Rakyat Indonesia tentu tak lupa akan peristiwa G30S/PKI yang terjadi pada tahun 1965. Peristiwa ini telah menimbulkan berbagai sudut pandang dari rakyat Indonesia sendiri. Sebagian rakyat memberikan penilaian yang sangat buruk terhadap hal-hal yang berbau PKI/komunis, apalagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebagian besar rakyat Indonesia mempunyai kesan bahwa komunis itu kejam, tak beradab, ateis radikal, dsb. Sampai sekarang pun kesan itu masih saja diajarkan di sekolah-sekolah sehingga generasi sekarang pun tak tahu menahu tentang persoalannya.

Film berjudul “Senyap” merupakan salah satu film yang menggambarkan bagaimana seorang yang mempunyai keluarga yang dituduh PKI mencari kebenaran atas peristiwa tersebut. Ia mendatangi satu per satu orang yang terlibat dalam pembantaian itu. Ketika menyaksikan film tersebut, penulis melihat bahwa para pelaku yang ia datangi tak satu pun menyesal akan perbuatannya. Mereka malah menyebut diri sebagai pahlawan negara karena mereka telah berhasil membasmi pengganggu negara.

Saat kata-kata itu keluar dari mereka, sungguh miris rasanya mendengarkan. Apakah mereka tak menyadari perbuatannya? Atau tak berpikirkah mereka akan ketakutan luar biasa para korban yang mereka bantai? 

Persoalan baru adalah apakah para pelaku ini benar-benar pelaku atau malah mereka juga korban? Penulis ingin melihat lebih jauh apakah benar para pelaku ini benar-benar pelaku atau juga korban. Penulis akan menggunakan pemikiran seorang filsuf bernama Hannah Arendt.

Hannah Arendt, seorang filsuf keturunan Yahudi, mempunyai pemikiran tentang banalitas kejahatan. Arendt mendapatkan pengalaman ketika menghadiri sidang seorang mantan anggota SS Nazi bernama Adolf Eichman. 

Banalitas kejahatan, kurang lebih, yaitu suatu situasi di mana kejahatan tidak lagi dirasa sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, sesuatu yang wajar. Ketika mendarat di Yerusalem untuk mengikuti sidang Eichman, Arendt begitu kaget, karena ternyata Eichmann, pelaku kejam kejahatan terhadap kemanusiaan selama perang dunia kedua, adalah orang biasa yang sama sekali tak tampak kejam. Sebaliknya, ia adalah “warga negara yang patuh pada hukum.” Tidak ada tanda-tanda kejahatan di dalam dirinya.

Seperti yang pernah ditulis Reza Wattimena, Arendt berargumen bahwa Eichmann adalah seorang perwira militer yang patuh. Dan sikap patuh di dalam militer adalah suatu keutamaan, bukan kejahatan. Ia tidak akan pernah berkhianat atau bahkan membunuh orang lain demi memuaskan kepentingan pribadinya. Bahkan menurut Arendt sebagai seorang perwira militer, Eichmann sama sekali tidak sadar tentang akibat dari tindakan patuhnya tersebut. 

Namun apakah Eichman adalah orang bodoh? Sejauh penulis mencari, Eichman bukanlah bodoh namun yang kurang darinya adalah “ketidakberpikiran”.

Dalam konteks peristiwa pembantaian oknum-oknum PKI, pemikiran Hannah Arendt sangatlah relevan. Para pelaku yang melakukan sama sekali tidak merasa bersalah akan apa yang ia perbuat. Seperti Eichmann, mereka adalah orang-orang biasa, yakni rakyat kebanyakan, dan militer yang patuh pada perintah atasan. Dan seperti Eichmann, mereka adalah orang-orang yang miskin imajinasi, sehingga tak mampu membayangkan perasaan orang-orang yang mereka tangkap atau bantai pada masa-masa itu. Selain itu, oleh karena tidak berpikir, mereka hanya asal patuh saja sehingga kejahatan dipandang sebagai sesuatu yang biasa saja.

Kita bisa melihat bahwa ketidakberpikiran seperti yang Eichman lakukan telah menimbulkan kejahatan yang mengerikan. Orang kebanyakan berasumsi bahwa pelaku kejahatan seperti Eichman adalah orang gila, orang kejam, dsb. 

Seperti Eichman, mereka hanyalah orang-orang yang amat normal, dan karena normalitasnya, mereka menjadi menakutkan. Mereka adalah orang-orang yang tak berpikir seperti pendapat Arendt di atas. Ketidakberpikiran membuat mereka tidak mampu berpikir apakah perintah yang diberikan masuk akal atau tidak? Manusiawi atau tidak? Sehingga mereka jatuh pada kepatuhan tanpa berpikir, pokoknya manut saja.  

Para pelaku yang melakukan hal tersebut tentu menerima propaganda yang akhirnya membuat mereka mau taat untuk membasmi antek-antek PKI. Para pelaku tersebut menunjukkan miskinnya mereka akan imajinasi. Jikalau mereka hanya sekadar patuh, sikap tersebut akan hilang oleh karena terhalang kepatuhan buta mereka. 

Sungguh manjur sekali propaganda tersebut sampai-sampai membuat banyak rakyat biasa yang miskin imajinasi dan tidak mampu berpikir menjadi pelaku kejahatan brutal. Oleh karena tidak mempunyai imajinasi dan tidak mampu berpikir, mereka hanya digerakkan oleh kepatuhan buta dan sampai di suatu titik di mana mereka merasa bahwa kejahatan yang mereka lakukan merupakan hal biasa-biasa saja.

Para pelaku pembantaian ini tidak mampu melihat orang yang mereka bunuh sebagai manusia. Para pelaku menganggap para korban sebagai benda semata, bahkan musuh yang pantas untuk dimusnahkan, bukan sebagai manusia. 

Sampai sekarang pun, meski PKI sudah tidak lagi ada di Indonesia, sikap terhadap hal-hal yang berbau komunisme masih sangatlah memuakkan bagi sebagian orang. Seperti contoh di atas bahwa komunis itu kejam, ateis, dsb. Persepsi ini membuat banyak orang menganggap hal ini adalah kebenaran dan memusnahkan mereka adalah suatu kewajiban semata. Mereka tidak berpikir jauh bahwa yang mereka bunuh tidaklah seperti yang mereka gambarkan. Sekali lagi, kejahatan yang mereka lakukan merupakan hal yang biasa karena persepsi demikian.

Kemudian apakah para pelaku ini korban juga? Satu sisi memang mereka melakukan itu karena suntikan propaganda. Namun, di sisi lain penulis merasa mereka kurang berpikir. Seperti pendapat Arendt di atas bahwa karena kurang berpikir jauh Eichman turut serta dalam kejahatan brutal tersebut. 

Bukankah para pelaku ini punya kebebasan untuk menolak propaganda tersebut karena akibat perbuatan mereka bagi korban dan keluarganya? Namun toh mereka tetap patuh saja dan tanpa berpikir panjang mereka melakukan perbuatan itu tanpa rasa bersalah dengan embel-embel ketaatan dan kelak menjadi pahlawan karena membantu menyingkirkan pengganggu negara.