Sekitar tahun 2003, akhirnya saya memutuskan menjadi seorang pekerja sosial di sebuah Non Government Organization (NGO). Sejatinya, menjadi pekerja sosial itu adalah sebuah panggilan. Kalau bukan karena panggilan atau didasari rasa kemanusiaan dan empati, maka besar kemungkinan aktivitas tersebut tidak dinikmati. Saban hari yang terjadi adalah menggerutu.

Jangan bicara karir apalagi gaji besar seperti pada perusahaan bonafit. Bisa-bisa ketulusan hati melayani orang lain atau masyarakat yang sedang berkesusahan luntur oleh kenikmatan mengejar materi dan tangga-tangga kesuksesan.

Kalau pun mendapatkan sesuatu yang lebih, seperti gaji dan fasilitas, jangan pernah menjadikannya sebagai tujuan. Bisa-bisa niat untuk melayani dan menjalankan panggilan berubah arah.

Begitu juga dengan di NGO tempatku bernaung waktu itu. NGO yang bergerak di bidang pendidikan itu, ternyata tidak menawarkan gaji yang sesuai harapan dan tidak ada memiliki kesempatan berkarir. Wajar saja, project NGO ini hanya bersifat sementara (temporary). Hadir tahun 1998 dan berakhir 2005.

Sesungguhnya hanya karena hati dan cinta yang menjadikan dorongan kuat untuk menjalani panggilan untuk lebih peduli kemanusiaan. Karena dasarnya Tuhan telah mengasihi kita umatnya, maka kita pun wajib untuk memberikan kasih kepada sesama.

Kalau Bunda Teresa pernah berkata “Mari kita menolong mereka yang sekarat, mereka yang miskin, mereka yang sendirian dan mereka yang tidak diinginkan sesuai dengan anugerah yang telah kita terima serta jangan biarkan kita malu dan berlambat-lambat untuk melakukan pekerjaan yang rendah hati.” Maka itu sedang mempertegas, berbuatlah bagi sesama.

Dengan dasar cinta dan hati yang peduli itu, maka bagaimana pun keadaan aktivitas kemanusiaan yang sedang kita jalani, tetap tidak akan ada kata mundur dan penyesalan. Mengapa saya katakan demikian? Karena ketika kita bekerja sebagai pekerja sosial, tidak selamanya ekspektasi kita sesuai kenyataan di lapangan.

Adakalanya kita sudah mengulurkan tangan dan memberi bantuan, tapi belum tentu ada sambutan dari orang atau masyarakat yang sedang kita bantu. Uniknya, ada saja yang bersikap curiga ketika kita ingin memberikan bantuan tersebut. Itu hanyalah segelintir bentuk dari penolakan yang diterima dan hadapi di lapangan.

Sebelum terjun di dunia kerja sosial, tidak pernah terbersit dalam pikiran, bahwa ketika menawarkan bantuan yang benar-benar dilakukan dengan tulus, tanpa embel-embel dan maksud di baliknya, dapat diterima dengan baik, rasa syukur dan sebagai wujud persaudaraan. Nyatanya di lapangan saya pun pernah mengalami penolakan.

Pertama, saya pernah di tolak oleh orang yang berpengaruh di wilayah kerja. Usut punya usut, ternyata tokoh masyarakat tersebut beranggapan bahwa kehadiran NGO dapat menimbulkan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap dirinya.

Paradoks memang. Saat masyarakat benar-benar membutuhkan bantuan, ada saja yang menghalanginya hanya karena ingin mempertahankan kepentingan pribadinya atau ketakutan kehilangan pamor dari masyarakat yang menghargainya selama ini. Sementara, masyarakat tahu bahwa di daerah tersebut sangat kesulitan untuk melanjutkan pendidikan anak mereka.

Kedua, bentuk penolakan yang langsung dari penerima bantuan. Sempat dibikin pusing oleh seorang anak asuh (beneficiary) yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Anak yang satu ini ternyata lebih memilih kegiatan mengamen di jalanan daripada duduk bersekolah.

Padahal NGO tempat saya bernaung tulus mendukung keluarganya yang kesulitan keuangan pasca krisis moneter 1998. NGO ingin bukan hanya mendukung membayar uang pendidikan, tapi lengkap dengan seragam sekolah seperti sepatu, kaos kaki, dan buku-buku secara gratis. Anak itu hanya tergiur urusan jangka pendek, selesai mengamen, maka dia akan dapat uang.

