Aku satu-satunya gelandangan yang tidak pernah 
meminta
kecuali satu: kesederhanaan cintamu yang utuh 
dalam puisiku yang rapuh.

(Petikan puisi Gelandangan, karya Radya Putra)

Du und der Du neben Dir—‘Kamu, dan Kamu yang di samping Kamu’. (Dari sebuah poster di Gereja Evangelis Berlin)


Kasihan Sekali Orang-orang Majenun Itu

Orang-orang yang dihinggapi perasaan cinta acapkali menjadi gila. Maulana Hakim Nizhami menuliskan kisah sepasang orang yang dirasuki rasa cinta dalam kisah Laila Majnun, begitu juga Fariduddin Attar yang menjadikan alegori dan buku sebagai sarana mengungkapkan rasa kasih dalam kisah Musyawarah Burung.

Para sufi, seperti Jalaluddin Rumi yang seringkali dikira gila, hilang akal, mabuk, mengungkapkan kecintaannya melalui syair-syair religius. Begitu pun Omar Khayam. Saya jadi bertanya sendiri, apakah betul segala ujaran kebencian menjelang Pilkada dan Pemilu ini adalah ungkapan tulus hati sebab rasa cinta yang mendalam.

Para ulama terdahulu telah memberi contoh seperti apa cara mengungkapkan rasa cinta. Jika Rumi, Nizhami, Attar, Omar Khayam dan Syekh Abdul Qadir Jailani hidup di era kini, saya rasa akan banyak ujaran rasa cinta kasih di media sosial.

Satu minggu lalu saya diberi nomor ponsel beberapa dosen oleh pihak lembaga di kampus saya, sebab beberapa kali saya ke kampus dosen penguji proposal skripsi saya belum juga bisa saya temui.

Teman-teman saya pun menyarankan agar saya berkunjung ke rumah bapak dosen yang juga seorang ustad, tentu tak ada niat buruk dalam diri saya selain hendak meminta tanda tangan beliau di berkas lembar pengesahan proposal skripsi.

Tetapi saya berpikir ulang saat menyimak beberapa kiriman di grup WA dan di media sosial facebook yang bernada peringatan, seolah keadaan benar-benar sedang gawat. Betul, ujaran kebencian menimbulkan rasa takut dan kewaspaan.

Kata-kata provokatif kian marak saya baca. Orang gila menjadi kambing hitam, seruan siaga terhadap salah satu partai yang dilarang pada masa orba, hingga seruan viralkan, waspadalah, tangkap.

Isu-isu kebangkitan PKI kian dimobilisasi, orang gila yang menggelandang di jalan dicurigai, bahkan dipukuli. Ironisnya, postingan tersebut ada yang disebarkan oleh pengajar dan kader salah satu partai, beberapa postingan malah berisi kampanye agar mencoblos partai tertentu.

Akun yang menyebarkan berita hoaks biasanya tidak jelas profilnya, tidak ada foto asli dan keterangan berisi identitas serta aktivitas sehari-hari yang selalu ada pada akun di media sosial.

Saya yang hendak berjumpa dengan dosen pun jadi berpikir dulu untuk bertemu para dosen. Juga untuk jalan-jalan di tengah kota. Terlebih setelah menyimak komentar-komentar kasar dan mengancam di postingan akun penyebar kebencian.

Tahun politik memang tahun yang penuh dengan kegaduhan, para majenun di jalanan dengan mudah menjadi kambing hitam setelah berita mengenai penganiayaan ulama tersebar dan polisi menerangkan bahwa pelakunya adalah orang gila.

Status-status mengenai hal tersebut bermunculan. Foto-foto berdarah bertebaran dengan caption-caption mengerikan. Isu SARA memang laris manis jadi bahan jualan politik. Situs internet yang biasa menyebarkan ujaran kebencian telah diblokir meski ada beberapa yang masih bisa diakses.

Pelajar dan Indonesia yang Beragam

Saat saya bertanya mengenai sosok idola pada anak sekolah, banyak yang menyebut  nama habib yang lama nian tidak pulang ke Indonesia. Tidak mengherankan ada salah seorang anak didik bertanya saat saya menceritakan kisah sukses Steve jobs dan The Beatles, bertanya, apakah mereka orang Islam?

Kian banyak saya lihat anak-anak sekolah membagikan berita-berita bernada ujaran kebencian, padahal jika sudah terbiasa dengan budaya membaca dan melek terhadap literasi media, kita bisa dengan mudah mengetahui hal tersebut betul fakta atau sekadar sensasi dan teror saja.

Ada ungkapan yang masih saya ingat dari buku karya Antoine De Saint - Exupery, diucapkan seekor rubah pada Pangeran Cilik yang telah berupaya dan berhasil menjinakkan dirinya: hanya dengan hati kita bisa melihat dengan baik, yang terpenting tidak tampak di mata.

Bahkan sosok pangeran, meski masih cilik, pun berusaha berkawan dengan seekor rubah yang dikenal gemar makan daging, ayam dan ikan. Kisah pangeran Cilik hampir sama dengan cerita salah seorang anak didik saya yang memutuskan belajar di salah satu sekolah Kristen di kota tempat saya tinggal setelah lulus SMP.

Seseorang yang asing akan tetap jadi orang lain jika kita tidak mau mengenalnya. Tidak ada masalah bagi anak didik saya yang muslim namun belajar di sekolah Kristen, bagi keluarga dan teman-teman di sekolah barunya. Yang protes justru teman-teman lama anak didik saya tersebut.

Saya membaca komentar-komentar di bawah foto yang diunggah anak didik saya ke media sosial, foto yang tengah memakai seragam sekolah lengkap dengan simbol-simbol Kristiani menempel di seragamnya. Komentar bernada mengkhawatirkan dan mengarah ke bullying.

Saya pernah tinggal di rumah nenek saya, di sebuah gang yang mirip dengan Indonesia. Di samping kanan rumah nenek saya tinggal keluarga Tionghoa, sering memberi kue keranjang saat Imlek, di seberang rumah adalah keluarga Batak, tiap minggu sering mengadakan kebaktian, di sebelah kiri tinggal keluarga keturunan Jawa.

Di kehidupan nyata ternyata banyak keindahan yang bisa dimaknai sebagai sesuatu yang patut disyukuri. Sering-sering piknik, maka akan kita dapati lebih banyak lagi kebahagiaan. Ujaran kebencian di media sosial tentu berpotensi memecah belah kita, sebab tidak mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Kalau saja semua pengguna media sosial bisa mencontoh sikap hidup para petani di Kasepuhan Ciptagelar Sukabumi, atau kisah para ulama dan sufi pada masa silam, bahwa hanya benih yang baik yang mesti disebar ditanam.