Tak ada yang lebih keji kecuali kebencian. Kebencian adalah emosi yang paling dalam dilambangkan kedengkian dan permusuhan. Hanya kebencianlah persatuan sebuah bangsa akan berserakan.

Kebencian itu ketidaktulusan, kebencian itu emosional. Pada titik tertentu kebencian adalah kebodohan. Maka, tak ada kebencian yang mempersatukan. Kebencian selalu berakhir dengan peperangan.

Hanya dengan kebencian sebuah bangsa bisa saling menganiaya. Karena kebencian adalah sumber ketidakadilan.

Tuhan dalam satu ayatnya menyatakan, “......Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka)…” [Al Maa-idah 2]

“… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [Al Maa-idah 8]

Martin Luther King dalam satu kalimatnya juga mengatakan, "Kegelapan tak bisa mengusir kegelapan. Hanya terang yang dapat mengusirnya. Sama halnya dengan kebencian. Kebencian yang dibalas kebencian tidak akan menghilangkan kebencian tersebut. Hanya cinta yang dapat menghilangkan kebencian itu."

Nukilan ayat dan kalimat di atas pantas direnungkan agar kebencian tak digunakan sebagai cara untuk saling menjatuhkan. Hal tersebut karena bahaya kebencian bukan hanya soal perselisihan, namun juga soal disintengrasi bangsa.

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa kebencian telah menjerumuskan suatu bangsa ke jurang kehancuran. Kerajaan nusantara, misalnya, runtuh akibat kebencian. Maka tak satupun bukti kejayaan kerajaan tersebut kini tersisa kecuali puing-puing bangunan.

Perang Paregreg di zaman Majapahit pecah karena kebencian. Demak Bintoro runtuh yang diserang pasukan Pajang juga karena kebencian. Pajang hancur berantakan juga karena kebencian para kesatria Mataram. Mataram pun hancur karena kebencian.

Hal yang sama pada kerajaan Islam nusantara. Mulai kerajaan Samudera Pasai, Aceh, Demak, Cirebon, Banten, hingga Ternate dan Tidore, semuanya pecah akibat kebencian. Politik kebencianlah yang membuat semua kerajaan itu kini hanya menjadi puing-puing masa lalu.

Bangsa ini, pasca kemerdekaan, juga telah mengalami masa-masa sulit karena perkara yang sama. Politik kebencian yang dipraktikkan para pemilik kepentingan telah melahirkan perang saudara; masa PKI, konflik di Ambon, dan perang saudara di (Sigi) Sulawesi Tengah.

Perang saudara di tahun 1966 (PKI) menjadi bukti bahwa kebencian berbahaya. Ribuan bahkan jutaan orang konon telah menjadi korbannya. Narasi yang sama juga terjadi di Ambon. Pembunuhan dan saling menghancurkan telah menjadi tayangan hidup yang sangat menakutkan. 

Terakhir di Sigi Sulawesi Tengah. Kebencianlah yang membuat mereka bercerai-berai menyisakan pengalaman hidup yang menyedihkan.

Karena itu, di tahun politik ini, politik kebencian seharusnya tidak menjadi alat untuk menyerang siapa pun. Sebab kebencian dapat merongrong tali persaudaraan. Apalagi di masa-masa menjelang pemilihan presiden (pilpres), politik kebencian harus dihindarkan supaya tak ada perselisihan yang membuat persatuan retak.

Jangan Mengulang Kebencian

Kini, kita harus belajar dari apa yang pernah terjadi di atas. Kita harus belajar untuk tidak mengulang kebencian itu hanya karena beda pilihan politik. Beda pilihan politik merupakan hal yang biasa, namun tak boleh ada kebencian di dalamnya.

Belajar untuk tidak mengulang kebencian itu adalah dengan memberi contoh, tidak menabur fitnah, dan tidak menyebar hoaks, terutama bagi mereka yang selama ini memiliki pengaruh; para penguasa, oposisi, elite politik, aktivis, tokoh agama, dan kaum cerdik pandai.

Sebaliknya, kita semua harus menjadi agen kebaikan yang mengajarkan cara berpolitik yang baik, yakni mengajarkan narasi politik yang santun dan berkeadaban. Kita tidak boleh memproduksi kebencian yang berdampak pada tatanan kehidupan.

Apa yang dilakukan para elite politik dan kaum cerdik pandai belakangan merupakan contoh yang tidak baik. Mereka saling serang dengan narasi kebencian, bukan berdialog dengan data-data yang dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan tanpa ragu, mereka juga saling “menggoreng” isu-isu sensitif seperti suku, agama, dan ras. Padahal ini memiliki risiko sangat berbahaya.

Yang sangat menyedihkan adalah dasarnya hanya ingin agar calon presidennya menang merupakan simtom yang harus dilawan. Ini berbahaya bukan hanya karena penyakit, namun juga ketidakwarasan yang dapat memicu turbulensi perputaran konflik politik akibat kebencian tersebut.

Oleh karena itu, pemilihan presiden (pilpres) harus netral dari politik kebencian agar demokrasi tidak dikotori oleh perilaku yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Pilpres harus menjadi ajang tuntunan untuk saling tahu tentang gagasan Indonesia ke depan. Bukan sebagai tontonan yang hanya menyajikan drama saling mengejek dan menjatuhkan.

Untuk itu, maka semua pihak khususnya para elite politik dan kaum cerdik pandai harus mampu berhenti saling membenci. Produksilah narasi politik yang lebih sehat, berkampanyelah dengan metode yang fair, serta berikanlah ide dan gagasan yang kuat. 

Kepada Andalah kita sesungguhnya berharap karena Anda adalah sebaik-baiknya cermin. Kalau bukan kepada Anda, kepada siapa lagi kita akan mencari contoh?