Historisitas Islam Awal dalam Sudut Pandang Revisionis

Jika selama ini kita secara umum sering menerima sejarah Islam awal dari sumber tradisional secara taken for granted, maka dalam kesempatan ini mari bersama-sama mendiskusikan sejarah Islam awal dari perspektif berbeda. Yaitu, melalui pendekatan yang dilakukan oleh kelompok revisionis. 

Kita terkadang atau terlampau sering untuk tidak bersikap kritis atau tidak peduli sejauhmana informasi yang tersaji tersebut benar-benar akurat secara historis. Hal ini berbanding terbalik dengan mereka yang menerapkan kaidah penelitian sejarah. Mereka tampak lebih hati-hati dalam menggunakan sumber tradisional untuk menelusuri jejak sejarah Islam awal.

Perbedaan pendekatan ini menyebabkan kemunculan teori-teori beragam tentang sejarah Islam awal. Dapat dilihat nanti bahwa perbedaan pendekatan menimbulkan distingsi antara kesarjanaan tradisionalis dan revisionis dan hal ini harus dianggap sebagai konsekuensi logis, bukan sebagai bentuk dari sentimen ideologi atau mungkin agama. 

Dengan demikian, adanya perbedaan signifikan antara kedua kesarjanaan itu tentang soal kapan Islam sebagai agama, doktrin dan peradaban mulai mengkristal harus dimengerti dan dipahami secara jujur, adil dan terbuka.

Secara garis besar, dari pendekatan tradisional dapat diidentifikasi tiga bentuk, karakter atau watak Islam awal. Pertama, lokasi ke-Arab-an kemunculan Islam. Setiap kitab sejarah Islam selalu diawali dengan kondisi Arab pra-Islam yang memiliki tradisi paganisme yang kuat di Mekkah, sehingga memunculkan pendapat bahwa Islam adalah rahmat di tengah budaya barbar Arab. 

Selain itu, budaya Arab pra-Islam juga digambarkan seolah terisolasi dari peradaban Kristen Romawi atau Sasanian Persia. Islam dipotret muncul di Mekkah secara tersendiri dan kemudian tersebar melalui ekspansi-ekspansi. Alquran sebagai kitab suci Islam diwahyukan berbahasa Arab dan banyak merespons isu yang terjadi dalam setting budaya Arab. 

Kedua, pencitraan Islam sebagai ajaran tauhid yang terpisah dari ajaran-ajaran tauhid lain. Pendekatan tradisional berhasil menunjukkan bahwa Islam tidak menjadi bagian integral dari tradisi monoteisme sebelumnya, Yahudi dan Kristen, meskipun sama-sama berasal dari millah Ibrahim. Dalam hal ini, muncul imajinasi bahwa Nabi Muhammad digambarkan sebagai utusan Allah untuk memurnikan dan mereformasi millah Ibrahim yang hanif, yang telah diselewengkan oleh kaum pagan Arab. 

Ketiga, Islam sudah final dan sempurna sejak masa Nabi Muhammad. Singkat kata, Islam dalam pendekatan tradisional dipahami dalam konteks penolakan, adaptasi atau penerimaan atas sejumlah peristiwa yang terjadi saat itu.

Sementara itu, pendapat kalangan revisionis radikal begitu berseberangan dengan pendapat tradisionalis. Kalangan revisionis radikal ini dapat diwakili oleh Patricia Crone, Michael Cook, Yehuda Nevo, Judith Koren dan Paguyuban Inarah. Kelompok ini menguraikan sejarah Islam awal dengan memakai sumber-sumber dari luar tradisi Islam, baik berupa papyrus, data arkeologis, numismatik maupun syriac sources. 

Secara singkat, terdapat kesamaan Islam awal menurut para sarjana revisionis radikal. Hal itu dapat diidentifikasikan sebagai (1) lokasi muncul di luar Hijaz. Crone dan Cook berpendapat bahwa Islam muncul di suatu daerah sebelah utara Hijaz. 

Nevo dan Koren berkesimpulan bahwa proses kemunculan Islam berada di daerah Syam atau Suriah sekarang. Paguyuban Inarah beda lagi dengan menyatakan bahwa cikal bakal Islam muncul di daerah Irak. 

(2) Islam merupakan ajaran yang muncul secara gradual dari ajaran sebelumnya dan belum memiliki bentuk final dan sempurna. Menurut Crone dan Cook, Islam berawal dari sebuah gerakan Yahudi Mesianis (Messianic Movement) yang bersifat monoteistik. 

Nevo dan Koren tidak cukup jelas mengenai hal ini, tetapi menurut mereka cikal bakal Islam adalah intedeterminate monotheism, sedangkan Inarah merujuk pada bentuk Kristen tertentu di Suriah. Meskipun berbeda antara satu dengan yang lain, mereka sependapat bahwa proses finalisasi bentuk Islam awal lebih kompleks dari yang dibayangkan.

