Lama sekali rasanya tidak menulis opini tentang politik yang tengah berlangsung. Padahal sedang sangat panas dan menarik. Seperti yang sudah ramai diperbincangkan, Ahok telah divonis dua tahun kurungan penjara. Hal ini menuai berbagai reaksi, sudah pasti. 

Dari yang mengaitkan ketidakrelevanan hukuman yang berikan oleh Majelis Hakim dengan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum, kemudian yang merasa bersyukur—bahkan ada yang masih merasa kurang—atas vonis yang ahok terima, bahkan sampai yang mengaitkan dengan jasa yang telah diberikan oleh Ahok kepada kota ini.

Meskipun saya pengagum Ahok, namun rasanya memang kurang relevan mengaitkan jasa beliau dengan vonis yang beliau terima. Maksud saya adalah, kedua hal tersebut memiliki variabel yang berbeda. Saya tidak pernah menganulir jasa-jasa beliau, meski vonis telah membuatnya berstatus narapidana.

Belum lagi soal sikap Ahok ketika di pengadilan terhadap Maruf Amin, ketua MUI, yang saya pribadi nilai tidak pantas. Maksud saya, ayolah tanpa menaikkan nada bicaranya pun Ahok akan tetap tampak benar di hadapan pendukung dan salah di hadapan penghinanya. Pada bagian itu dalam perjalanan panjang kasus ini, saya menentang Ahok. Saya tidak suka.

Tetapi tak membuat saya membencinya. Saya tidak bisa mencintai Ahok apa adanya, bukan? Demi sebuah kemajuan. Seperti halnya Ahok tak bisa mencintai kota ini apa adanya, harus ada yang dibentuk, harus ada yang diubah, harus ada yang dididik. Infrasuktur tanpa budaya dari sumber dayanya, saya pikir, tak akan berjalan baik.

Entah bagaimana, saat vonis itu dijatuhkan, saya tidak bersedih atas nama Ahok. Saya pikir, penjara hanya membuatnya semakin kuat dan baik. Saya justru bersedih atas nama airmata orang-orang kecil yang merasakan hangatnya aturan-aturan yang Ahok perjuangkan.

ART lama kami, menangis saat Ahok ditetapkan sebagai tersangka. Ia bisa membeli daging, chicken nugget, sebulan sekali. Tak lagi pusing bagaimana membeli topi, dasi, buku, pensil, pulpen. Saat sakit, tak lagi enggan beranjak karena dalih tak punya uang untuk berobat.

Saya menangis karena memikirkan akan bagaimana jika ditinggal oleh Bapak? Iya, Bapak. Bagaimana nasib kami jika ditinggal Bapak? Apakah para Pasukan warna-warni itu akan menerima gajinya tepat waktu? Apakah utuh seperti bulan-bulan manis yang Bapak isi? Apakah KJP adik-adik tetap bisa gesek sementara Bapak di balik jeruji sana?

Bapak, bagaimana kami tanpamu?

Saya pikir pembandingan kasus korupsi yang tak kunjung selesai dengan kasus penistaan agama yang Ahok jalani tak begitu arif. Kasus korupsi itu besar, butuh ketelitian, agar yang bersalah bisa ditangkap dan yang tidak bersalah tak kena getah.

Justru, seharusnya kasus penistaan dibandingkan dengan kasus penistaan agama lainnya. Tidak perlu saya sebutkan, pasti Kawan-kawan sudah hafal betul.

Jika masih merasa tidak menista, maka saya katakan berarti kebenaran dan kesalahan itu tidak selalu mutlak.

Semuanya relatif, tergantung skala apa yang kita gunakan. Bahkan suhu saja bisa berbeda angkanya jika menggunakan skala yang berbeda.

Mengatakan Tuhan tidak beranak itu benar, jika diukur dari skala Islam. Tetapi salah jika diukur dari skala Kristen.

Seandainya saja kita mau lebih mendengarkan, lebih memahami. Mencoba lebih peka. Diam saat yang lain berbicara bukan dalam rangka menunggu giliran bicara, melainkan sedang mencoba memahami.

Ada yang menggelitik ketika seorang teman mengatakan hal ini, “Aduh saya hari ini menjelma menjadi Ahok, emosian.” Hahahahaha. Luar biasa, dari sebegitu banyaknya yang bisa dijadikan contoh dari apa yang Ahok lakukan, tetapi ia memilih yang satu itu.

Oh saya paham, ia sadar bahwa dirinya tidaklah sedikit pun mendekati apa yang Ahok lakukan. Sejengkal pun tidak. Bisa diterima.

Belum lagi soal karangan bunga yang masih dicurigai sebagai karangan. Oh ya ampun sebegitu sulitnyakah kalian mencari keburukan Ahok sampai-sampai meyakini kalau Ahok mengirimi dirinya sendiri dengan bunga? Hahaha yang benar saja, Teman! Dengan mengirimkan bunga, doa, dukungan, bukan berarti pendukung Ahok tidak menerima kekalahan. Mengapa rasanya sulit sekali menerima sikap terima kasih kami kepada Ahok? Mengapa rasanya buruk sekali sikap kami yang ingin menyatakan rasa terima kasih, rasa syukur, rasa sedih kepada Ahok? Mengapa rasanya salah sekali sikap kami yang ingin terus mendukung Ahok menjadi Negarawan di Negeri ini? Mengapa, Kawan?

Kami tak meminta kalian memuji Ahok. Hanya tolong, jangan larang kami mencintainya. Ahok meminta kita semua menghormati putusan pengadilan. Saya bisa terima. Tetapi jika kasus penistaan lainnya tidak lekas diusut, ini yang tidak bisa saya terima. Jika tak lekas, maka hal ini menunjukkan bahwa Ahok masuk ke jeruji sebagai martir.

Dua tahun akan lekas berlalu. Jeruji justru akan membuat Ahok semakin kuat dan baik. Saya tidak khawatir. Tetapi apa yang ia tinggalkan di luar sinilah yang mengkhawatirkan.

Sudah berapa banyak yang akhirnya menjadi apatis dan makin apatis pada politik? Pada hukum di Negeri ini? Seperti yang telah saya sebut sebelumnya, barangkali di sudut kota ada yang tengah memikirkan bagaimana jika gajinya kembali telat dan menciut saat Bapak dikurung? Bagaimana jika sakit dan ingin berobat? Bagaimana membeli alat tulis si anak selama Bapak di dalam kurungan? Ah, Kawan, toh Bapak hanya menjabat hingga Oktober. Tetapi, Bapak sudah pikirkan banyak hal. Bapak sudah jaga kita.

Semoga Gubernur selanjutnya amanah dan tidak bandel. Seperti yang Bapak bilang, “Tunjukkan bahwa ini bukan tentang Ahok, tetapi tentang kita bersama.”

Atau, memang ini semua tentang Ahok. Tentang apa yang ia telah perbuat, tentang apa yang telah ia berikan, tentang apa yang telah ia dapatkan, tentang apa yang tengah ia wariskan.

Tentang siapa si Cina dan Kafir itu.