Fenomena ikut-ikutan

Saat kita melihat sesuatu yang sering digunakan orang lain seperti pakaian, perhiasan dan handphone atau hal-hal yang a banyak dilakukan orang lain di lingkungan sekitar maupun internet. Pernahkah terlintas dipikiran kita untuk ikut menggunakan ataupun melakukannya?

Semakin banyak kuantitas orang yang menggunakan atau melakukan sesuatu, semakin banyak pula orang-orang yang akan cenderung mengikuti hal tersebut dengan alasan yang bermacam-macam seperti ingin mengikuti tren, ingin menyesuaikan diri, serta ingin terlihat keren. Fenomena tersebut disebut sebagai fenomena Bandwagon Effect.

Dikutip dari Investopedia, Efek bandwagon adalah fenomena psikologis di mana orang melakukan sesuatu terutama karena orang lain melakukannya, terlepas dari keyakinan mereka sendiri, yang mungkin mereka abaikan atau kesampingkan.

Berdasarkan teori psikologi, bandwagon effect adalah serangkaian perilaku atau sikap yang dilakukan oleh orang lain karena mayoritas orang melakukan hal yang sama. Bandwagon effect terjadi dikarenakan anggapan bahwa apapun yang banyak dilakukan oleh orang lain maka akan dianggap baik meskipun kita tidak
mengetahui benar atau buruknya sesuatu yang kita lakukan itu secara logis dan kritis. Artinya bandwagon effect lebih mempengaruhi proses emosional dibandingkan proses rasional. 

Hal ini dapat mempengaruhi keputusan rasional seseorang dan menyebabkan seseorang mengabaikan fakta atau kebenaran yang ada lalu mengambil keputusan yang tidak benar hanya karena mayoritas orang mengambil keputusan tersebut.

Terutama di masa digital ini yang dimana kita secara bebas bisa melihat gaya hidup orang lain yang bertebaran di internet maupun media massa. Hal tersebut semakin mempengaruhi gaya hidup serta mindset kita.

Efek ini memiliki dampak besar bagi generasi milenial dan generasi Z dikarenakan teknologi yang sudah sangat maju di zaman mereka yang
memungkinkan informasi-informasi tersebar dengan cepat. Sehingga mayoritas orang yang terkena efek bandwagon berasal dari generasi milenial dan generasi Z.Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa generasi yang sebelumnya tidak terdampak efek bandwagon.

Eksistensialisme menurut Martin Heidegger

Martin Heidegger lahir di Messkirch, Jerman, pada tanggal 26 September 1889. Heidegger adalah filsuf Jerman yang berkontribusi pada eksistensialisme, fenomenologi, & hermeneutik.

Heidegger berpendapat bahwa untuk memahami tentang manusia, pertama-tama bukan mengamati struktur metafisis (kesadaran atau kehendak) atau mengukur lingkungan alam di luar manusia (positivisme). Melainkan memahami realitas dunia manusia sendiri, tempat manusia menciptakan diri dan dunianya serta diciptakan oleh diri dan dunianya itu.

Heidegger mengemukakan teori eksistensialisme yang di antaranya :

Dass Mann – The They. Eksistensi manusia punya kecenderungan pada “keterjatuhan”. Artinya, dalam kesehariannya, manusia membiarkan dirinya jatuh dan terperangkap dalam eksistensi yang sekedar ikut-ikutan orang lain (they).

Kecemasan dan ketiadaan. Kecemasan (Angst) adalah kondisi mencekam saat manusia berhadapan dengan ketiadaan (Das Nicht). Objek kecemasan sesungguhnya adalah “tidak-ada”. Tetapi meskipun “tidak-Ada”, ketiadaan justru merupakan ancaman yang sangat nyata. Ketiadaan dapat menghancurkan segenap eksistensi, mengancam status dan posisi manusia dalam dunia.

Manusia sangat pandai menutupi kecemasan dengan menggunakan suasana hati. Daripada menyadari keterbatasan atau ketiadaan, manusia berusaha menghindari kecemasannya dengan membuat suasana hatinya sibuk dengan kesehariannya, “lupa pada makna Ada”, dan memilih larut dalam das mann.

Eksistensialisme Manusia dan Bandwagon Effect

Bandwagon effect dapat terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti adanya tekanan lingkungan sosial. Saat kebanyakan orang memakai sesuatu ataupun melakukan sesuatu tetapi kita masih tidak mengikutinya, akan ada rasa ketertinggalan dari kelompok dan merasa tidak “normal”.

Lalu faktor yang lain adalah karena kita sebagai manusia ingin selalu menang, itulah mengapa adanya kelompok sosial yang membentuk konformitas dan ikut melakukan tren tersebut. Maka hal inilah yang akan menimbulkan gambaran bahwa seolah-olah hal tersebut benar.

Faktor terakhir yang dapat memunculkan bandwagon effect adalah adanya tekanan ikut terlibat. Manusia cenderung tidak menyukai menjadi yang berbeda dibandingkan dari yang lain. Sehingga melakukan hal yang sama dengan kelompok sosial akan dilihat sebagai cara untuk terlibat dan diterima secara sosial.

Manusia cenderung takut untuk tidak dianggap sebagai bagian suatu kelompok ataupun eksistensinya tidak dianggap. Sehingga manusia berusaha agar dianggap dan menghindari kecemasannya dengan cara mengikuti apa yang orang lain lakukan dan pakai agar merasa ikut terlibat dan menjadi bagian dari kelompok sosial tersebut.

Jati diri sesungguhnya

Terkadang ketika kita ingin menghindari rasa “ketidak-adaan” dan mengejar status ataupun jabatan dengan cara mengikuti apa yang banyak dilakukan oleh orang lain tanpa memikirkan kebenaran yang sebenarnya. 

Sehingga terjadi hal yang dimana kita memaklumkan hal yang salah menjadi benar karena mayoritas orang melakukan hal tersebut. Lalu kita juga kehilangan ke-autentikan kita dan semakin kehilangan jati diri karena kita membiarkan mayoritas orang mempengaruhi kita. 

Akibat hal tersebut lambat laun jati diri kita hanyalah hasil dari mayoritas apa yang orang lain lakukan dan bukan jati diri sejati yang sesungguhnya.

Untuk dapat menemukan wujud eksistensinya dan jati diri sendiri, Heidegger mengajak manusia untuk bersedia mendengarkan panggilan hati nuraninya sendiri. Hati nurani dianggap sebagai suara dari dalam diri manusia yang sejati.

Untuk menjadi manusia yang otentik, manusia perlu menghayati kesendirian. Yang dimana seseorang perlu untuk mengenal dirinya sendiri agar menemukan keunikan dan jati dirinya sendiri dan tidak sekedar mengikuti mayoritas orang. 

Dengan begitu, eksistensi kita sebagai manusia murni berasal dari diri sendiri dan hal tersebut membuat kita memiliki kekhasan yang berbeda dari yang lainnya.