Angin malam di bulan Januari ini tampaknya sanggup mendinginkan hati yang sedang terbakar. Sesekali angin menggoyang daun dan ranting pohon rambutan, berisik, terdengar bagaikan suara rintik hujan. 

Tepat di sebuah rumah, seorang laki-laki berusia sudah tak begitu muda berselimutkan kain sarung. Ia sedang duduk di ujung bangku sambil memeluk kedua lututnya yang kurus, bersandar di sebuah bupet kayu yang bagian tengahnya dibiarkan kosong.

Dari arah pintu, seorang pemuda berkaus putih yang nampaknya kebesaran, masuk, menghampiri laki-laki bersarung itu. Sambil membawakan bungkus plastik tipis berwarna biru transparan padanya, ia kemudian duduk di bangku dekat jendela lalu menutup pintu yang tadi sempat terbuka.

“Terima kasih, dik, kakak minum obat dulu,” ujar laki-laki bersarung sedikit terbata-bata. Ia membuka bungkusan obat yang baru saja dibeli adiknya itu. Sang adik membawakannya segelas air. Lalu diminumlah obat yang dipercayanya mampu menangkal segala penyakit, terlebih penyakit meriang yang sedang ia rasa.

“Besok ada berapa orang yang ikut ke Jakarta?” tanya sang kakak.

“Lima orang.”

“Dosen ada yang ikut?”

Adik tak langsung menjawab. “Kuliah beda dengan sekolah, kak.”

“Ohok ohok... Jadi?”

“Tidak ada yang ikut.”

“Lho, lalu nanti yang bawa mobil siapa?”

Adik membereskan tumpukan buku di atas meja di hadapannya. “Ada, temanku yang dari Kuningan.”

Kakak membenarkan posisi duduknya. “Ohok ohok... Dia sudah biasa bawa mobil?”

Pintu yang sudah lapuk itu tiba-tiba terbuka, dan seketika udara malam menerobos masuk mendinginkan seisi ruangan. Adik segera menutupnya dengan menyelipkan selembar kain lap di pinggiran pintu. Ia kemudian melempar pandangan ke langit-langit ruangan, ke arah bohlam kuning yang sedang menyala, ke arah sarang laba-laba yang sempat bergoyang ditiup angin.

“Dik, tolong bereskan dulu kompresor sama oli bekas. Tadi lupa, belum sempat dibereskan.”

Mendengar permintaan sang kakak, adik lalu keluar menuju bengkel di depan rumah. Seperti biasa, sang kakak selalu meninggalkan bengkelnya saat semuanya sudah rapi, semua peralatan sudah ada di tempatnya masing-masing, obeng, kunci pas, kunci shock, sudah ada di kotaknya. 

Di depan rumah, ada sebuah kompresor kecil dengan tabung berwarna oranye masih tergeletak di pojokan tiang, dan oli bekas berwarna hitam encer masih ada di wadah kaleng dekat tembok. Adik lalu membereskan semuanya. Oli bekas ia tiriskan ke dalam drum, dan kompresor ia dorong dan ia masukan ke dalam rumah. Si adik kemudian duduk di bangkunya kembali, lalu ditutuplah pintu dengan menyelipkan kain lap di pinggirnya.

“Ohok ohok... Sudah, dik?” tanya sang kakak.

“Sudah.”

“Dingin sekali malam ini. Kau sudah makan?”

“Sudah”

“Aku terlalu bersemangat kerja dua hari ini, proyek modifikasi motor milik Pak Dadang, lumayan ongkosnya, ohok ohok... cukup untuk melunasi biaya kuliahmu yang masih kurang.”

“Soal itu jangan kau pikirkan, kak”

“Kalau bukan aku yang memikirkannya, siapa lagi? ohok ohok...”

“Mau kubuatkan teh hangat?”

“Tidak usah, obatnya juga baru aku minum, belum terasa efeknya.”

“Selama aku di Jakarta, bengkel tutup saja dulu. Kakak istirahat.”

Kakak menarik kain sarung yang dipakainya itu sampai menyelimuti seluruh badan, kemudian merangkul kembali kedua lututnya sambil sedikit berbaring.

“Kau yakin besok akan pergi?” ujar sang kakak kemudian.

“Lebih dari yakin, kak. Persiapanku, aku rasa sudah cukup, tinggal melangkah menuju perlombaan besok di Jakarta. Memangnya ada apa?”

“Ohok ohok, tidak. Ingat jangan terlalu over. Oh iya, karya siapa puisinya?”

“Rendra.”

“Oo, ohok ohok...”

Kakak yang setengah berbaring itu menatap ke bawah kolong meja. Ada sedikit retakan di lantai. Lalu terlihat tiga ekor semut hitam kecil masuk ke dalamnya, disambut seekor semut berukuran lebih besar di mulut retakan.

