Bekas hujan masih saja menempel di dedaunan pohon depan rumah. Terlihat jelas kilauan sinar matahari memantul dari butiran-butiran yang tersisa.

Angin pagi menambah khidmat suasana. Walau dihinggapi dingin sisa semalam, namun pagi ini patut untuk disyukuri. Anggukan pohon yang diterpa angin seakan mengiyakan isyarat pagi nan damai ini.

Di rumah dengan ukuran sedang yang diisi oleh empat orang anak manusia, isyarat pagi senantiasa dijawab dengan ocehan, omelan, dan sesekali candaan. Apalagi, kalau ibu tahu, si Kulup-anak sulungnya- masih saja molor di peraduannya, ketika pagi menjelang. 

Tak butuh waktu lama, bagi sebaskom air mendarat di wajah kusut Kulup, jika saja ia tidak bersegera beranjak dan mencuci muka. Ibu memang disiplin, karena ibu tidak ingin anaknya hidup manja dan tidak tahu tanggung jawab. Meskipun begitu, Kulup tetap menyayangi Ibu dan adik-adiknya sebagaimana ia menyayangi bunga melati di depan rumah mereka.

Bunga melati Kulup punya sejarah panjang yang mengiringi perjalanan keluarga mereka. Semenjak ayahnya Kulup tiada, praktis hanya bunga melati ini yang selalu mengingatkan Kulup pada Ayah.

Kulup masih ingat betul, betapa girangnya dia sewaktu ayah membawa pulang bibit bunga melati. Sebab ia tahu dari cerita ibu kalau bunga melati itu sangat indah, membuat sejuk mata memandang. 

Kebetulan pula waktu itu, Kulup dan Ayah baru saja membersihkan rumput liar didepan rumah mereka untuk dijadikan taman seperti permintaan ibu. Namun itu sudah lama berlalu. Ibu, Kulup serta adik-adiknya perlahan mulai menyusun kembali mozaik kehidupan mereka untuk kembali mengarungi sisa umur yang diberikan Tuhan. Ia sudah menanamkan tekad dalam hati bahwa ialah yang akan menggantikan peran Ayah sebagai kepala keluarga.

“Kulup, tolong bantu ibu menyiangi taman didepan rumah kita nanti ya,” sahut ibu dari dapur dengan suara agak melengking khas ibu-ibu.

“Sekarang ini, kamu mandilah dulu, tapi jangan lupa ayammu di belakang kasih makan. Itu, kamu ambil saja sisa nasi semalam dekat tempat penyucian piring, sudah ibu kumpulkan semua dalam piring bekas dekat,” sambung ibu dengan intonasi bicara yang lebih cepat tapi masih agak meninggi.

“Baik bu,” jawab Kulup singkat, padat dan berbisa.

Tradisi pagi di rumah ini, sama seperti di rumah mana pun di Desa Sukamaju, tidak lari dari kamar mandi dan dapur. Kamar mandi adalah tempat pertama yang dituju ketika terbangun mengakhiri tidur, sementara dapur adalah tempat ibu bertempur sebelum menjemur.

Sebab, adik-adik Kulup yang masih kecil-kecil selalu merengek meminta minum susu dan makan camilan panas. Mereka memang tidak meminta yang muluk-muluk, cukup kalau ada kentang atau ubi goreng, yang penting bisa dimakan dan rasanya renyah.

Setelah menyelesaikan mandi paginya yang cukup membuat tubuh dari ujung kuku hingga ujung rambut menggigil. Kulup dikejutkan dengan mekarnya sebuah bunga melati tunggal. Sementara, kuncup-kuncup yang lain masih belum saja merekah.

“Ibu.. Ibu.. coba lihat ke sini. Lihat bunga melati kita ibu,” teriak Kulup dari taman depan rumah.

“Ada apa Kulup? “ ibu menyahut sambil berlari keluar rumah.

“Lihat, ibu, bunga melati kita ini mekar, sementara yang lain masih saja menguncup. Kok aneh ya, bu.”

Ibu yang baru saja akan meniriskan kentang goreng yang baru dimasak dengan minyak panas, dibuat bingung oleh kejadian ini. Layaknya di desa setiap kejadian aneh selalu dihubungkan dengan mitos atau kepercayaan-kepercayaan tertentu. 

Apalagi pada dua hari berikutnya, gugurnya satu kelopak bunga pada hari ketika Kulup dikejutkan dengan apa yang dilihatnya di taman, dikait-kaitkan dengan kemenangan tetangga Kulup, Pak Basuki, yang memasang angka 1 pada undian lotre, dan memenangkan satu unit sepeda setelahnya.

Hari-hari berikutnya, keanehan semakin tampak jelas. Bahkan warga desa mulai beramai-ramai datang setelah mendengar tumbuhnya bunga ajaib di depan rumah Kulup. Banyak warga yang dihinggapi rasa penasaran dan tak jarang ada yang mau membayar hanya untuk meminta prediksi nomor togel.

“Ibu, bagaimana ini? Warga semakin ramai, apa yang mesti kita lakukan?“ tanya Kulup panik pada ibu.

“Biarkan saja, Kulup. Toh selagi mereka tidak merusak taman, ya, tidak apa-apa.” Ibu menenangkan Kulup.

Sampai peristiwa tak terduga, pada hari ke-7, kelopak bunga melati Kulup yang masih tersisa tinggal 3 helai saja. Rumah Kulup didatangi pasangan calon bupati dan wakil bupati yang akan bertarung di daerah mereka. 

Kulup sangat bingung dan tidak tahu bagaimana cara untuk bersikap. Meskipun, pada akhirnya, Kulup mempersilakan pasangan calon bupati dan wakil bupati ini untuk menyampaikan keinginan mereka.

“Kira-kira pada Pilkada nanti nomor berapakah yang akan menang?” sebut calon bupati di depan kelopak bunga di taman milik Kulup.

Dengan sabar mereka menunggu berapa jumlah kelopak yang akan jatuh. Karena, isyarat yang sering dimunculkan bunga melati Kulup selalu lewat kelopak yang jatuh.

Setelah menunggu lumayan lama, bahkan sudah hampir menjelang senja, tidak ada tanda-tanda kelopak bunga akan jatuh. Sewaktu memutuskan akan pulang dan meminta agar Kulup saja yang melihatnya setelah itu, mengabari mereka. Hal yang tak terduga terjadi.

“Kok bunganya lama-kelamaan terlihat menguning? Sepertinya akan layu dan mati,” sebut Kulup yang disertai dengan terhentinya langkah calon bupati dan wakil bupati ini.

Benar saja, kelopak bunga melati Kulup tak ada yang jatuh. Yang ada malah bunga tersebut layu dan mati bersama tiga kelopak yang masih tersisa. Dari jauh terdengar suara warga menyela.

“Bahkan, bunga pun tahu begitu kotor dan busuknya politik yang dipertontonkan umat manusia. Sehingga memutuskan untuk mati dan bunuh diri saja.”

Ucapannya diikuti oleh tawa warga yang turut hadir disana menunggu momen yang ternyata tak kunjung terjadi.