Sebagai pengantar, saya harus menebalkan maksud tulisan ini, yang berbicara tentang ruang lain dari isu radikalisasi, intoleransi, dan kekerasan. Ruang yang tidak kalah penting dan jarang dipentingkan itu adalah: mental nirkekerasan pegiat toleransi.

Dalam kondisi mengkhawatirkannya sendi-sendi kerukunan antar umat beragama, kajian dipusatkan pada banyak hal di luar diri “pegiat”—istilah ini merujuk pada para aktivis dan pemikir yang memiliki perhatian dan keprihatinan besar pada kasus-kasus intoleransi berikut derivasinya. Bagaimana kebencian muncul, berkobar, dan menelan banyak korban. Bagaimana sekelompok orang bisa ‘tidak tahan hati’ melihat Liyan.

Namun, karena tidak banyak karya yang mengulas “pegiat” itu sendiri, maka izinkanlah tulisan ini berbicara hal lain yang (se)patut(nya) dikaji ulang; sebuah tantangan bagi pegiat untuk menaklukkan diri dengan menjawab sebuah pertanyaan: seberapa anti-kekerasankah kita?

Sekelumit Konteks

Kasus radikalisme, intoleransi, dan kekerasan bukanlah barang baru. Dalam sejarah Islam, ia bisa kita temukan pada peperangan sengit di Khurasan pada 1000 M, Nisapur pada 1159 M, di Isfahan pada 1186 M, dan Yerusalem pada 1470 M. Tercatat pula pelbagai kekerasan Sunni-Syi’ah di beberapa kota seperti Bagdad, Basrah, Karkh, dan Rayy pada tahun-tahun antara 962 hingga 1148 M.

Konflik kekerasan rupanya tidak semata merupakan khas dunia Islam. Tahun 1572, tercatat kisah Pembantaian St. Bartholomew di Prancis yang di dalamnya orang Katolik membunuh lebih dari 10.000 Protestan Prancis.

Hal tersebut merupakan balasan atas kejadian tahun 1530-an, saat Henry VIII dari Inggris memenggal 161 orang Katolik di Tyburn, dan membakar Michael Servetus, seorang teolog yang menolak iman Kristen di Trinity. Terutama pasca serangan 11 September 2001, kekerasan semakin menguat, terus berlangsung, balas berbalas antar kelompok masyarakat.

Terdapat kajian yang menjelaskan bahwa pada awalnya, fenomena intoleransi dan kekerasan tidaklah disebabkan perbedaan keyakinan. Ada rekayasa tertentu dari mereka yang “berkepentingan atas politik, ekonomi dan sumber daya alam”, yaitu raksasa modal asing, untuk menguasai negara-negara dunia ketiga. Untuk itu, sejumlah konflik dan kondisi saling curiga harus diciptakan dan dipelihara, untuk memantik perpecahan, dan memudahkan penguasaan.

Kajian tersebut boleh jadi benar. Namun kini, fenomena intoleransi dan kekerasan sudah mendarah daging; suatu konflik tidak lagi dipicu oleh kekuatan modal pihak tertentu semata, melainkan karena pendeknya pemahaman dalam menyikapi keragaman. ‘Kipas api’ sudah bekerja dari dalam. Benci terlanjur mengkristal, diiringi kedangkalan wawasan dan provokasi media.

Maka isu radikalisme, intoleransi, dan kekerasan harus menjadi diskursus baru, yang genting untuk digodok, agar “pegiat” menemukan solusi yang tepat. Namun pegiat jarang mengembangkan wacana tentang diri mereka sendiri, yang sebenarnya punya urgensi lantaran beberapa persoalan mendasar.

Belakangan merebak kasus intoleransi dan radikalisme, yang berujung pada tindakan kekerasan. Umat Budha yang dilarang beribadah dan dipaksa membaca surat pernyataan di Tangerang, atau pengrusakan rumah ibadah Gereja Lidwina di Sleman, adalah dua yang ter-blow up.