“Jadi?” tanya sang adik.

“Ohok ohok... Apa?”

“Boleh aku ke Jakarta?”

“Ohok ohok... Ohok ohok... Aku ke kamar mandi dulu, ohok ohok.”

Dengan sedikit gemetar dia berdiri, lalu berjalan ke arah kamar mandi. Dari sana sang kakak terdengar batuk-batuk, sekali, dua kali, sampai tiga kali dengan suara yang cukup keras dan sangat menyakitkan, kemudian terdengarlah suara ludahan, diikuti suara siraman air.

Tak lama, si kakak kembali lagi ke ruang depan.

“Ekhm... Tumben. Sudah tengah malam, air PAM belum menyala.” Kakak kembali duduk di bangku dan menyandarkan tubuhnya di bupet kayu.

“Kerannya sudah dibuka?” tanya adik.

“Sudah.”

Adik kembali diam.

“Ngomong-ngomong, kau sudah melihat hasil modifikasi motor Pak Dadang, belum? Masih belum selesai sih, tapi coba kau lihat, aku sedikit menambahkan beberapa bagian di sistem kelistrikannya, dan coba kau perhatikan shockbreaker bagian depannya, sedikit aku tinggikan. Sengaja, supaya mirip dengan motor trail.

“Sudah.”

“Bagaimana menurutmu?” Ia kembali berbaring sambil menyelimuti seluruh badannya. “Ada yang kurang? Atau ada yang berlebihan?”

“Cukup.”

“Aku masih ingat, waktu SMP dulu, kau pernah minta dibelikan motor trail ke ayah, sampai kau merengek guling-guling di depan rumah. Padahal, kau sendiri belum bisa naik motor waktu itu, ohok ohok... orang-orang sampai khawatir melihatmu, dik”

“Sudahlah.”

“Siapa waktu itu yang datang menenangkanmu? Sarah, ya? Untung waktu itu dia ke rumah, dan ajaibnya ketika bertemu dia, kau langsung terdiam, hehehe ohok ohok... Ke mana dia sekarang? Setelah kalian putus, jarang sekali aku bertemu dengannya ohok ohok... Kalian masih berteman, kan?”

“Iya.”

Di luar rumah, tiupan angin masih terdengar sangat kencang, seperti terjadi topan atau sejenisnya di sana.

“Kau, benar-benar tidak suka bicara denganku, ya, dik?” Kakak menatap penuh ke wajah lawan bicaranya itu. “Bicaralah, ohok ohok...”

“Aku tadi bertanya, kak”

“Yang mana? ohok ohok...”

Adik kembali menatap sarang laba-laba yang sedikit bergerak di langit-langit ruangan. Seekor laba-laba berwarna coklat terlihat sedang menyelimuti seekor nyamuk dengan jaringnya. Di sampingnya, seekor nyamuk dengan ukuran lebih kecil baru saja hinggap di rumah sang maut.

Adik lalu menarik sebuah buku tipis berjudul Balada Orang-Orang Tercinta dari atas meja, kemudian ia membacanya. Kakak menegakkan dirinya kembali, berusaha duduk bersandar di bupet kayu.

“Oh iya, puisi karya siapa yang akan kau bacakan nanti?” tanya sang kakak.

Adik diam tak merespons pertanyaan itu.

“Dik?”

“Rendra, kak”

“Oo...”

“Astagaaa,” bisik sang adik, masih membaca.

“Kalau besok jadi berangkat, memangnya kau sudah punya bekal?”

Adik tak menjawab pertanyaan sang kakak.

“Dik?”

“Sudah.”

“Ohok ohok... Benar?”

“Lagi pula kakak tidak akan memberiku bekal, bukan?”

“Jangan bilang begitu, ohok ohok... kau tahu sendiri sudah seminggu ini bengkel sepi. Untung saja dua hari yang lalu ada Pak Dadang, dia berjanji akan memberiku ongkos lebih jika bisa menyelesaikan motornya besok, ohok ohok... Tapi yaaah, ohok ohok... aku malah tumbang seperti ini.”

“Jadi, besok aku boleh berangkat?”

Tiba-tiba, di kamar mandi terdengar suara keran air menyala.

“Nanti kita bicarakan lagi, ohok ohok... Kau dengar? Sepertinya air PAM sudah menyala, tolong kau ke kamar mandi dulu, pindah-pindahkan airnya”

Ditinggal sang adik ke kamar mandi, kakak kembali berbaring.

Suara angin di luar dan suara air di kamar mandi saling bergemuruh meramaikan suasana di malam itu. Selepas dari kamar mandi, adik melihat sang kakak sedang berbaring sambil memejamkan matanya, wajahnya tampak pucat, dan badannya menggigil. Adik kembali duduk di bangku dekat jendela.

