Walaupun "bahasa menunjukkan bangsa", namun adalah pustaka yang menjadikan dan membesarkan bangsa. Itu kalau kita mau konsisten memaknai kata pustaka; sehingga sebenarnya tak ada bangsa tanpa pustaka.  

Kata "wangsa" yang kemudian kita adopsi menjadi "bangsa", berasal dari bahasa Sansekerta. Kata ini merujuk ke kondisi hidup bersama, entah karena persamaan darah (keturunan), tradisi, dan bahasa atau semata karena ada hasrat untuk hidup bersama secara adil, sejahtera, dan nyaman.

Kata "pustaka" juga berasal dari dataran India, namun dapat dilacak lebih ke belakang, ke bahasa Iran kuna yang digunakan orang-orang Persia. Pada masa silam, ratusan tahun sebelum Masehi, masyarakat Persia menjadi salah satu pionir peradaban berbasis tulisan. Waktu itu kertas dari papirus belum ditemukan oleh orang Mesir, maka orang-orang Persia menggunakan kulit binatang yang mereka sebut pust

Menulis dan Menyimpan Tulisan

Ctesias, seorang tabib atau ahli pengobatan Yunani yang mengabdi ke raja Persia, Artaxerxes II Mnemon dari tahun 404 sampai 398 SM, merupakan salah satu pengguna-aktif pust. Selain tabib, Ctesias juga hobi menulis. Beberapa karya tentang Persia dan India, terutama tentang sejarah dan seni, adalah tulisannya.

Kebetulan pula, Raja Artaxerxes punya kebijakan yahud untuk masanya. Beliau mendirikan ruang khusus di istananya untuk menampung ratusan pust berisi tulisan dan catatan. Kelak, ruang berisi kumpulan catatan ini disebut "arsip kerajaan" (royal archive), dan kebijaksanaan kerajaan ini menjadi salah satu pondasi kerajaan-kerajaan selanjutnya.Sekaligus menciptakan bentuk-bentuk organisasi manusia yang semakin lama semakin rumit. Sampai akhirnya kini kita mengenal bangsa dan negara. 

Kebiasaan menulis, mencatat, dan menyimpan catatan ini memang bukan kebijakan orisinal Raja Artaxerxes, sebab di wilayah lain di Timur Tengah sudah pula ada kebiasaan itu, khususnya di wilayah yang kini disebut Suriah. Lagipula, "menulis" dan "menyimpan tulisan" sebenarnya lahir bersamaan di Sumeria (kini sebagian Turki) ribuan tahun sebelum kerajaan-kerajaan muncul. 

Menulis di atas kulit juga bukan cuma untuk keperluan kerajaan demi urusan duniawi. Salah satu tradisi religius kuna di Persia, yakni Zorroaster, menggunakan pust untuk menuliskan ajaran mereka. Maka terciptalah Avesta /əˈvɛstə/, sebuah kumpulan teks berisi ayat-ayat suci Zoroastrianisme.

Mendampingi kumpulan utama ini, dibuatlah pula zend atau zand berupa ringkasan, parafrasa, komentar, dan terjemahan teks Avesta. Istilah zand sendiri adalah bentuk pendek kata zainti, yang berarti interpretasi.

Kelak semua agama besar yang lahir setelah Zorroaster, termasuk agama-agama Samawi, punya "teks utama". Kita kemudian menyebutnya sebagai Kitab Suci. Selain itu, kitab ini juga akan memiliki teks-teks pendamping berisi penjelasan atau ajaran. Demikian pula kelak semua sistem hukum selalu mengandung "kitab hukum" dan teks-teks penjelasan.

Sekadar catatan: kata "kitab" kita impor dari bangsa Arab, bersamaan dengan kata "daftar". Keduanya bermakna sama, yaitu "buku"; sementara kata "buku" juga kita impor dari Eropa!

Pust menjadi Pustaka

Kebiasaan menulis dan menyimpan tulisan yang berkembang di Persia ini rupanya amat memikat bangsa tetangga mereka, bangsa India, sehingga dari kata pust muncullah kata "pustaka".

Kata ini tak lagi merujuk ke kulit tempat tulisan diterakan melainkan untuk segala bentuk kebiasaan dan produk catat-mencatat, tulis-menulis, di atas media yang dapat dipindah-pindahkan antar manusia secara portable dan disimpan secara teratur. Selain itu, "pustaka" kemudian juga diartikan lebih dari sekadar sebuah tulisan belaka; melaikan tulisan yang baik, bermutu, bagus, dan terhimpun secara teratur.

Agama Hindu adalah salah satu agama yang pertama memanfaatkan konsep pustaka ini untuk mengubah tradisi lisan mereka menjadi berbagai maha karya tulis seperti Mahabrata dan Bhagavad Gita.