Kasus-kasus tersebut layak membuat kita geram, tapi lantas apa? Kita memutuskan membenci pelakunya, mengutuk kebodohan dan kesombongannya. Pembelaan dengan mendiskreditkan pihak lain seperti ini, bukankah sama-sama menindas?

Umpama kitalah pihak yang melihat Liyan sebagai ancaman, dan menjadi kaum sumbu pendek yang intoleran, kita tentu akan cenderung melakukan dua hal. Pertama, kita berupaya menghapus keberadaan Liyan—sebuah cara yang ekstrem. Kedua, kita akan mencoba ‘meraih’ Liyan ke dalam keberadaan kita dan melarutkannya menjadi identitas yang kita kehendaki.

Motifnya sederhana: kita merasa peduli dan khawatir pada keselamatan Liyan. Kita menindak pihak lain dengan menjadikan diri kita sebagai ‘pusat wacana’. Ini adalah kekerasan jenis baru, sulit diakui karena berakar dari niat (yang dianggap) baik dan sakral.

Celakanya, ia tidak lagi merupakan khas pe(ri)laku intoleran dan kekerasan saja, melainkan juga para “pegiat”. Kedua pihak saling menjadi pusat wacana dan saling menyingkirkan. Bukankah keduanya berujung pada penindasan?

Perseteruan tak usai karena wacana diletakkan vis a vis, berlogika menang kalah. Yang tertindas berkemungkinan menjadi penindas baru. Saya kerap berjumpa dengan banyak pegiat, dan saya mengevaluasi sinisme yang sama, yang tanpa sadar tidak lagi diarahkan pada ‘apa’, melainkan pada ‘siapa’. Saya tertantang oleh pertanyaan: bisakah kita membela tanpa membenci?

Dalam rangka menghindari akibat dari pola vis a vis itu, dan sebagai upaya menghadirkan konsep bina-damai lain yang menantang, saya ingin mengulas ajaran seorang besar dari tanah India: Mahatma Gandhi.

Tentang Gandhi

Di tengah banyak rujukan tentang riwayat lelaki yang diberi gelar mahatma (yang agung) ini, saya hanya perlu menceritakan kesan Louis Fischer, jurnalis Amerika yang mengikuti kampanye Gandhi bertahun-tahun.

Gandhi dikenalnya sebagai pribadi yang hangat dan lembut; memiliki tekad kuat dan prinsip tanpa goyah; semangat hidupnya besar, selera humornya baik, dan pandai menularkan kebahagiaan. Lelaki miskin yang damai.

Semua keistimewaan itu tidak ia dapatkan cuma-cuma, melainkan hasil jerih payah puluhan tahun, bereksperimen dengan begitu banyak situasi dan berhasil membuktikan kebenaran ajarannya. Kampanyenya berpangkal pada apa yang telah ia buktikan, bukan yang ia pikirkan. Dalam jihadnya mengubah diri, Gandhi tidak mengandalkan kognisi semata; ‘doa’-lah, lewat meditasi yang rutin, yang menjadi kekuatan terbesarnya bereksperimen atas kebenaran.

Gandhi adalah pria yang bangun pada pukul 03.00 dini hari agar dapat menikmati udara sejuk dan sunyi pagi, dengan bermeditasi. Dalam meditasi itu, ia ‘meminta’ begitu besar energi pada Tuhan untuk digunakan sehari penuh mempraktikkan kesabaran, keberanian, kegigihan, dan cinta pada semua orang tanpa terkecuali. Ia bahkan melepaskan hampir seluruh hak privasinya hanya demi pelayanan masyarakat.

Kita bisa meneladani Gandhi dalam banyak hal, namun dalam rangka menyikapi fenomena radikalisme, intoleransi dan kekerasan, kita hanya perlu mengulas dua ajaran Gandhi yang utama: Satyagraha dan Ahimsa. Keduanyalah pangkal ajaran nirkekerasan Gandhi.