(3) Figur-figur penting dianggap fiktif. Hal ini tampak seperti Crone dan Cook yang menghapus Abu Bakar sebagai suksesi Nabi Muhammad, Nevo dan Koren serta Inarah menyimpulkan bahwa Muhammad adalah kata sifat bukan proper name dan Khulafa Rasyidun hanya sekedar mitos, bedanya, menurut Inarah kata Muhammad berubah dari kata sifat menjadi proper name beberapa tahun setelahnya.

Jika uraian mengenai Islam awal menurut tradisionalis dan revisionis radikal sangat kontradiktif, ada satu lagi tipologi kelompok yang disebut revisionis moderat. Kelompok terakhir ini lebih berusaha adil dengan menggunakan sumber tradisional Islam dan sumber di luar tradisi Islam. Kelompok ini dapat diwakili oleh Guru Besar University of Chicago, Fred Donner.

Secara serba singkat, dapat dijelaskan bahwa kelompok revisionis moderat melihat Islam awal berkembang secara gradual layaknya kemunculan agama-agama yang lain. Tesis utama yang ia ajukan adalah bahwa Islam awal bukan merupakan identitas konfesional seperti tampak sekarang, tetapi lebih kepada komunitas kaum beriman (community of believers) yang belum terpisah dari komunitas keagamaan yang lebih awal dan mapan, seperti Yahudi dan Kristen. 

Menurutnya, ada pergeseran identitas dari “mukmin” menjadi “muslim”. Perlu dicatat bahwa kata “muslim” hanya muncul sekitar 75 kali dalam al-Quran, sedangkan kata “mukmin” muncul di hampir seribu tempat.

Perbedaan signifikan penyebutan muslim dan mukmin dalam al-Quran, menurut Donner menunjukkan bahwa perhatian al-Quran adalah untuk membangun komunitas kaum beriman. Monoteisme merupakan keyakinan kunci dan mendasar bagi komunitas yang dirintis oleh Muhammad itu. 

Dan kesamaan prinsip komunitas beriman terdiri atas tiga hal, iman kepada satu Tuhan, iman kepada hari akhir dan beramal salih. Dengan demikian, Islam awal merupakan komunitas kaum beriman yang melandaskan diri pada ajaran yang inklusif dan ekumenis, sehingga tidak memisahkannya dengan komunitas kaum beriman lain (Yahudi dan Kristen).

Dalam memperkuat argumennya, Donner tidak saja mengambil sumber-sumber dari luar tradisi tradisional Islam, melainkan pula mengambilnya dari sumber-sumber tradisional Islam, seperti al-Quran, Piagam Madinah dan kitab-kitab sirah atau sejarah Islam. Dari sumber-sumber tersebut Donner berpandangan bahwa Islam awal memiliki hubungan “cair” dengan kelompok beriman Yahudi dan Kristen. Setidaknya identitas tersebut bertahan sampai pada masa awal kekuasaan Dinasti Umawiyah. 

Diyakini olehnya pada masa Abdul Malik bin Marwan Islam perlahan-lahan mulai bergeser dan memisahkan diri dari komunitas beriman lainnya. Hal ini tidak terlepas dari usaha Abdul Malik bin Marwan dalam mengupayakan unifikasi kekuasaan dan ini terjadi tidak dalam waktu yang singkat, tetapi melalui proses yang cukup kompleks. Proses pergeseran ini juga disertai tidak hanya oleh unsur teologis semata, namun oleh unsur apokaliptik dan tentu saja politik.

Berdasarkan berbagai teori kemunculan Islam awal yang telah diperlihatkan di atas walaupun serba singkat, menunjukkan betapa kesarjanaan modern tentang Islam dewasa ini sedang berada dalam masa-masa menggairahkan. 

Hal yang membuat kajian Islam menarik di dunia akademik Barat adalah disebabkan oleh munculnya berbagai macam teori yang mana setiap pengusung saling berdebat menguji analisis mereka. Keadaan ini mengingatkan kita pada masa “kejayaan Islam” yang mana banyak didokumentasikan para ilmuwan Islam saling berdebat satu sama lain mengenai suatu persoalan. Bahkan, tidak sedikit yang juga berani mendebat pandangan dari luar Islam.

Pada masa sekarang, banyak anggapan tentang Barat, budaya Barat dan para peneliti Barat berniat jahat dan hendak menghancurkan Timur (Islam). Ini adalah salah kaprah yang begitu besar. Karena anggapan semacam ini berbau traumatik sejarah, sehingga memunculkan sisi sentimental Timur (umat Islam). 

Anggapan ini semakin melembaga dalam tradisi-tradisi yang diwariskan turun-temurun disebabkan pengkajian Islam secara kritis oleh peneliti Barat. Hal ini memunculkan reaksi menolak, membenci dan mengkritisi tanpa mengakomodasi dan mengakui kontribusinya. Jika sudah sedemikian rupa adanya, akan menghambat perkembangan peradaban serta mengarah pada radikalisme dan fundamentalisme yang justru tampak lebih seperti utopia dan ilusi semata. 

Lalu, bagaimana sikap kita seharusnya? Mengapa Timur (Islam) terhambat laju peradabannya? Sejauhmana kesadaran kita akan pentingnya kemajuan peradaban yang ditopang oleh sikap keterbukaan intelektual?