Orang bodoh sukses? Ada. Orang jelek sukses? Ada. Orang malas sukses? Tidak ada!

            Kutipan di atas,  bagi saya, amatlah menohok.

Kemalasan dan prokrastinasi  (kebiasaan menunda tugas penting dan mendahulukan hal-hal yang kurang penting), yang menjadi kebiasaan saya  untuk waktu yang lama, harus saya bayar mahal dengan banyak pengalaman pahit.

            Beberapa di antara pengalaman pahit tersebut: saya terlambat lulus kuliah, pernah dipecat dari pekerjaan, kehilangan pelanggan bisnis, mengecewakan teman sekerja, mitra bisnis, keluarga dan teman, juga kehilangan pacar, dan perut jadi buncit karena malas olahraga.

Ada suatu kalimat di sebuah poster yang kira-kira berbunyi Prokrastinasi. Pilihan yang bikin hidupmu berantakan untuk alasan yang gak jelas. Buat saya, ini  gue banget!

Prokrastinasi pernah menjadi kecanduan saya, dan seperti kecanduan lain seperti alkohol, narkoba, judi, untuk menghentikannya perlu perjuangan keras. Bagi saya, untuk bisa lepas dari kecanduan prokrastinasi, adalah salah satu perjuangan hidup  yang terberat yang pernah saya hadapi. 

Kecanduan prokrastinasi, harus saya akui, tidaklah mendingan daripada jenis-jenis kecanduan lain. Semua sama-sama menyebabkan penderitaan yang seharusnya dapat dihindarkan.  

Kalau bisa nanti, kenapa mesti dikerjain sekarang sih? adalah filosofi saya dulu saat kuliah, bekerja, membuat janji, dan membayar kewajiban. Prokrastinasi membuat hidup saya lebih menderita dan berantakan daripada seharusnya.

Saya tak bermaksud lebay. Satu atau dua penundaan memang tidak akan membuat nilai jeblok, karir terhambat, pelanggan atau pacar kabur, atau perut buncit. Namun, satu dua penundaan itu, jika diakumulasi selama bertahun-tahun, akhirnya betul-betul  menyebabkan semua hal yang saya sebutkan barusan.

Benar ungkapan di awal tulisan ini, bahwa tidak ada orang malas yang sukses. Kemalasan adalah awal kegagalan – dalam banyak hal.

Sesudah bertahun-tahun, maka akhirnya saya ketemu cara-cara untuk “sembuh total”, yang sebetulnya sederhana, namun perlu kesungguhan dan komitmen. Saya mendapatkan ini semua setelah banyak percobaan yang gagal.

Mulai Saja Dulu. Sekarang. Di sini.        

Jauh sebelum situs jual beli online terkenal itu meluncurkan tagarnya, saya sudah sadar bahwa hal yang paling sulit bagi seorang prokrastinator adalah memulai sesuatu.

Banyak keengganan memulai berasal dari pikiran bahwa suatu kewajiban atau rencana hanya bisa dilaksanakan kalau segala sesuatunya sudah “tepat”. Waktu, tempat, orang, alat, semuanya menunggu sampai tepat.

Kalau ini kita lakukan, ya sampai kapanpun kita tidak akan memulai apa-apa, karena menunggu sampai segala sesuatu harus tepat itu sama saja dengan “tidak akan pernah.”

Yang harus kita miliki secara tepat adalah sikap yang tepat: “Waktu yang tepat adalah Sekarang, Tempat yang tepat adalah Di sini, Orang yang tepat adalah Saya Sendiri. Alat yang tepat adalah apa yang saya punya sekarang. Pokoknya, mulai saja dulu deh!

Saat saya mulai latihan lari, saya mulai saja dulu dengan berlari satu kilometer, yang selesai dalam beberapa menit saja. Karena terasa ringan, saya jadi tidak malas setiap kali memulai lari. Prinsip ini saya terapkan juga dalam tugas-tugas yang lain dengan cukup berhasil.

Just Do It

            Semboyan yang dipopulerkan oleh salah satu produsen pakaian olahraga terkemuka itu, “Just Do It” (“Pokoknya Lakukan Saja Deh”) menjadi  pemicu saya saat saya malas memulai, saat saya tergoda mencari alasan, saat ada kesulitan (dan dijamin pasti selalu akan ada).

            Itu berlaku juga  saat saya melihat orang lain yang sudah sukses duluan, saat saya merasa kok gak ada kemajuan apa-apa, atau juga pada saat merasa tidak ada yang menghargai usaha saya.

            Intinya, Just do it, lakukan saja, jangan kebanyakan mikir tentang hasilnya, tentang omongan orang, dan lain-lain.

 Prinsip Mencicil        

Jika kita berpikir bahwa sesuatu itu ringan, maka dengan segera kita ingin memulai, supaya bisa cepat selesai. Dengan memulai dari sedikit, kita memberi pesan  bagi pikiran kita bahwa tugas ini mudah dan cepat selesai, kok. 

Dengan cara mencicil, kita menghindari mental block yang terus membayangkan, aduh, banyak banget atau aduh, susah banget!. 

Contohnya, lebih ringan membayangkan menyetrika sepuluh baju sehari daripada menyetrika tujuh puluh baju sekali seminggu (pada hari ketujuh itu, membayangkan harus menyetrika tujuh puluh baju saja sudah pasti aduhai rasanya). Selalu lebih ringan melakukan sesuatu dengan cara mencicil daripada menumpuk.

Hadiahi Diri

Setelah teman-teman berhasil memulai awal dan menyelesaikan kewajiban dengan tepat waktu, jangan lupa hadiahi diri. Bisa es krim, coklat, atau apa saja. Tapi jujurlah pada diri sendiri ya teman-teman. Jangan makan coklatnya sebelum tugasnya selesai beneran.

Percayalah, hadiah yang didapat dengan susah payah itu pastinya lebih nikmat dan memotivasi, daripada yang didapat secara gampang.

Sebagai penutup, saya kutip kalimat bijak Lau Tzu:  Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama. Artinya, sesuatu yang besar harus dimulai dengan tindakan kecil pertama. Langkah pertama, kata pertama, halaman pertama, dan seterusnya.

Tentunya, ya jangan berhenti setelah langkah pertama dong. Lanjutkan segalanya sampai selesai.

Saya sungguh sudah banyak melihat bukti bahwa memang jauh lebih mungkin orang bodoh atau orang jelek sukses (meskipun bodoh dan jelek itu pun relatif sifatnya), daripada orang malas. 

Hal-hal yang sederhana di atas sudah terbukti berhasil membuat hidup saya menjadi jauh lebih baik. Harapan saya, semoga cara-cara sederhana ini juga bermanfaat menghindarkan dan “menyembuhkan” teman-teman dari kemalasan dan prokrastinasi.

Tangerang, Oktober 2021.