Kamis lalu, saya mengikuti kelas filsafat di Jakarta. Semula saya sangat antusias karena kami akan belajar tentang pemikiran seorang filsuf yang, bagi banyak orang, namanya saja sudah bikin gentar ketika diperdengarkan: Nietzsche. Sebelumnya saya hanya mengenal filsuf ini dari artikel-artikel lepas atau lewat diskusi-diskusi membingungkan di beberapa forum kajian saat kuliah dulu.

Forum-forum diskusi mahasiswa pada zaman saya memang banyak yang menawarkan kajian filsafat, tetapi hanya untuk gaya-gayaan. Kami berdiskusi sampai pagi, tetapi nyaris tak pernah membicarakan sesuatu yang ada relevansinya dengan kehidupan sekarang. Lebih sering terjebak di seputar teori, postulat, permainan bahasa, yang semuanya dipamerkan secara tekstual.

Padahal saya yakin, kehadiran filsafat berawal dari keinginan untuk memahami dunia dengan segala kompleksitas dan peristiwa-peristiwa di dalamnya. Bukan berputar-putar membicarakan konsep ada, ketiadaan, yang absolut, dsb. Mungkin karena pola belajar seperti itu, jadilah orang-orang seperti saya yang gagal paham terhadap filsafat.

Karena itu, saya antusias mengikuti kelas filsafat yang diadakan di salah satu pusat kajian intelektual di Jakarta tersebut. Sebab, kuratornya pernah mengatakan bahwa kelas ini akan menyajikan filsafat lewat bahasa yang lebih membumi, tidak mengawang-awang; dikemas dengan gaya yang ringan, mungkin sedikit popular.

Dan benar, saya sangat menikmati diskusinya. Apakah itu pertemuan pertama tentang pemikiran Karl Marx, atau diskusi kedua mengenai Nietzsche.

Kecuali satu hal yang mengganggu selera saya selama pertemuan kedua. Pada sesi ini, entah mengapa, pembicara merusak penjelasannya sendiri dengan mengutip pandangan Nietzsche tentang kebenaran yang diumpamakan sebagai perempuan.

Ia berkata, Nietzsche memandang kebenaran ibarat perempuan yang sering kali sulit untuk dipahami, sulit ditangkap maksud dari segala tingkahnya. Terkadang, perempuan cenderung tidak rasional. Sebagaimana sulitnya memahami kadar reasonable dalam tindak-tanduk perempuan, begitu pula tingkat kesulitan menangkap makna sebuah kebenaran. Bahwa ketersembunyian makna itu seperti perempuan yang dengan rapi menyembunyikan bokongnya. Kira-kira seperti itu. 

Sekilas ini nampak tidak bermasalah dan sudah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi jika diimbuhi dengan pernyataan: karena perempuan itu misteri, maka ia menjadi istimewa. Tetapi bagi saya, Ini sangat bermasalah.

Terlepas dari beberapa anak pemikiran Nietzsche yang menyinggung perempuan dan oleh sebagian kalangan dianggap misoginis, menurut saya, tanpa mengungkapkan metafora yang bernada demikian, seluruh jawaban pembicara sudah cukup baik dan jelas.

Sebagaimana terhadap kitab suci, kita pun harus bersikap kritis akan sebuah pemikiran yang sudah basi dan tertinggal jauh di belakang kemajuan zaman. Tak usahlah kita pakai perumpamaan misoginis yang hanya bisa masuk akal bagi orang-orang yang hidup di zaman ketika sistem patriarki masih mendominasi pola pikir manusia.

Mungkin saat itu memang benar perempuan tidak lebih rasional dari lelaki. Bagaimana bisa rasional, mau mendapat pendidikan yang setara dengan lelaki saja sulit, mau tampil beda saja dipergunjingkan, misalnya.

Mungkin juga saat itu Nietzsche diperhadapkan dengan situasi-situasi yang sangat personal yang lantas mempengaruhi caranya memandang perempuan (seperti sejarah munculnya konsep perempuan sebagai fitnah dalam Islam, misalnya.) Atau, bisa jadi cara kita menafsirkannya yang keliru, sehingga menggiring pandangan Nietzsche pada kesan yang misoginis.

Saya tidak tahu. Yang saya tahu, seorang terdidik harusnya bisa memilah sebuah jawaban dengan baik dan tidak diskriminatif. Seorang sarjana masa kini, tak perlu mempelajari feminisme untuk menentukan tutur kata agar tidak terdengar seksis. Sebab, sikap menghormati perempuan sudah menjadi cara hidup yang semestinya di zaman ini.

Tulisan ini bukan untuk mengkritisi pandangan Nietzsche tentang perempuan. Saya hanya merangkum ujaran pembicara pada sebuah diskusi tentang Nietzsche sebagai pintu masuk untuk mempersoalkan cara-cara berbahasa sebagian orang tentang perempuan.