Ajaran Gandhi

Satyagraha berarti ‘berpegang teguh pada kebenaran’—kata satya berarti kebenaran. Mereka yang menganut Satyagraha disebut sebagai satyagrahi. Kebenaran yang dimaksud Satyagraha adalah kebenaran yang paling dalam tentang kehidupan, yaitu bahwa “Semua kehidupan adalah satu.” Bahwa kita dan mereka yang memusuhi/menyakiti kita berasal dari akar yang sama: kasih sayang.

Manusia lahir karena proses kasih sayang yang rumit dan kompleks, dan kasih sayang adalah ‘darma’ (hukum alam) manusia. Bertindak di luar kasih sayang berarti menciderai darma. Melawan kekerasan dengan kekerasan adalah semu; nampak efektif, namun hanya sementara, karena kerusakan setelahnya bersifat kekal. Bila mata dibalas dengan mata, dunia akan buta, itu keyakinan seorang Gandhi.

Sementara Ahimsa—yang keliru diartikan menjadi non-violence—menegaskan bahwa tujuan utama manusia adalah menghilangkan kekerasan. Karena jika kekerasan hilang dari hati manusia, keadaan yang tersisa dan tercipta hanyalah kasih sayang. Tafsir atas Ahimsa menuntut keteguhan dalam praktek (berlatih menghilangkan kekerasan) bertahun-tahun, yang dimulai dari diri sendiri.

Bagi ajaran ini, pelaku dan korban kekerasan hakikatnya sama-sama sedang ‘tertindas’—karena pelaku kekerasan sebenarnya ditindas oleh kekerasan dalam hatinya sendiri. Mereka yang hendak menghentikan lingkar kebencian itu haruslah berkualitas dan berkondisi ‘tidak tertindas’, yakni tidak memiliki sifat kekerasan sedikit pun.

Bagaimana cara kerjanya?

Seorang satyagrahi meyakini bahwa kebenaran tidak mengenal kompromi. Ia harus ditegakkan, namun harus pula tanpa kekerasan—karena antara ‘aku’ dan ‘kamu’ adalah satu.

Seorang satyagrahi tidak takut pada situasi apapun ketika mengupayakan bina-damai; satyagrahi tidak gentar memasuki konflik demi kepentingan kedua belah pihak, tanpa permusuhan, tanpa kebencian, bahkan kata-kata kasar; provokasi tidak membuat satyagrahi lupa bahwa ia dan penyerangnya adalah satu.

Dengan kata lain, seorang satyagrahi dituntut untuk tabah memasuki konflik dan ‘memasang badan’ membela korban, dan di saat yang sama, tidak menyakiti pelaku. Bahkan, menurut Gandhi, bila harus mengorbankan nyawa sekalipun. Satyagrahi, dalam aksinya, bukan memaksa pelaku menghentikan kekerasan, melainkan menaruh percaya pada kasih sayang dalam jiwa si pelaku, dan menyadarkannya pada kasih sayang.

Satyagrahi mengembalikan baik pelaku maupun korban pada darmanya, yaitu kasih sayang. Yang ditindas tidak membenci, yang membela tidak membenci, yang semula menjadi pelaku berhenti membenci. Hanya dengan demikian, lingkar kebencian akan berakhir, dan kekerasan perlahan akan sirna.

Tulisan ini sekaligus menyanggah anggapan bahwa ajaran nirkekerasan Gandhi adalah ajaran pasif. Sebaliknya, ajaran Gandhi menantang keberanian tertinggi dalam diri seseorang, menuntut kontribusi aktif seseorang dalam mencegah konflik.

Ajaran ini menolak seseorang yang lari ketika kekerasan terjadi, saat seharusnya ia tabah terlibat. Bahkan Gandhi menantang kita lebih jauh: seorang satyagrahi harus mencintai penyerangnya bahkan saat kekerasan itu sedang terjadi.

Sekilas seperti utopis. Mustahil manusia bisa menjadi sesempurna itu.