“Sudah tiga tahun...,” ujar kakak tiba-tiba. “Sudah tiga tahun kita ditinggal ayah dan ibu. Tiga tahun, aku meneruskan bengkel milik ayah. Dan tiga tahun, kau jadi mahasiswa. Entah mengapa, sejak kejadian itu, aku tidak pernah mau pergi ke Jakarta lagi.”

“Jadi, besok aku boleh berangkat?”

“Mungkin banyak orang yang bilang bahwa itu hanya kecelakaan biasa...” kata sang kakak.

“Besok aku boleh berangkat?”

“Tapi kecelakaan yang bagaimana?”

“Kak!”

“Kecelakaan itu, akulah penyebabnya!”

“Kakak!”

“Apa?”

“Besok bagaimana?”

“Apanya?”

“Tinggal bilang saja, boleh, tidak?”

“Aku takut kau kenapa-kenapa.”

“Aku tidak memintamu membawa mobil itu besok!”

“Memang, ohok... ohok...”

“Kenapa kau ini? Tak seperti biasanya.”

“Memang. Jadi kau tidak akan pergi?”

“Hah?”

“Karena aku bersikap aneh, jadi kau tidak akan pergi?”

“Astaga... hanya dua hari! Tinggal selangkah lagi, aku malah tidak kau izinkan.”

“Ohok... ohok... Aku sedang merindukan mereka, dik!”

“Aku akan pergi.”

“Ohok ohok... Ohok ohok...”

“Syaripudin!”

“Apa? Ohok ohok... Baiklah-baiklah... ohok ohok.” Wajah pucat sang kakak seketika itu berubah. Sebuah senyuman tipis dan tatapan yang sayu kini terpampang di wajahnya “Tapi kau makan dulu, ohok ohok... Kau tak bisa membohongiku. Tadi aku membuka tudung saji di belakang, ohok ohok, makanan di sana masih saja utuh. Dari siang kau belum makan ternyata, ohok ohok...”

“Aku makan.”

“Makan apa? Kerupuk? Ohok ohok.”

“Iya.”

“Astaga... cepat makan ohok ohok... Kalau tidak aku tak akan mengizinkanmu berangkat, dan tidak akan membuatkanmu sarapan besok. Aku mau tidur pulas, biar kau besok kelaparan, ohok ohok”

“Baiklah-baiklah.”

Adik kemudian pergi ke belakang. Di atas meja hanya ada nasi, tempe goreng yang tinggal sepotong, dan semangkuk sambal kental berwarna agak hijau. Adik kemudian mengambil secentong nasi, sepotong tempe, dan sesendok sambal. Semuanya sudah tak bersisa, bersih, tinggal semangkuk sambal sisa kemarin saja yang masih ada di atas meja makan.

“Kau jangan over kalau latihan, dik,” ujar sang kakak sambil mengelap kedua sudut matanya.

“Kenapa dengan matamu, kak?”

“Tidak, ohok ohok...” Kakak kemudian mengubah posisi duduknya.

“Kau tahu, aku kira kau serius tadi.” Adik lalu duduk di bangkunya kembali.

“Aku memang serius.”

“Serius?”

“Aku sedang merindukan mereka.” Kakak mencoba duduk kembali bersandar di bupet kayu. “Aku masih punya banyak kesalahan pada mereka, dik, ohok ohok.... Aku ingin sekali membahagiakan mereka.”

“Aku pun sama, kak.”

“Tapi... Tak ada gunanya menyesali hidup. Hidup harus terus berlanjut. Inilah hidup. Hidup dan mati semuanya hal biasa, sudah suratan, hukum alam, ohok ohok....”

“Hukum alam.”

“Aku hanya ingin sekali saja bertemu dengan mereka lagi, walau dalam mimpi.” Kakak menyeka buliran air hangat yang kini berhasil merembes deras keluar dari kedua kelopak matanya.

Angin malam dan suara air di kamar mandi kini mengalun seirama terdengar seperti suara gerimis di hutan tropis, seperti suara pukulan gending Bali dan petikan kecapi orang-orang Sunda: tenang dan menenangkan hati. Adik kemudian membereskan buku kumpulan puisi di depannya itu.

“Jarang sekali kita bisa bicara seperti ini. Malam ini aku benar-benar berasa jadi kakak. Terima kasih banyak, dik, ohok ohok...” lanjut sang kakak.

Waktu terus berlalu, jam dinding yang disenderkan di bupet kayu telah menunjukan pukul 02.10. Adik lalu pergi ke kamarnya, meninggalkan sang kakak yang masih berbaring karena belum mengantuk di ruang depan. Dari kamar, terdengar suara batuk sang kakak, sekali, dua kali, dan sangat menyakitkan. Tak lama kemudian keran air terdengar ditutup dan suasana hening pun segera menyelimuti malam itu.

