Perkenalkan, saya Annisa, mahasiswa Psikologi sejak 2011, dan bukan Sastra Indonesia atau pun Pendidikan Bahasa Indonesia ataupun apa pun yang berhubungan dengan kebahasa-Indonesia-an. Sudah menjadi Warga Negara Indonesia sejak 9 Oktober 1993. Menjadi penutur Bahasa Indonesia sejak belajar berbicara.
Saat duduk dibangku kelas 4 sekolah dasar, saya pernah mendapatkan nilai ulangan Bahasa Inggris yang lebih tinggi dari pada nilai ulangan Bahasa Indonesia saya. Sementara itu, teman satu kelas saya yang baru saja pindah dari Florida, Amerika Serikat, mendapatkan nilai Bahasa Indonesia yang lebih baik daripada saya, pun dari pada nilai ulangan Bahasa Inggris-nya

Dari narasi singkat di atas, berapa banyak dari Kawan-kawan yang menyadari kesalahan pengejaan? Hahaha. Iya, jadi... Kawan-kawan... Bahasa Indonesia itu tidak penting, ya?

Berapa banyak dari Kawan-kawan yang menyadari bahwa saya menulis ataupun dengan dua gaya? Dipisah, dan kemudian disambung. Yang mana yang tepat? Menurut pedoman EyD 1987, partikel pun jika bertemu dengan ‘atau’ sebelumnya, disambung. Jadi, yang benar adalah ‘ataupun’.

Kira-kira ada lagikah yang salah dari apa yang saya tulis pada dua alinea pertama? Jelas ada! Lagi-lagi... Bahasa Indonesia itu tidak penting, ya?

Berapa banyak dari Kawan-kawan yang mencari di mesin pencarian ejaan bahasa asing sebelum memuatnya pada tulisan Kawan-kawan? Dan berapa banyak dari Kawan-kawan yang mencari kembali tentang bagaimana penulisan ‘di’?

Berapa banyak dari Kawan-kawan yang lebih suka menggunakan istilah ‘online’, ‘offline’, dan ‘mug’, sampai lupa bahwa ketiga istilah asing tersebut memiliki padanan dalam Bahasa Indonesia? Online dalam Bahasa Indonesia disingkat daring, dari dalam jaringan. Offline menjadi luring, dari luar jaringan. Dan mug menjadi mok dalam Bahasa Indonesia.

Dengan kata lain, berapa banyak dari Kawan-kawan yang lebih malu jika ketahuan kemampuan bahasa asingnya (apalagi Bahasa Inggris-nya) buruk, daripada ‘kemampuan’ Bahasa Indonesia-nya?

“Bahasa, kan, perkara persetujuan, pemahaman. Selama masih dipahami, ya tidak masalah.”

Oh iya, tepat. Itulah mengapa Bahasa Indonesia itu tidak penting, bukan? Selama apa yang Kawan-kawan tulis, dapat dipahami oleh para pembaca, silakan saja. Penggunaan Bahasa Indonesia secara lisan memang lebih mudah daripada tulisan. Tapi, sebaiknya itu bukanlah indikator bahwa Bahasa Indonesia dalam tulisan tidaklah penting, Kawan...

Berapa banyak fasilitas Negara yang memajang ejaan yang supersalah? Seperti ‘antrean’ mereka tulis menjadi ‘antrian’. Tolonglah... ini persoalan sepele, Kawan-kawan. Iya, jika menurut Kawan-kawan ini adalah hal yang sepele, maka mengapa bisa begitu salah dalam hal sesepele ini? Yang benar saja.

Tidak hanya itu, jika Kawan-kawan membuka laman milik lembaga-lembaga pemerintah, banyak ditemukan kesalahan ejaan. Barangkali tidak banyak dari kita yang menyadari bahwa penggunaan bahasa dalam tulisan bisa menjadi sangat penting dalam pendidikan.

Memang selama ini belum pernah terjadi bencana besar karena kesalahan ejaan. Karena memang bahasa adalah perkara memahami saja. Tetapi, Kawan... jika kita terus memaklumi kesalahan yang bahkan sepele itu, bagaimana mungkin kita bisa belajar menjadi bangsa yang besar?

Ketika kita tak menghargai apa yang kita miliki, bagaimana mungkin kita bisa dengan baik menghargai yang tidak kita miliki?

Ketika kita tak berusaha menjaga siapa kita, bagaimana mungkin kita memiliki hak menjawab ketika orang lain bertanya kita ini siapa?

Berhenti mencampurkan percakapan Bahasa Indonesia dengan bahasa asing, Kawan-kawan. Berhenti stop bicara talking seperti like ini this.

Kadar penting Bahasa Indonesia ada pada tangan Kawan-kawan. Barangkali memang Bahasa Indonesia tidak penting. Pesan saya satu saja, jangan bangga mahir berbahasa asing, jika merubah adalah yang tepat, dan bukannya mengubah, bagi Kawan-kawan. Jika disini masih lebih tepat daripada di sana, bagi Kawan-kawan.