Di akun pribadinya @duniamanji, tiga hari yang lalu Mas Anji mengunggah pertanyaan Bli Jerinx, "Kenapa para centang biru di IG/Twitter berani banget nyerang Anji tapi saya yg lebih bangsat dari Anji mereka diamkan?"

Sebenarnya pertanyaan Bli Jerinx itu retoris, jawabannya sudah ada di pertanyaan beliau sendiri: karena lebih bangsat.

Ngomong-ngomong soal diksi "lebih bangsat", berarti Mas Anji juga dinilai bangsat oleh Bli Jerinx? Kalaupun memang dianggap bangsat, ngebangsat soal Covid-19 nggak perlu bangga, FYI.

Butuh berapa juta orang untuk ngomong ke Mas Anji, Bli Jerinx, Teh Rina Nose, dan siapa pun seleb yang merasa (((diserang))), bahwa yang dibahas orang-orang tuh bukan soal nggak bisa terima perbedaan pendapat?

Di kepala saya, yang namanya (((diserang))) itu seperti baku hantam @tirta_hudhi dengan akun @digeeembok yang akhirnya membuat dok Tirta stop provokasi yang nge-gas dan fokus ke konten edukasi Covid-19.

Kalo reply-reply cuitan saja sudah dianggap (((diserang))) akun medsosnya, gimana mau lawan WHO?

Beda pendapat itu contohnya soal pilihan politik, atau soal jilbab wajib atau nggak, bukan soal Covid-19 yang jelas-jelas pandemi sedunia. Para seleb di Indonesia semuanya bilang Covid-19 adalah kisah fiktif sekalipun, faktanya pasien terus bertambah.

Saya nggak punya akun medsos yang centang biru. Tapi sebagai netizen 'penyimak baku hantam' yang tekun, saya punya dua jawaban buat Mas Anji soal kenapa Bli Jerink didiamkan:

Pertama, karena ngomong sama Bli Jerinx nggak ada gunanya

Bli Jerinx orang baik, tapi kebaikan seseorang itu nggak cukup buat jadi dasar dibilang kompeten soal sains, nggak cukup buat mendaku diri saintis. Kalo memang begitu aturan mainnya, kepengin jadi dokter cukup ikut ujian budi pekerti dong?

"Orangnya baek banget kayak malaikat, cocok nih jadi dokter." Kemudian langsung bisa disebut dokter. Ya kali.

Bli Jerinx sudah pernah live medsos dengan dok Tirta, ngabisin kuota sia-sia karena sesuai perkiraan sih isi dialognya: Bli Jerinx yang ngomong melulu nggak mau dipotong, tentang konspirasi. Dialog antara Bli Jerinx dengan dok Tirta atau monolog Bli Jerinx dengan pembawa acara dok Tirta sih waktu itu? Susah diputuskan.

Alasan kedua kenapa ngomong sama Bli Jerinx nggak guna karena publik perlu mencari informasi ke orang yang memang ahli di bidangnya. Sudah banyak akun centang biru dari kalangan medis yang bersuara di medsos.

Lagi pula seleb serba bisa dan serba tahu seperti Bli Jerinx pasti bisa ambil topik lain buat isi caption medsos. Berisik banget selama ini bukan karena dapat endorsement obat Covid-19, kan?

Kedua, karena Mas Anji sepertinya nggak paham sedang berbicara soal apa jadi orang lain berusaha mengingatkan

Kalo Mas Anji maksudnya mau bilang ada ketidakberesan soal penanganan pandemi, cara komunikasi pemerintah salah dan mau berempati pada mereka yang terdampak, kalangan menengah-bawah yang ruang gerak terbatas dan kehilangan mata pencaharian, jangan dengan cara menyuarakan bahwa virus Covid-19 ini biasa saja.

Kritis itu berbeda dengan 'asal bunyi', kalau sekedar cerewet tanpa konteks sih burung kakatua juga bisa. Manusia sebagai makhluk berakal mustinya mengkritisi dengan upaya yang lebih kompleks, mencari informasi yang benar dari sumber yang tepat.

Mas Anji punya hak untuk berpendapat, tapi hak Mas Anji untuk berpendapat itu dibatasi oleh hak orang lain untuk peroleh informasi yang saintifik tentang Covid-19.

Hak Mas Anji berpendapat itu juga dibatasi hak orang lain yang orang-orang terdekatnya meninggal karena Covid-19 untuk berkabung dengan tenang.

Nggak punya kesadaran tentang kapasitas diri dalam berpendapat, mau mendaku diri saintis seperti  Bli Jerinx, silakan. Tapi masih ada empati buat mereka yang berduka atau buat para nakes yang susah payah merawat pasien Covid-19, kan?

***

Saya juga ada pertanyaan sih soal isi medsos Mas  Anji belakangan ini. Terutama unggahan capture DM dari (diduga) Teh Rina Nose,

“Orang tidak bersuara, karena takut/malas diserang oleh arus besar yang berbeda pendapat. Seberapapun menyebalkannya, orang-orang harus berani menerima perbedaan pendapat”

“Karena terkadang, diam bukan jawaban.”

Mas Anji itu mau bilang Covid-19 nyata ada tapi sejenis virus yang cupu, mau melawan WHO terinspirasi Bu Fadilah, atau kepengin membela kebebasan berpendapat? Dan, hasil akhir seperti apa yang Mas Anji harapkan?

Perlu berhati-hati soal Covid-19 karena cara mengambil kesimpulan yang salah, dengan asumsi dan bukti-bukti yang tidak bisa dipertanggungwabkan, bisa mengancam keselamatan orang banyak. Yang seperti ini namanya pseudosains.

Sedangkan Covid-19 itu ranah sains, ilmu pasti. Sepasti kalo Mas Anji dan Bli Jerinx terjun bebas dari panggung saat konser pasti nyungsep ke tanah karena gaya gravitasi. Covid-19 menjadi berbahaya atau tidak bukan ditentukan oleh opini sembarang orang atas nama kebebasan berpendapat.

Seleb yang berisik tentang masalah sains sudah cukup membuat distraksi di publik. Informasi yang benar tentang cara menghadapi Covid-19 jadi nge-blur karena fokus publik terpecah ke hal-hal yang tak perlu.

Kalau publik yang ikut-ikutan abai mengikuti pendapat seleb di medsos yang jadi idola itu punya biaya jika (amit-amit) tertular, punya rumah luas di kompleks perumahan yang ideal untuk mematuhi protokol kesehatan, bisa beli suplemen dan makanan bergizi untuk menjaga imunitas tubuh, masih mending.

Untuk orang-orang miskin, yang tak pernah dapat kerjaan endorsement dari unggahan medsos, atau bisa cari cuan dari live streaming dan YouTube, berada di jalanan dengan mengabaikan protokol kesehatan itu taruhannya nyawa. Bukan hanya nyawanya sendiri, tapi orang-orang di sekitarnya juga.

Berjuang untuk sesuatu yang diyakini boleh saja, tapi sebaiknya tidak berlebihan. Jangan melangkah terlalu jauh kalau tak punya kompetensi yang memadai, selain lupa diri juga bisa bikin lupa jalan pulang. Ngajak orang lain pula. Sial dua kali.