Tapi sekali lagi harus ditegaskan: Gandhi tidak mengampanyekan suatu ajaran bila ia sendiri belum berhasil dalam prakteknya, dan faktanya, ia dan banyak pengikutnya berhasil menerapkan itu. Ajaran Gandhi mensyaratkan kepercayaan mutlak pada manusia. Gandhi mengajarkan untuk melihat dimensi kasih sayang manusia, dan percaya penuh pada hal itu.

Hanya dengan demikian, ketika mendapati kejahatan manusia, seseorang bisa melihatnya sebagai hanya ‘unsur sekunder’ yang harus diubah dengan menyentuh ‘unsur primer’-nya, yakni kasih sayang (universal, semua makhluk memilikinya). Hanya dengan demikian, kita bisa mengutuk kejahatan tanpa turut mengutuk manusianya.

Satyagraha bukanlah seni mencintai, melainkan menjadi cinta itu sendiri. Gandhi menekankan sifatnya yang “Lembut, tidak pernah melukai, tidak pula merupakan reaksi dari sebuah kemarahan. Nirkekerasan diuji di hadapan kekerasan, bukan di hadapan kedamaian. Kita tidak bisa mencapainya kecuali kita selalu sadar, selalu waspada, dan berusaha.”

Karya Gandhi

Karya Gandhi bukanlah kumpulan tulisannya, melainkan kumpulan pembuktian atas ajaran Bagavad Gita—kitab suci umat Hindu yang dianggapnya sebagai ‘Ibu segala jawaban’. Gandhi menegaskan bahwa ajarannya (tafsirnya atas Gita) tidaklah utopis (selama seseorang bertekad kuat) dan mampu membawa perubahan. Karya Gandhi bukanlah wacana mewah, melainkan keberhasilan praktek multikonteks-multisikon.

Dengan ajaran itu Gandhi terkekeh saat ditangkap rezim dan dijebloskan ke dalam penjara, bahkan tersenyum di hadapan lelaki yang memblesakkan sebutir peluru ke dadanya. Dengan ajaran itu para pengikutnya tidak membalas lecut pecut polisi di berbagai demonstrasi.

Catatan yang harus disimak adalah sikap Gandhi dalam konflik kekerasan Hindu-Muslim yang sedang pada puncaknya di India, dalam rentang 1946 – 1947. Pada hari proklamasi, Gandhi yang telah sedari awal memperjuangkan kemerdekaan India, memutuskan tidak hadir, karena merasa kemerdekaan itu telah mengkhianati komitmen nasional atas satyagraha dan ahimsa.

Semasa perang berdarah itu, di antara mayat bergelimpangan, Gandhi (yang berusia 70-an tahu waktu itu) memutuskan berjalan kaki, tanpa alas kaki, bergerak menuju jantung-jantung konflik—desa-desa kecil yang hancur di Negara Bagian Bihar dan Noakhali.

Hanya satu yang ia lakukan di sana: pelayanan. Gandhi tetap tidak goyah: mengampanyekan kasih sayang, membela para korban, dengan resiko dibantai oleh ekstrimis Hindu yang tidak suka dengan toleransinya atas Muslim.

Gandhi tidak bersantai di ruang seminar: Gandhi terlibat dalam konflik! Membaca kisahnya, hati turut teriris ketika Gandhi melihat pembunuhan di depan matanya sendiri, berusaha mencegah tapi yang ia dapatkan hanya pukulan dan cacian—Gandhi tidak dibunuh semata masih ada hormat dari kaum Hindu atas gelar mahatma-nya.

Gandhi bertarung dengan kegentaran dalam hatinya sendiri, keinginan untuk mengutuk para pelaku, dan dorongan untuk menyerah dan lari sebagai pengecut. Tapi Gandhi membuktikan sebaliknya.

Menghadirkan Lebih Banyak Gandhi

Kita tidak boleh menganggap ajaran Gandhi sebagai utopis, tapi kita tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa ajaran Gandhi luar biasa tidak mudah. Tapi ia tidak berusaha ‘mengajarkan’, ia berusaha ‘menjadi perubahan yang ia inginkan di dunia’.

