Manusia dan kemanusiaan, dua kata sederhana yang memiliki makna luar biasa di dunia. Sering sekali kita mendengar berbagai berita yang memuat tentang krisis kemanusiaan di sebagian wilayah di dunia. Namun, seberapa banyak dari kita yang benar-benar peduli, atau mungkin lebih banyak yang menganggap ini hanya sebuah topik yang dibincangkan sesaat untuk menghilang kemudian?

Masing-masing orang tentu memiliki perspektif berbeda tentang arti kemanusiaan, atau bisa saja tak seorang pun pernah memikirkan arti dibalik kemanusiaan, yang mungkin terlalu filososfis bagi sebagian orang. Namun, apalah arti sebuah devenisi, manusia membutuhkan tindakan lebih dari pada kata-kata manis belaka.

Semua manusia yang lahir di dunia, saya yakin mereka memiliki nurani dan kebaikan, tapi proses hidup dan pengalaman pada akhirnya bisa mengubah seseorang, dari yang baik menjadi jahat, atau sebaliknya. 

Agama sering dipandang sebagai sisi penyejuk hati manusia, yang menuntun individu menuju kebaikan tertinggi menyangkut moral dan kemanusiaan, tapi sebaliknya, agama juga bisa jadi ajang saling benci dan hujat satu sama lain. Apa yang paling buruk bahkan, agama dijadikan tameng untuk membedakan satu orang dengan orang lain. apakah ini tindakan yang benar di mata Tuhan dan agama?

Apa yang sering kita jumpai saat ini adalah sisi fanatisme berlebihan pada agama, maupun bentuk kebudayaan tertentu, yang bisa membuat seseorang terlalu idealis, membela dengan membati buta, bahkan tak jarang ‘halal’ untuk mencaci maki, dan menyalahkan hal-hal yang tak satu pandangan. Tidak mudah memang menyamakan pemikiran, tapi apa yang paling sulit, adalah saling memahami dan menghormati antar individu, pemikiran, dan pilihan hidup.

Kebanyakan dari apa yang kita lihat sekarang, terutama di media sosial adalah sisi egoisme tinggi, di mana satu orang memandang pendapat dan pilihannya lebih benar, dibandingkan yang lain dan menghujat pilihan orang lain, bahkan sekalipun hal tersebut merupakan sesuatu paling mendasar yang membentuk manusia, yaitu agama. Satu sama lain saling menghujat, membenci dan menjatuhkan, melupakan bahwa mereka semua sama, sama-sama manusia, memiliki darah, kulit, daging dan tulang! Apa yang berbeda hanya pikiran, ideologi, idealisme, dan agama.

Apakah manusia yang beriman dan beragama menjadi individu yang lebih menusiawi dibandingkan dengan yang lain? Tidak selalu saya kira. Kadang orang-orang yang merasa lebih beriman, malah tanpa sadar menjauh dari kemanusiaan itu sendiri dan membentuk nilai mereka, yang pada akhirnya tanpa sadar melukai perasaan manusia lain, tetapi tak pernah merasa salah, karena berlindung dibalik tameng agama sebagai ‘yang paling benar’.

Kadang-kadang ada seseorang yang berpikir jika apa yang mereka lakukan adalah menegakkan ajaran agama yang mereka anut dengan patuh dan taat, sampai kemudian menjadikan agama sebagai Tuhan, dan melupakan Tuhan itu sendiri sebagai dasar kekalnya agama. Jika, Tuhan saja bisa mencintai tanpa pandang bulu, mengapa manusia bisa begitu pilih kasih?

Manusia kehilangan sisi kemanusian bukan karena agama yang mereka anut, bukan salah Tuhan yang mereka sembah, tapi pikiran yang mereka bentuk, yang mengeliminasi kemanusiaan seolah tak pernah ada, dan menganggap diri mereka, pendapat dan keyakinan mereka berada di tingkatan tertinggi dibandingkan yang lain, melebihi Tuhan yang maha tahu. Ego dan keangkuhan dengan begitu mudah merusak sudut pandang seseorang, dan ketika itu yang terjadi, yang terluka bukan hanya satu orang, tapi bahkan puluhan, hingga ratusan orang.

