Bahasa Indonesia lahir pada 28 Oktober 1928 melalui kongres Sumpah Pemuda. Butir ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa.

Selanjutnya, keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia yang tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu sejak zaman dahulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca); bukan hanya di kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan bahasa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari bahasa-bahasa daerah. Salah satu bahasa daerah yang dengan rela hati menyokong perkembangan bahasa Indonesia tak lain adalah bahasa Jawa.

Selain bahasa Minangkabau dan Sunda, bahasa Jawa termasuk embrio penting atas lahirnya lema-lema bahasa Indonesia. Hal itu bukannya tanpa pasal. Di KBBI tercatat, bahasa Jawa menyumbang 30,87 persen. Di belakangnya menguntit bahasa Minang dengan 25,86 persen dan bahasa Sunda 6,21 persen. Meskipun peran bahasa daerah lainnya tak mungkin bisa diabaikan begitu saja.

Menurut Soedjarwo dalam bukunya, Beginilah Menggunakan Bahasa Indonesia, persentuhan bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa berlangsung lebih lama dibandingkan persentuhan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah lain. Sejak bahasa Indonesia masih dikenal sebagai bahasa Melayu.

Bahasa Jawa dikenal sebagai bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak. Hal itu tidak bisa dinafikan karena orang Jawa paling tidak meliputi tiga provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Bandingkan dengan bahasa Sunda, misalnya, yang cakupannya hanya di sekitaran Jawa Barat.

Di samping itu, bahasa Jawa dikenal bisa berdiaspora ke mana saja karena banyak orang Jawa yang merantau ke luar daerah. Salah satu faktor yang paling jamak diketahui adalah melalui para penjual makanan.

Anda pasti sudah kelewat kenal dengan Soto Lamongan, Bakso Solo, atau Mie Ayam Solo. Dari sanalah salah satu misi persebaran itu dibawa. Bahkan, di Suriname, sebuah negara di kawasan Amerika Selatan, penduduknya 15 persen adalah orang Jawa sejak Belanda memboyongnya pada 1890-1939 (Surinaams-Javaans-Nederlands Woordenboek, 2001.

Uniknya, bahasa Jawa di satu daerah bisa berbeda dengan daerah lainnya. Dalam beberapa hal, bahasa Jawa di masing-masing wilayah Jawa Timur pun tidak seragam. Di Malang dan Surabaya, anak disebut arek. Sementara di wilayah Mataraman (Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Blitar, sampai Trenggalek), anak dikenal dengan istilah bocah.

Oleh karena itulah Jawa Timur, secara unik, terbagi atas empat wilayah besar atau tlatah. Ada Mataraman untuk menyebut bagian barat ke utara, kawasan Arek untuk Malang hingga Surabaya, Pandalungan (Tapal Kuda) untuk kawasan Pasuruan, Probolinggo sampai Banyuwangi dan Madura untuk orang-orang di Pulau Madura.

Namun, sebagai bahasa daerah, seperti bahasa daerah lainnya, bahasa Jawa diresahkan mengalami penurunan jumlah penutur dan lama-lama mengalami kepunahan. Hari ini pun, manakala mengetikkan ”bahasa daerah” di mesin pencari, entri nomor satunya mengenai kepunahan bahasa daerah. Kenyataannya, bahasa Jawa, juga bahasa daerah lain, masih mampu menjaga eksistensinya.

Mungkin memang benar bahasa Jawa tidak terlampau eksis di metropolis, terutama dari kalangan elite yang bahasa ibunya bahasa Indonesia. Namun, di desa-desa, di daerah yang bahasa ibunya bukan bahasa Indonesia, bahasa Jawa masih sangat biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Meskipun sebagian lembaga pendidikan di Jawa Timur, misalnya, tidak mencantumkan bahasa Jawa sebagai pelajaran resmi. Bahwa bahasa Jawa diprediksi akan punah, itu tampaknya hanya mitos.

Berdasar penilaian daya hidup bahasa, UNESCO (2003) menggolongkan enam tingkat keadaan bahasa. Bahasa Jawa termasuk dalam kategori ”aman”.

Enam tingkat keadaan bahasa itu meliputi (1) aman: bahasa dituturkan oleh semua generasi dan transmisi antargenerasi tidak terputus; (2) rentan: bahasa dituturkan oleh anak-anak, tetapi hanya pada ranah tertentu; (3) terancam: anak-anak tidak lagi menggunakan bahasanya di rumah sebagai bahasa ibu; (4) sangat terancam: bahasa hanya digunakan antargenerasi tua, tetapi tidak kepada anak-anak; (5) hampir punah: hanya generasi tua yang dapat menuturkan, tetapi jarang digunakan; dan (6) punah: tidak ada penuturnya.

Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan orang Jawa. Masyarakat Jawa tidak hanya menetap di Pulau Jawa, tetapi juga menyebar (berdiaspora) ke daerah lain di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri.

Komariah dan Ruriana dalam bukunya, Bahasa Jawa di Suriname, menjelaskan persebaran masyarakat Jawa ini dimulai sejak zaman pemerintah Hinda Belanda. Sejak adanya program transmigrasi dan pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Salah satu daerah pengiriman tenaga kerja Indonesia yang berasal dari Pulau Jawa ke luar negeri adalah Suriname. Maka, jangan heran apabila bahasa Jawa berkembang pula di Suriname.