Seperti ditegaskan di atas, Gandhi pun butuh waktu puluhan tahun berproses, memenangkan dirinya sendiri pelan-pelan.

Ia memulainya dari kemenangannya sebagai pengacara di Afrika, yaitu saat ia tidak hanya membela kliennya, melainkan mendamaikan kedua belah pihak. Hingga kurun waktu tertentu, ia masih membuat istrinya, Kasturbai, ‘tersiksa’ karena berusaha ‘memaksakan’ penerapan totalnya, alih-alih mengajaknya dengan teladan.

Pun ketika memotivasi pengikutnya, Gandhi menyederhanakan sudut pandang. “Mulailah dari mana anda berada,” ujarnya. “Bila anda belum bisa mencintai Gubernur Jenderal Inggris, mulailah dengan mencintai keluarga dan tetangga anda. Cobalah mengupayakan kesejahteraan mereka di atas kesejahteraan anda sendiri. Setiap waktu, perluas lingkaran cinta kasih anda. Selama anda berusaha sebaik mungkin, anda takkan gagal,” katanya.

Ajaran Gandhi bukanlah strategi politik bahkan untuk ‘merekayasa kedamaian’, melainkan seni menjalani hidup tanpa pamrih. Mental pamrih manusia menciptakan rasa takut kehilangan, sementara Satyagraha menuntut keberanian untuk melepas hak, demi diabdikan pada orang lain. Itulah pelayanan. Gandhi dan pengikutnya kerap mengambil resiko dan mendatangi pusat-pusat konflik, menemui banyak pihak, mengajak berdamai. Sepuluh kali Gandhi ditolak kasar, sebelas kali Gandhi melembut datang. Itulah pelayanan.

Dalam pelayanannya, Gandhi datang dengan kesederhanaannya, dengan khadi (jubah kasar) yang ditenunnya sendiri, dan berbicara dengan bahasa yang lugas, santun, namun tidak berlebihan.

Gandhi adalah ‘pangeran pengemis’ yang duduk di gerbong kereta tempat kasta rendah, dan di stasiun-stasiun, ia meminta sedekah untuk diberikan pada Harijan—anak-anak Tuhan, sebutannya untuk kasta rendah yang selama ini dibuang secara tidak manusiawi. Gandhi menjelma cinta itu sendiri.

Saya tertegun setiap kali membaca sejarahnya, lalu bergumam, baiknya ada lebih banyak Gandhi di tengah kita. Tentu, dengan cara kita masing-masing. Gandhi menggali kitab sucinya, kita menggali kitab suci kita sendiri. Gandhi mendekatkan diri pada Tuhan dan berdoa meminta kekuatan, kita pun begitu. Gandhi memulainya dari pinggir hidupnya yang terdekat, kita bisa melakukan hal yang sama.

Sebagaimana yang saya yakini, pegiat harus membangun toleransi dari dirinya sendiri, dari kesatuan pikir, ucap, dan laku. Pegiat dilihat kepantasannya bukan dari seberapa banyak wacana yang ia kuasai, melainkan bagaimana ia bersinggungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Dengan kata lain, dari akhlak kesehariannya—masih berbataskah, atau menembus batas. Pegiat tidak boleh mengutuk eksklusifitas agama dan di saat yang sama menjadi eksklusif atas eksklusifitas tersebut.

Baiknya ada lebih banyak Gandhi di tengah kita. Upaya menghadirkan Gandhi, sekali lagi, bukanlah sebagai strategi politik merekayasa kedamaian, melainkan dalam rangka menciptakan kedamaian sejati, yang dimulai dari diri sendiri. []


Sumber:

M.K. Gandhi, Mahatma Gandhi: Sebuah Autobiografi. Penerbit Narasi, 2009.

Eknath Easwaran, Gandhi The Man. Nilgri Press, 2011.

Jasser Auda, Membumikan Hukum Islam Melalui Maqasid Syari’ah. Penerbit Mizan, 2015.

Goenawan Mohamad, Pada Masa Intoleransi. IRCiSoD, 2017.