Nah, berikut adalah bentuk penolakan yang ketiga. Kali ini bukan datang dari masyarakat dan beneficiaries. Ternyata langsung dari pihak stakeholder yang kita gandeng sejak awal, seperti sekolah tempat beneficiaries menimba ilmu. Ada sekolah yang menganggap keberadaan NGO hanya merepotkan mereka saja.

Kadang berpikir, mungkinkah karena kerjasama tidak didasari dengan profit langsung bagi mereka? Mengingat NGO ini memiliki aturan bahwa membangun kerjasama tidak harus di dasari oleh "amplop". Karena dari pihak NGO sendiri punya value untuk bergandeng tangan dengan stakeholder untuk mendukung beneficiaries dengan tulus.

Jadi, ternyata tantangan dari pekerja sosial itu salah satunya adalah penolakan. Suatu hal yang baik yang kita lakukan ternyata belum tentu mendapat respon yang baik pula.

Dalam sebuah buku "Do No Harm" yang ditulis oleh Mery B. Anderson disampaikan bahwa bantuan kemanusiaan tersebut ternyata bisa menyokong perdamaian tapi juga dapat menimbulkan konflik atau perang.

Buku ini juga telah berhasil mengajak banyak NGO atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk secara kritis mengkaji ulang berbagai program sosial-kemanusiaan yang dilakukan oleh berbagai negara dan pada berbagai situasi.

Dalam buku tersebut dikatakan juga bahwa LSM dengan program layanan sosial-kemanusiaan tidak dapat mengandalkan pada ketulusan hati saja. Bantuan kemanusiaan tersebut ternyata harus dilandaskan pada pemahaman mendalam dan kritis tentang permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat yang akan dibantu.

Tanpa pemahaman akar permasalahan, bantuan yang diberikan justru dapat menjadi kontra-produktif dan bahkan menimbulkan dampak negatif.

Jadi, menurut hemat penulis, berkaitan dengan kasus-kasus penolakan bantuan kemanusiaan. Alangkah lebih baik dilakukan evaluasi dan kajian mendalam. Mungkin perlu juga dilakukan penelitian ulang untuk memahami pokok persoalan. Baik melalui observasi, wawancara ataupun kuesioner.

Barangkali dari hasil evaluasi dan kajian tersebut dapat dilakukan penataan ulang program bantuan tersebut. Atau bisa saja melanjutkan program yang sudah ada tetapi dipikirkan cara atau pendekatan yang lain.

Tentunya dengan memperhatikan berbagai kepentingan. Sebab program bantuan kemanusiaan sesungguhnya harus menjadi sesuatu yang dapat mendatangkan kedamaian dan ketenangan kepada berbagai pihak. Bukan sebaliknya.

Kemudian untuk program kemanusiaan yang belum berlangsung dan yang sedang direncanakan untuk mulai dijalankan, setidaknya pertanyaan berikut dapat dijadikan acuan dan bahan pemikiran.

Apakah program bantuan kemanusiaan ini menjadi sesuatu yang berguna untuk mendidik penerima bantuan tersebut? Apakah bantuan tersebut harus diberikan dalam bentuk "ikan" atau "pancing"? Apakah bantuan ini adalah kebutuhan orang atau masyarakat tersebut? Apakah bantuan ini merupakan sesuatu yang penting atau genting berdasarkan skala prioritas?

Kepada siapa saja bantuan ini akan diberikan? Dengan siapa saja akan bekerjasama? Tentu masih banyak pertanyaan lain yang dapat digali.

Dengan demikian, jikalau sudah melakukan kajian dan perencanaan yang matang, maka kehadiran bantuan kemanusiaan pun akan menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat. Setidaknya jangan menambah masalah baru dengan dalih bantuan kemanusiaan. Apalagi menjadikan bantuan kemanusiaan sebagai komoditas yang mendatangkan keuntungan pribadi.

Berharap dengan bantuan kemanusiaan bukan semata menyelamatkan orang atau masyarakat tetapi justru harus mengurangi atau bahkan menghindari ketegangan baru.

Nah, bagi yang terpanggil untuk ikut terlibat sebagai pekerja sosial, segeralah bergabung dengan NGO atau LSM yang ada. Barangkali kehadiran anda bisa menjadi warna atau pembaharu untuk menjadikan program-program bantuan kemanusiaan lebih manusiawi, tepat sasaran dan membawa sebuah perubahan bagi orang lain atau masyarakat.

Jangan takut dengan rintangan-rintangan yang ada. Dengan ketulusan hati dan tekad, maka setiap rintangan bagi pekerja sosial pasti teratasi dan menemukan solusi yang baik.

Selamat menjalankan panggilan hidup!