Di malam itu, sang kakak bersama ayah dan ibu pergi ke Jakarta. Kakak bersikeras ingin mengendarai mobil Kijang yang baru saja diperbaiki ayahnya. Ayah tampak ragu. Namun karena sang kakak memaksa, akhirnya diberikanlah kunci mobil yang sudah tua itu.

Di sepanjang perjalanan, semuanya berjalan dengan lancar dan normal. Kakak cukup bisa mengontrol laju kendaraan. Namun, ketika mobil telah memasuki jalan tol, kakak merasa ada yang tidak beres. Dirasainya laju mobil tidak pernah melambat. Diceknya pedal rem di bawah, dan ternyata rem mobil blong!

Di depan, sebuah sedan hitam nampak berhenti dengan tiba-tiba. Karena panik, dibantinglah stir ke arah kanan jalan. Mobil yang sedang berjalan cepat itu lalu ditabrak kontainer dari arah belakang. Mobil tua itu terbalik, berguling, dan dihantam kembali truk pengangkut pasir sampai terseret ke jalur berlawanan. 

Hanya beberapa saat saja mobil tua itu sudah tak berbentuk lagi, kaca depan telah pecah, badan mobil hampir terbelah, asap hitam langsung mengepul dari dalam kap mobil yang ringsek itu. Lampu mobil bagian depan yang pecah berkedip, lalu terdengar ramai suara klakson dari pengendara lain yang mengelilingi ketiga kendaraan yang sudah tak bergerak itu. Kecelakaan massal telah terjadi di sebuah tol arah Kuningan-Jakarta.

Dalam gelapnya suasana malam, adik yang masih memakai sabuk pengaman itu, dengan segera memeriksa tubuhnya. Tubuhnya tak bisa bergerak. Ada beberapa batangan besi yang menghimpit kaki dan tangannya, pecahan kaca tampak menancap di permukaan wajahnya, dan alangkah terkejutnya ia ketika sadar bahwa yang mengendarai mobil itu ternyata dia. 

Adik melihat ke arah samping, kursi yang ditempati ayah telah kosong, dan ia pun tak melihat ibu. Ketika melihat ke arah belakang, ia melihat samar bayangan seorang pria duduk berselimut kain sarung sambil memejamkan mata, lalu tersenyum ke arahnya.

“Astaga!” kata sang Adik. Ia lalu membuka kedua matanya, menggosoknya, lalu memperhatikan segala di sekitarnya. Semuanya tampak normal.

“Astaga, mimpi buruk.”

Bulir-bulir keringat tampak merembes dan keluar dari dahi dan lehernya. Adik lalu keluar dari kamarnya, hawa dingin dan udara pagi pun segera menyelimuti. Satu-satunya jam dinding yang ada di rumah itu telah menunjukan pukul 05.05. Ia pergi ke kamar mandi, lalu di lantai kamar mandi tampak bercak merah berbusa dan berlendir. Tanpa berpikir lama, adik lalu menyiramnya. 

Saat kembali menuju kamarnya, adik melihat pintu kamar sang kakak sedikit terbuka. Dari celah pintu kamar, ia melihat kakak sedang berbaring di lantai, masih mengenakan sarung. Adik lalu masuk ke kamar dan hendak membangunkannya. 

Ketika pintu kamar dibuka, tampak ia sedang meringkuk di bawah sajadah hijau kesukaannya, lengkap dengan sarung yang masih menutupi pinggang sampai ke ujung kakinya. Tiba-tiba adik terdiam dan kedua matanya tampak membesar.

“Kakak?” bisik sang adik sambil meraba tangan sang kakak.

“Astaga... Kakak!” ia menggucang-guncang tubuh yang dirasainya dingin dan terkulai lemas itu. Wajah sang kakak tampak pucat. Bibirnya membiru seperti tak ada lagi darah mengalir di tubuhnya.

“Kakak! Bangun, kak!” Adik terus mengguncang-guncangkan tubuh sang kakak. Tak ada respons, tubuhnya diam, kaku. 

Adik memeriksa semua tanda kehidupan padanya, dada sang kakak diam, nadinya pun tak berdetak. Tak hanya darah yang berhenti mengalir di tubuhnya, hal paling berharga yang mengisi raga itupun sudah tak menetap di sana.

“Kakak!” Adik terduduk lemas, kedua matanya tampak berkaca-kaca, sambil terus meneriakkan nama sang kakak. Ia terus mengguncang-guncangkan tubuh yang sudah tak berdaya itu. Dalam sarung kotak-kotak berwarna hitam, wajah kakak tampak teduh dan damai.

 Angin malam di bulan Januari ini sanggup mendinginkan hati mereka para pencari damai.