****

Bahwa bahasa yang mendiskreditkan perempuan masih dipelihara hingga kini, bisa kita dapati di mana-mana. Di situs ini saja saya menemukan beberapa tulisan dengan bahasa yang kurang ramah terhadap perempuan. Bahkan ada satu tulisan yang membuat saya gregetan. Saya sengaja tak ingin menyebutkan judul agar tulisan tersebut tidak dibaca banyak orang.

Tulisan yang saya maksud itu tidak buruk. Mungkin niat penulisnya juga baik; semacam anjuran agar perempuan mampu memaksimalkan daya intelektualnya. Tetapi, alangkah tergangggunya saya ketika membaca paragraf pertama, di mana penulis menggunakan frasa “sapi perah” bagi perempuan yang minim daya intelektualitasnya. Astaga! Untung saja tulisan itu tidak ditampilkan di halaman depan, sehingga pembacanya tidak banyak.

Tapi sesungguhnya, tempat paling luas sebagai ajang untuk mengejek perempuan adalah media sosial. Mulai dari penghakiman atas segala tindak-tunduk perempuan, berbagai tautan berita (berikut komentarnya) yang menyudutkan perempuan, eksploitasi tubuh, meme-meme yang mengolok-olok fisik seorang perempuan, dan segala sampah dalam bentuk lainnya.

Riset yang dilakukan oleh Demos, sebuah lembaga think tank di Inggris, berupaya menelusuri penggunaan bahasa-bahasa misoginis di media sosial. Hasilnya cukup mencengangkan. Hanya dalam waktu tiga minggu, terdapat lebih dari 200.000 tweets di seluruh dunia yang secara agresif menyudutkan kaum perempuan lewat kata-kata misoginis yang sangat spesifik: slut dan whore. Selain itu, dan ini yang memprihatinkan, 50% dari jumlah pengguna atau pencetus bahasa tersebut adalah kaum perempuan.

Media sosial memang surga bagi para pembenci perempuan. Di sana mereka bisa dengan bebas memperlakukan perempuan sesuai imajinasinya; melakukan sesuatu terhadap perempuan yang tak mungkin dilakukannya di dunia nyata. Malam lalu saya membaca status seorang selebritis Facebook yang kalau dibaca sekilas, tanpa perenungan, bisa membuat pembacanya tertawa terbahak-bahak.

Ia menyinggung soal teknologi touchscreen yang kadang membuat kita salah ketik atau typo. Yang menjadi masalah, contoh yang dia hadirkan adalah kalimat-kalimat yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Maka di halaman komentar, berhamburanlah gambar-gambar yang mengekspos bagian tubuh perempuan, lengkap dengan komentar-komentar yang seksis. Lupakan soal hak cipta, mereka tak peduli bagaimana respons perempuan yang gambarnya diedit sedemikian rupa lantas disebarluaskan tanpa izinnya.

Saya tahu mereka ingin bercanda, tetapi ini lantas membuat saya bertanya-tanya: ada apa dengan orang-orang ini? Mereka manusia terdidik, punya banyak pengagum, tapi kehilangan sense of good humour?

Homor yang dipeliharanya adalah humor masyarakat tak terdidik. Humor yang menjadi penghibur orang-orang yang dilanda kesulitan hidup dan karenanya membutuhkan objek pelampiasan yang dia pandang lebih lemah dari dirinya. Dan objek hinaan yang mereka anggap paling memuaskan dan menghibur adalah tubuh perempuan.

Padahal, seperti saya bilang sebelumnya, sikap dan bahasa yang menghormati perempuan semestinya sudah menjadi cara hidup manusia modern. Terutama sejak gelombang emansipasi perempuan di akhir abad ke-18. Ketika gerakan perempuan mengubah tatanan masyarakat secara dramatis. Ketika menganggap perempuan sebagai masyarakat kelas dua (yang boleh diejek-ejek dan dijadikan bahan tertawaan) adalah cara pandang yang terbelakang.

Ingat, akhir abad ke-18! Sudah satu abad lebih.

Berapa lama lagi waktu yang Anda butuhkan untuk mengerti? Berapa abad lagi yang diperlukan agar Anda akhirnya terbiasa? Apakah dengan kemampuan beradaptasi yang lamban Anda ingin memundurkan kemajuan daya intelektual manusia yang telah melahirkan inovasi-inovasi luar biasa seperti Facebook, misalnya? Anda ingin melupakan berbagai rumusan hukum terkait hak asasi manusia yang telah dibuat oleh orang-orang yang sadar betapa kelamnya masa lalu manusia?

Jika demikian, kembalilah pada cara hidup manusia purba, setujuilah segala bentuk penindasan. Sampai Anda menemukan diri sendiri lebih menakutkan dari sesuatu yang Anda anggap sebagai monster. Lalu, di sana akhirnya Anda terjaga dan menjadi bagian dari orang-orang yang tertindas.