Kita, yaitu saya dan anda kini hidup di masa yang  kata kaum cerdik pandai  mengagungkan fungsi rasio manusia. Meski dalam beberapa hal masih dijumpai hal yang tidak selaras dengan itu, tetapi tetap saja periode kita berbeda dengan masa lampau yaitu zaman abad pertengahan. Dimana kala itu, otoritas agama mengontrol ketat semua ilmu pengetahuan. Sehingga yang paling benar adalah yang disebutkan dalam kitab suci agama itu. Selain daripada itu salah.

Banyak para ilmuwan kala itu dikecam, dianggap bidaah, sesat, dan tidak sedikit juga yang menerima hukuman mati karena penelitiannya berlawanan  dengan apa yang terdapat dalam kitab suci. Penemuan-penemuan sains kala itu ditentang habis-habisan karena dianggap  sebagai upaya merusak status Quo agama yang dianggap telah mapan kala itu. Pemikiran-pemikiran kritis dibredel dan tidak dibiarkan hidup. Masyarakat pada abad pertengahan (khususnya di Eropa) sana hidup di zaman yang katanya memasuki dark ages (Zaman Kegelapan)

Sedangkan kini, manusia sudah dapat hidup dengan bebas. Terutama di Eropa sana dan di Indonesia dalam beberapa hal, dimana Sains diagungkan dan juga pemikiran-pemikiran kritis menjadi hal yang lumrah. Tiap-tiap orang dituntut dapat berpikir mandiri dan tiap-tiap hal didekati dengan pendekatan khas saintifik. Masyarakat Eropa dan dalam beberapa batasan kita di Indonesia dianggap telah memasuki zaman pencerahan. Diawali dengan tokoh Filsafat Rene Descartes yang terkenal dengan ucapannya je pense donc je suis atau cogito ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada) rasio atau pikiran manusia kembali mendapat tempat.

Sebelumnya di Abad pertengahan, tiap-tiap orang ibaratnya seperti robot, yang harus menerima doktrin dari agama tanpa bisa mempertanyakannya kembali. Rene Descartes memulai kembali menggiatkan dan mengembalikan fungsi rasio sebagaimana mestinya. Kemudian tokoh-tokoh lain turut membidani dan mempercepat kelahiran zaman modern yaitu Baruch de Spinoza, Thomas Hobbes (Terkenal dengan teori Negara Leviathan nya), John Locke (Filsuf yang memisahkan hubungan Negara dan Agama), George Berkeley, David hume (Skeptikus sejati),  Imanuel Kant dan tokoh-tokoh lainnya. Semua dari mereka ikut ambil bagian dalam percepatan kelahiran zaman yang katanya telah dicerahkan ini dengan pemanfaatan rasio manusia yang dianggap dengan maksimal.

Tetapi, ada pula tokoh yang menentang dan tidak sepakat bahwa zaman yang kita hidupi kini telah tercerahkan. Alih-alih tercerahkan, malahan menurutnya apa yang disebut sebagai pencerahan itu kini dianggap menghasilkan kegelapan yang tanpa tanding dalam sejarah umat manusia. Ia adalah Max Horkheimer. Dia mencetuskan Teori kritis yang terkenal juga dengan karyanya yaitu Eclipse Of Reason, dimana melaluinya ia menelanjangi rasio (nalar) yang dibanggakan oleh para filsuf yang telah saya sebutkan di atas.

Ia mengatakan dalam kata pengantar karyanya ini, bahwa dalam modernintas yang kelahirannya disokong oleh pemikiran para filsuf, tertanam sebuah dialektika jahat. Manusia mau maju, tetapi kemajuan sendiri menjadi sebuah proses de-humanisasi. Manusia mau maju dengan mengembangkan sarana-sarana teknis penguasaan alam. Rasionalitas yang mendorong pencerahan disebut olehnya semata-mata dipahami hanya sebaga sarana kalkulasi penguasaan dunia. Sehingga dunia dipandang hanya sebagai objek yang dapat diekploitasi sesuai dengan kebutuhan manusia. Tidak adalagi yang objektif pada dirinya sendiri, tetapi semua sudah subyektif yang nilainya ditentukan oleh manusia. Misalnya Alam, keberhargaan alam ditentukan pada seberapa bergunanya pada manusia.

Alam pada dirinya sendiri tidak lagi bermakna, tidak mempunyai tujuan dan nilai objektif. Makna dan nilai dipasang oleh manusia. Oleh karena itu, Horkheimer menilai bahwa zaman pencerahan terkesan memandang penguasaan alamlah sebagai sarana utama rasionalisasi kehidupan manusia dan juga sebagai sarana penguasaan alam demi penciptaan profit pada manusia. Penguasan alam menghasilkan hubungan yang tidak baik antara manusia dengan alam. Selain pada hubungan antara manusia dengan alam horkheimer juga berpendapat penguasaan alam, juga mencakup penguasaan atas manusia

Tampaknya apa yang disampaikan oleh Max Horkheimer memiliki relevansi tersendiri pada zaman yang kita hidupi kini. Kita melihat bahwa melalui kecerdasaran manusia (rasio/nalar), menciptakan peralatan-peralatan yang serba bertujuan untuk membantu manusia (atau malahan membuat manusia malas (?) ). Teknologi dikembangkan sedemikian rupa, dan tujuannya sangatlah pragmatis, yaitu yang memiliki daya guna untuk manusia. Jika tidak sesuai dengan apa yang manusia inginkan maka dianggap tidak berguna. Alam dieksploitasi sedemikian rupa.

Tidak heran kita melihat diberbagai wilayah pun di tanah air banyak kejadian bencana alam. Tentunya yang saya maksud disini adalah yang disebabkan oleh manusia, dan bukan yang berlangsung karena natural. Di Daerah perkotaan sedemikian sulit untuk menemukan ruang terbuka hijau, hampir semua dijadikan lahan bisnis dan tentu hal ini karena memiliki kegunaan dan keuntungan bagi manusia.Belum lagi karena fungsi rasio yang semata-mata dipandang untuk menguasai ini menjadikan tiap-tiap orang terdorong untuk saling menguasai satu sama lain. Itu sebabnya  konflik antar individu bahkan antar kelompokpun tidak pernah berkesudahan. Karena rasio telah direduksi sedemikian rupa dengan maksud penguasaan dan eksploitasi.

Lalu apa saran dari horkheimer melihat kondisi ini? Ia mengingatkan kita untuk turut mengembalikan fungsi rasio yang sejatinya untuk wawasan keselamatan dan pengembangan seluruh manusia. Rasio tidaklah semata-mata untuk menciptakan sarana dengan tujuan menguasai alam, tetapi terlebih untuk menyelamatkan alam. Mengembangkan alam sedemikian rupa dan bukan mengeksploitasinya. Alam harus dilihat berada juga pada dirinya sendiri, dan bukan harus dilihat sebagai obyek yang sesuka hati kita dapat pergunakan bahkan sampai dengan merusaknya. 

Zaman pencerahan itu harus pula dikritik. Jika tidak mendorong manusia untuk lebih humanis dan memanusiakan sesamanya maka haruslah yang demikian ditentang. Dengan demikian, barulah kita akan memasuki periode yang tercerahkan yaitu ketika rasio dipergunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan alam, mengembangkan potensi-potensi manusia, dan mencegah dari tujuan eksploitasi. Baik pada alam maupun manusia.