Terorisme merupakan salah satu contoh paling merusak akibat ego, keangkuhan dan pembenaran pribadi yang menghilangkan sudut kemanusiaan. Seseorang yang hanya menganggap benar pendapatnya sendiri, tak mau menerima dan menghormati seseorang yang berbeda dengan mereka. Ini bukan salah Tuhan, bukan salah agama, tapi kesalahan seorang individu yang kehilangan sisi kemanusiaan ketika memeluk agama.

Agama dibuat untuk manusia, ketika manusia sudah tak lagi ada di dunia, apakah agama masih akan diajarkan pada anak cucu? Agama dibuat untuk ‘mendidik’ manusia menjadi baik, tapi tak mengajarkan manusia menjadi benar.  Tuhan tak meminta kita menjadi benar ketika beragama, Tuhan bahkan tahu manusia memiliki begitu banyak kesalahan, dan memberi begitu banyak ampunan. Lalu bagaimana manusia bisa membenarkan diri mereka sendiri?

Tak ada yang pasti benar di dunia ini, semua orang berusaha menjadi benar atau setidaknya berusaha mendekati kebenaran. Kebenaran ada dalam pikiran, sementara kemanusiaan berada dalam lubuk hati dan nurani. Namun, kebanyakan dari kita lebih banyak menggunakan pikiran dan melupakan bagian terkecil yang disebut sebagai hati. Di mana di hati itu juga saya kira Tuhan berada, jarang diingat, berada di tempat yang ‘kecil’ dan terlupakan. 

Apa yang saya pahami adalah, tak ada batas dalam kebaikan dan tembok dalam kemanusiaan. Apa yang membuatnya terbatas adalah manusia itu sendiri dengan pemikiran mereka.  Manusia baik bisa lahir dari golongan mana saja, dari segala latar belakang sosial dan agama, tanpa pandang bulu. Mereka yang menggunakan hati lebih daripada pikiran dan keegoisan. 

Bagi saya pintu kedamaian datang dari saling memahami, di mana manusia bisa belajar bagaimana cara memanusiakan manusia entah karena mereka mengerti penderitaan, rasa sakit atau keinginan untuk saling menghargai. Meski saya juga tidak bisa mengabaikan pentingnya nilai agama, karena tanpa hal tersebut manusia akan hilang seolah tanpa identitas, di Bumi manusia yang luas ini.

Orang beragama, saya yakin Indonesia tidak pernah kehilangan mereka, apa yang lebih mudah hilang dari kehidupan manusia adalah hilangnya kebaikan, toleransi dan rasa saling memahami untuk melakukan kebaikan. Ketika kebaikan menghilang dari dunia apa yang tersisa hanya celaka.

Berapa banyak kehancuran di dunia,perang, petaka, terjadi karena ego sekelompok orang, golongan, agama, ras, negara, dan kepentingan? Tidak terhitung, ribuan atau mungkin jutaan orang mati sia-sia, yang mungkin sebagian besar dari mereka tidak mengerti, mengapa dan untuk siapa mereka mati. Manusia bisa sekejam itu, bahkan ketika mereka taat dan memegang kitab suci.

Apa yang lebih miris adalah perang dengan membawa alasan agama. Kenyataannya kemanusiaan itu bisa berdiri sekalipun tanpa agama, tapi agama tanpa manusia akan menyisakan cerita.

Tidak peduli berapa ratus agama lahir di dunia, atau berapa banyak budaya berkembang, ketika manusia kehilangan kesadaran akan kemanusiaan, agama juga dengan cepat kehilangan arti.  

Kebaikan dan kemanusiaan itu tidak bergantung pada agama, dan tidak lahir dari budaya tertentu. Kebaikan bisa melintasi batas keduanya bahkan bisa berdampak lebih. Ketika seseorang mati apa yang akan selalu teringat dan tertulis di atas nisan adalah nama, bukan agama, suku, maupun budayanya. Hal itulah cara sederhana manusia dikenang.