Selain itu, tradisi pustaka juga menyebar ke bidang-bidang non-religius yang dianggap penting. Misalnya, bidang medis/pengobatan. India pernah punya Jivaka-Pustaka, sebuah kumpulan maha karya tabib Jivaka Kumar Baccha yang lahir 400-an tahun sebelum Masehi. Beliau kemudian dikenal sebagai "the king of medicine" karena keahliannya dan karena ia menjadi "dokter pribadi" Raja serrta kaum bangsawan India.

Termasuk di dalam daftar pasien Jivaka adalah sang Buddha. Selain sebagai dokter pribadi, rupanya Jivaka kemudian ikut menyebarkan ajaran agama Buddha sekaligus mempromosikan obat dan teknik penyembuhan (termasuk teknik bedah) ke Tiongkok. Kelak ajaran kedokteran Jivaka inilah yang menjadi pondasi pengobatan tradisional Cina yang amat terkenal itu.

Begitulah akhirnya kata "pustaka" bermakna lebih dari sekadar tulisan atau buku, melainkan sebuah elemen sosial-budaya yang amat fundamental bagi pengorganisasian kehidupan dalam bentuk agama, hukum, negara, kedokteran, dan tentu saja ilmu pengetahuan secara keseluruhan.

Di negeri-negeri Eropa makna kata pustaka ini setara dengan makna kata libri yang akhirnya menjadi kata "library", dan kata "bibli" yang akhirnya menjadi "bibliothek". Masyarakat yang menggunakan kata library (Inggris) maupun bibliotheek (Belanda, Jerman) juga memiliki kata lain yang merujuk ke media untuk menerakan tulisan, yaitu "book" dan "boek". 

Balai Pustaka dan Perpustakaan

Di Indonesia, kata pustaka menjadi institusional dan sistemik sejak Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Balai Pustaka (masih berdiri sampai sekarang), dan sejak urusan-urusan yang berhubungan dengan pustaka ini dikelola Pemerintah dan diberi nama "per-pustaka-an". 

Tapi sebelum itu, lewat sebuah proses panjang, pustaka menjadi bagian dari proses perkembangan kebudayaan. Misalnya, perkembangan sastra dan peradaban menulis Jawa yang berlangsung selama 125 tahun melahirkan penulis-penulis besar. Ranggawasita adalah salah satunya, dan dua karya besarnya antara lain adalah Pustaka Raja dan Pustaka Raja Purwa.

Kebiasaan mencatat dan menyimpan catatan di kerajaan-kerajaan Jawa sejak tahun 1745 itu difasilitasi oleh raja-raja yang "melek huruf" dan peduli pada perkembangan budaya membaca. Tidaklah heran jika kemudian kerajaan-kerajaan Jawa di masa itu sudah punya tempat khusus sebagaimana yang ada di Persia ribuan tahun sebelumnya. Sampai sekarang kita dapat mengunjungi tempat ini, yaitu Radya Pustaka di Surakarta yang sudah berfungsi sebagai museum.

Selain di Jawa, kebiasaan raja menitahkan pencatatan dan penyimpanan catatan ini juga sudah dilakukan sebelumnya dengan tingkat "kecanggihan" yang berbeda. Raja-raja di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi melakukan hal serupa dengan rekan-rekan mereka di Jawa. Suku Batak punya tradisi menggunakan "pustaha", dan suku Bugis punya mahakarya La Galigo.

Demikianlah ketika akhirnya Belanda menggunakan tajuk Balai Pustaka pada tahun 1917 untuk Kantoor vor der Volkslectuur (kantor urusan bacaan rakyat), bangsa Indonesia sudah mulai menemukan bentuknya lewat pustaka alias tulisan-tulisan yang diproduksi, disebarkan, dan disimpan secara teratur.

Patut dicatat, walau kantor ini didirikan untuk ambisi Belanda "membentuk" bangsa jajahan yang sesuai dengan kepentingan mereka, Balai Pustaka juga amat berperan dalam memastikan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan. Melalui penerjemahan karya-karya daerah dan penulisan sastra berbahasa Indonesia, Balai Pustaka ikut membangun corpus Indonesia.

Belanda kemudian mendirikan ribuan Taman Pustaka sebagai sarana menyebarkan karya-karya tulis yang dianggap baik dan bermutu (tentu saja terutama untuk kepentingan kolonialisme) ke lapisan akar rumput; membantu penyebaran bahasa Indonesia yang sistematis dan masif.

Sewaktu Indonesia merdeka, Balai Pustaka dan Taman Pustaka merupakan salah satu "warisan" kolonial yang masih utuh dalam bentuk infrastruktur dan jaringan pustaka yang merentang seantero Nusantara. Pemerintah mengambil alih urusan pustaka ini dengan membentuk apa yang kini kita kenal sebagai "perpustakaan" (urusan tentang pustaka).

Bagaimana kondisi Balai Pustaka dan "urusan pustaka" sekarang ini adalah cermin paling baik untuk kita melihat, seperti apa Bangsa Indonesia saat ini.