Menurut estimasi situs ethnologue.com, bahasa Jawa menempati peringkat ke-11 di dunia dari segi jumlah penutur dengan 84,3 juta penutur, terbanyak dari bahasa-bahasa daerah lain di Indonesia. Urutan lima besar berturut-turut dikuasai bahasa Mandarin dengan 845 juta penutur, bahasa Spanyol (329 juta), bahasa Inggris (328 juta), bahasa Arab (221 juta), dan bahasa Hindi (182 juta).

Di dunia, selain Indonesia tentunya, sedikitnya ada enam negara yang menggunakan bahasa Jawa sebagai salah satu bahasa sehari-hari. Dikutip Good News from Indonesia, enam negara yang dimaksud adalah Malaysia, Singapura, Suriname, Belanda, Kaledonia Baru, Kepulauan Cocos. Hal ini semakin mempertegas bahwa eksistensi bahasa Jawa masih diakui dan tak akan punah.

Di Suriname, misalnya, yang memiliki hubungan erat dengan orang Jawa, bahkan tak jarang orang Jawa Suriname menyempatkan diri berkunjung ke Indonesia, masyarakat Jawa mulai datang sebagai tenaga kerja (atas inisiatif Belanda) pada 1890. Kelompok pertama yang terdiri atas 26 laki-laki, 16 perempuan, 1 anak laki-laki, dan 1 anak perempuan tiba di Suriname pada 9 Agustus 1890. Hingga saat ini, orang Jawa di Suriname berjumlah sekitar 74.000 jiwa atau sekitar 15 persen dari jumlah penduduk Suriname secara keseluruhan.

Di Indonesia sendiri, bahasa Jawa tidak hanya digunakan di Jawa. Di luar pulau ini pun bahasa Jawa dipakai dalam percakapan sehari-hari. Salah satu penyebabnya adalah migrasi orang-orang Jawa ke luar pulau dengan tujuan mencari nafkah.

Bahasa Jawa di Pulau Jawa dengan etnis Jawa pun mempunyai penutur yang beraneka ragam. Secara geografis, ada penutur bahasa Jawa dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Di kawasan Solo, Yogyakarta, sampai Jawa Timur wilayah Mataraman (dulu wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram), mayoritas bahasa Jawa-nya hampir sama. Budaya Jawa Mataraman dipengaruhi oleh hasil akulturasi Jawa Timuran dan Jawa Tengahan.

Bahasa Jawa ini pun dibedakan atas bahasa ngoko (kasar), madya (biasa), krama (halus), bahkan sampai krama inggil (sangat halus). Beberapa contohnya adalah bocah (ngoko/madya) dan lare (krama) untuk merujuk pada kata anak, kemudian kowe (ngoko), sampean (madya), dan panjenengan (krama/inggil) untuk kata kamu dalam bahasa Indonesia.

Sementara itu, di daerah Surabaya sampai Malang atau yang lebih dikenal dengan kawasan Arek, bahasa yang digunakan adalah arek (anak) dan koen (kamu). Kawasan ini juga lebih akrab dengan kata lugur untuk menggantikan ceblok (jatuh).

Di wilayah pantai utara (pantura) timur yang meliputi Jepara, Kudus, Pati, Blora, Rembang (Jawa Tengah), Tuban, dan Bojonegoro (Jawa Timur), terdapat dialek pantura dengan beberapa kata khas seperti jengklong (nyamuk), wong bento (orang gila), matoh (bagus), dan sebagainya.

Belum lagi kalau berbicara bahasa Jawa ala Suku Tengger di kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru dan bahasa Using di wilayah Banyuwangi yang, meskipun penuturnya mulai berkurang, masih bisa ditemukan dan dipelajari.

Bahasa Jawa Tengah bagian utara yang meliputi Tegal Banyumasan menggunakan bahasa Ngapak. Wilayahnya terdiri atas Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purbalingga, dan Banjarnegara. Contoh bahasa yang digunakan adalah inyong (aku), rika (kamu), dan kepriben (bagaimana). Di luar kata-kata khusus tadi, secara umum istilah-istilah bahasa Jawa yang digunakan hampir sama.

Selain di Jawa, bahasa Jawa juga jamak dijumpai di luar pulau. Di Sumatera, misalnya, migrasi orang Jawa berlangsung sejak zaman penjajahan. Menurut sejarah, kehadiran orang Jawa dalam jumlah besar di Sumatera, terutama bagian timur, berkaitan erat dengan permasalahan tenaga kerja di perkebunan. Bahkan, di beberapa provinsi di Indonesia, penduduk Jawa lebih banyak daripada penduduk aslinya, di antaranya Lampung, Jakarta, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur.

Di wilayah-wilayah itu, orang Jawa semacam memiliki komunitas tersendiri dan berkumpul di suatu daerah sehingga biasanya dikenal dengan istilah ”kampung Jawa”. Selain bekerja di perkebunan, orang Jawa di pulau-pulau biasanya berjualan makanan yang sudah menjadi ciri khas, seperti Soto Lamongan, Sate Madura, Bakso Solo, Mie Ayam Solo, dan sebagainya.

Orang-orang ini pun menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari, sehingga tidak sedikit juga penduduk asli yang minimal mengenal bahasa Jawa. Hal itulah yang dimaksud dengan diaspora atau persebaran bahasa Jawa secara luas ke penjuru Nusantara.

Jadi, siapa bilang bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa, akan punah? Tunggu dulu...