Pada tahun 2014, secara resmi, Cina menjadi Negara dengan tingkat Purchasing Power Parity terbesar dunia. Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2018, GDP Cina berada di peringkat kedua dengan perolehan nilai 13,6 triliun dollar. PwC memproyeksikan Cina akan menjadi negara dengan GDP terbesar tahun 2050.

Kekuatan ekonomi Cina yang besar ini termanifestasikan pada pengeluaran di banyak sektor. Contoh, berdasarkan data McKinsey, sektor penelitian dan pengembangan Cina meningkat tajam dari 9 milliar dollar pada tahun 2000 menjadi 293 milliar dollar pada tahun 2018. 

Dari proyeksi ekonomi dan fakta di atas, tidak bisa terbantahkan bahwa kans Cina menjadi global power kian besar. Namun di sisi lain, barat juga mengalami sedikit penurunan pengaruh. 

Kishore Mahbubani dalam bukunya “Has the West Lost It” berargumen bahwa ada tiga kesalahan kebijakan Amerika Serikat yang membuat kredibilitasnya sebagai superpower menurun. Dua di antaranya menunjukkan kontradiksi AS dengan nilai universalnya. 

Dua kesalahan yang disebut Kishore di antaranya adalah serangannya ke wilayah Islam dan mengintervensi masalah internal yang dilakukan. Hal yang dilakukan AS Ini kontradiktif dengan prinsip demokrasi dan kebebasan yang seringnya digaungkan oleh AS. 

Selain itu, Amerika Serikat saat ini hanya mementingkan diri sendiri, terutama pada era Trump yang ingin memperkuat ekonomi nasionalnya. Trump juga melakukan sesuatu yang kontradiktif dengan citra AS sebagai negara yang menganut multilateralisme, yakni keluar dari perjanjian Paris.

Perjanjian Paris adalah konsensus global yang sangat penting untuk mencegah pemanasan global menjadi lebih parah. Keluarnya Trump justru menjadi tanda tanya besar tentang mengapa sebuah negara yang mengusung tatanan liberal dengan multilateralisme justru tidak berpartisipasi pada perjanjian vital global.

Tidak Menjadi Imperium, Tapi Meraih Kepemimpinan.

Cina menjadi sentral pembicaraan karena perkembangannya yang menakjubkan. Dengan kemajuan yang ditorehkannya melalui formula alternatif menunjukkan bahwa kemajuan sebuah negara tidak ditentukan oleh apakah mereka menganut sistem demokrasi atau tidak.

Namun, ketika Trump menuntut Cina untuk transparan soal data covid-19, ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang kontras tentang value yang dianut oleh kedua negara: Amerika dengan sistem politik yang terbuka dengan Cina yang menerapkan sistem politik yang tertutup.

Jika dilihat dari perbandingan ini, bahwa poin kritis yang membedakan antara The West and the Rest adalah institusional, seperti yang Niall Fergusson katakan dalam bukunya Civilization: The West and The Rest.

Lebih lanjut, ketika bicara soal peradaban barat dalam konteks luas, ada beberapa aspek krusial yang menurut Niall Ferguson membuat peradaban barat menjadi sangat penting: kompetisi, sains (ilmu), kepemilikan properti, ilmu kedokteran, masyarakat konsumtif, dan etos kerja. 

Kesuksesan Cina juga terjadi karena mereka menerapkan keterbukaan ekonomi, bahkan bergabung dalam WTO pada tahun 2001. Deng Xiaoping pada masa pemerintahannya pernah mengatakan bahwa tidak masalah kucing itu berwarna hitam atau putih. Selama dia bisa menangkap tikus

Akan tetapi, ini bukan berarti bahwa nilai peradaban barat memiliki nilai yang sama ketika diterapkan di beberapa negara. Setiap negara memiliki karakteristik, masing-masing sehingga ini pun berimplikasi pada sistem politik dan ekonomi negara, namun bukan berarti sebuah negara mengadopsinya secara mentah.

Ada proses lokalisasi norma untuk diterapkan sesuai konteks domestiknya. Cina mungkin bisa menerapkan demokrasi dan kebebasan sepenuhnya, namun, tanpa menerapkan sistem atau institusi politik yang inklusif, Cina sudah sangat berpengalaman mengelola peradabannya.

Namun dengan kemajuan seperti ini, Cina tidak ingin mengambil alih imperium global. Cina menyukai hidup di tatanan liberal seperti ini karena sistem itulah yang membantu mereka untuk menjadi maju seperti sekarang. Sehingga, Cina mungkin belum akan membentuk sebuah imperium baru berdasarkan nilai universalnya.

Akan tetapi, bagaimana dengan kepemimpinan global? Itu adalah perkara lain, karena Cina sudah punya indikasi untuk bergerak menjadi negara berpengaruh, setidaknya di sektor sains dan pengobatan.

Perlombaan pembuatan vaksin covid-19 saat ini bukan hanya untuk kepentingan masyarakat dunia, namun juga ada sebuah pride yang ditawarkan. Negara pertama yang menemukan vaksin akan memiliki leverage tertentu, terlebih pembuatan vaksin ini memakan waktu yang lama.

Saat ini, Cina bersama UEA memasuki tahap ketiga dari pengembangan vaksin, sedangkan AS masih berada di tahap dua. Ketika tahap ketiga bisa dilalui, vaksin bisa diproduksi secara massal. Kemudian, mendapatkan persetujuan dari WHO dan berbagai institusi untuk disetujui.

Tahap tersebut yang membutuhkan politik sebagai penyelesaiannya. Dan oleh karenanya, Cina berusaha menggemborkan bahwa vaksinnya akan menjadi barang konsumsi global. Jika Cina selesai terlebih dahulu dan terbukti vaksinnya aman, maka Cina akan mampu meningkatkan pengaruhnya di sektor ini.

Selain di bidang pengobatan, Cina juga berambisi untuk menjadi tech leader dalam teknologi Artifical Intelligence. Pada tahun 2017, Xi Jinping mengumumkan bahwa Cina akan menjadi leader dalam sektor AI pada tahun 2030.

Dikutip dari nature.com, citasi riset paper Cina diatas rata-rata dunia, namun masih dibawah Amerika Serikat. Namun, grafik beberapa tahun belakangan menunjukkan bahwa angka citasi paper Cina cenderung meningkat. Ini bisa jadi indikasi baik Cina akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Cina bergerak perlahan untuk menjadi pemimpin di beberapa sektor. Akan tetapi, secara keseluruhan, jalan Cina untuk menjadi global leadership masih panjang. Itu baru dua sektor saja dimana Cina dan AS tetap akan bersaing seiring berjalannya waktu. 

Namun, ini bisa menjadi indikasi yang baik bahwa peradaban Timur mampu (kembali) memiliki taji yang kuat sebagai peradaban yang maju dan inovatif.