Hal ini kemudian menimbulkan protes dari pihak perempuan Afro-American karena dianggap sebagai bentuk pelecehan. Di samping itu, pada foto di kotak boneka edisi Barbie-Teresa digambarkan, Barbie berada di depan Teresa si boneka Hispanik dan secara simbolis Barbie terlihat lebih mengungguli Teresa.

Jika dikaitkan dengan kajian feminis multikulturalis dalam menghadapi permasalah perempuan dari berbagai ras yang berbeda, akan diketahui bahwa masalah berasal dari tekanan yang diberikan secara sistematis kepada perempuan-perempuan bukan kulit putih. Tekanan yang mereka alami terbagi dalam tiga bagian yang saling berkaitan.

Pertama dalam bidang ekonomi, terutama pada pembedaan lingkup bidang pekerjaan. Dalam bukunya yang telah disebutkan di atas, Putnam-Tong menggunakan kata Ghettoization yang berarti cara hidup dan cara bekerja yang dipisah-pisahkan yang dihasilkan oleh stereotip tertentu atau dari paham-paham yang bias.

Kedua dalam bidang politik, penolakan atas hak-hak dan keistimewaan untuk perempuan Afro-American sebagaimana yang bisa dirasakan oleh laki-laki dan perempuan kulit putih, terutama soal hak mendapatkan pendidikan.

Tekanan ketiga dalam bidang ideologi, yang menurut Putnam-Tong, membatasi kebebasan perempuan kulit hitam melalui pencitraan tertentu terhadap perempuan kulit hitam, yang dapat digunakan sebagai pembenaran atas sikap (tidak menyenangkan) laki-laki dan perempuan kulit putih atas mereka.

Jika boleh saya membandingkan kasus yang dipaparkan oleh Rogers dengan teori Putnam-Tong, ada kesan bahwa diskriminasi terhadap perempuan kulit berwarna, datang dari hierarki rasial tertentu yang diterima begitu saja oleh masyarakat. Citra Barbie kulit putih yang terlihat lebih segar, lebih bersih, dan lebih anggun, diterima begitu saja oleh konsumen Barbie.

Jika masalah hierarki rasial pada kehidupan nyata berbentuk pembatasan kebebasan, maka hierarki rasial dalam dunia Barbie terlihat dalam “teman-teman Barbie.” Boneka-boneka kulit berwarna yang tidak pernah digambarkan mengungguli Barbie.

Peran boneka-boneka kulit berwarna tersebut tidak lain sebagai perantara kesuksesan Barbie (MFR, hlm. 81). Tidak ada boneka kulit berwarna yang dapat menggantikan posisi Barbie, mereka hanya bisa berada di posisi sebagai teman Barbie.

Namun, terlepas dari itu semua, sebagai simbol perempuan yang menentang batas-batas kebudayaan, Barbie merupakan simbol yang tepat karena Barbie tidak terpengaruh dengan kebudayaan patriarkat yang terkesan membatasi perempuan dan femininitasnya. Hal ini dapat dilihat melalui berbagai film Barbie yang tidak pernah menggambarkan bahwa Barbie menjadikan orang lain, terutama laki-laki, di titik pusat kehidupan pribadinya.