Saya selalu antusias ketika membahas tentang buku.  Sebab ada sebuah kebanggaan tersendiri dan kesenangan ketika bergelut dengan kumpulan kertas tersebut. Bukan hal mudah untuk mencintai yang nama buku ini. Butuh keberanian total, penyerahan diri dalam kesepian. Orang yang mengambil jalan ini (cinta baca buku) adalah orang yang siap menghindar dari keramaian.

Saya ingin menceritakan kisah yang menyadarkan saya untuk mencintai kegiatan membaca buku. Saya terlahir di sebuah pulau kecil bernama Pulau Paisubebe, Kec. Bokan Kepualauan, Kab. Banggai Laut, Prov. Sulawesi Tengah. Terlahir dari ayah yang berprofesi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Ibu seorang Ibu Rumah Tangga yang penyayang.

Karena Ayah seorang guru Sekolah Dasar (SD), maka Ayah selalu berpindah dari pulau satu ke pulau yang lainnya. Saat di pulau tetangga kekurangan guru, maka Ayah saya lah yang jadi penggantinya. Sungguh, pada awal tahun 2000-an daerah saya kekurangan tenaga pendidik. Sampai sekarang pun masih kekurangan.

Memasuki Sekolah Dasar di Pulau Sonit. Pulau ini merupakan pulau perbatasan Provinsi Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Tapi pulau sonit masih bagian dari Provinsi Sulawesi Tengah. Saya bergelut dengan permainan alam, pasir pantai dan laut. Belum diperkenalkan dengan buku oleh Ayah. Walaupun Ayah sendiri adalah seorang guru.

Menjelang naik kelas 5 SD, Ayah membeli buku bergambar tentang Biografi Ir. Soekarno. Apa yang terjadi? Ayah memberinya agar saya mulai membaca buku tersebut. Tapi saya tidak membacanya, hanya melihat kartunnya saja. Inilah buku yang berkesan bagi saya. Sampai sekarang saya masih mengingat buku itu. Sayangnya, buku itu telah hilang.

Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ini sebuah ironi, sebab saya dekat dengan buku karena ada niat "buruk". Saya rajin pergi ke perpustakaan bukan karena ingin membaca buku tapi ingin melihat teman perempuan cantik. Karena, yang rajin pergi ke perpustakaan kebanyakan perempuan dan langganan juara di kelas. Alasan ngawur, tapi itulah realitanya.

Tidak ada perkembangan untuk membaca buku lebih giat. Malahan saya lebih sering bermain bersama teman-teman saat  sepulang sekolah. Bayangkan saja, buku yang ada di perpustakaan kebanyakan buku mata ajar. Itu pun edisi paling lama, sedangkan sekolah lain sudah maju tiga langkah daripada sekolah saya. Dan buku sastra tidak ada sama sekali. Padahal sastra, dalam hal ini novel, bisa merangsang imajinasi kita.

Tapi sekolah tidak menyediakan buku cerita rakyat. Sebuah ironi bangsa ini. Hari ke hari saya terbentuk dengan lingkungan yang doyan menonton TV. Ya, hanya TV. Media satu-satunya yang sigap menyuplai informasi ke daerah tentang kabar Ibukota. Ada radio tapi tidak secepat informasi yang didapatkan di TV.

Sebenarnya kebiasaan nonton TV adalah kebiasaan buruk untuk anak-anak. Apalagi sekarang, sajian di televisi jauh dari nilai mendidik.

Apa daya, anak-anak adalah manusia yang suka meniru. Ketika si orang tua melakukan A, maka si anak juga melakukan hal tersebut. Karena sesungguhnya orang tualah guru pertama dan terbaik bagi anak. Tahun 2008 saya lulus dari SMP Negeri 2 Banggai. Dan tahun yang sama, saya mendaftar di SMA Negeri 1 Banggai. SMA inilah yang terbaik di antara SMA-SMA lain di Kabupaten Banggai Laut (Dulunya Banggai Kepulauan).

Lagi-lagi, sekolah ini sangat minim jumlah bukunya. Pemikiran saat itu, saya merasa sekolah saya yang memiliki jumlah buku paling banyak. Tapi itu dulu. Sebelum mengetahui dunia luar seperti apa. Dunia luar yang mengajarkan saya untuk tidak berpikir sempit, hanya terkungkung di dalam tempurung.

Imam Safi'i pernah berkata; Wahai anak muda, merantaulah! Agar kau mendapatkan ilmu baru, pengalaman baru dan sahabat baru. Mungkin kurang lebih redaksinya seperti itu. Di SMA, saya masih konsisten keluar-masuk perpustakaan. Bukan lagi alasan karena melirik perempuan cantik. Tapi karena ingin menonton televisi. Alasan yang tidak mendidik.

Saya tidak menolak hal itu, sebab pihak sekolah menyimpan TV di perpustakaan. Perpustakaan yang seharusnya tenang, tidak ada gangguan apapun, malah dilengkapi dengan televisi. Maka konsentrasi pengunjung pun buyar. Dan secara terpaksa pengunjung akan mengalihkan perhatiannya ke media gambar itu. Dan parahnya lagi, tontonannya bukan informasi edukatif tapi gosip para selebriti.

Karena buku yang ada di perpustakaan sekolah tidak menggugah rasa penasaran saya, maka saya mencari alternatif lain. Saya mulai mencari buku bercerita, novel atau roman. Saat kelas 2 SMA, saya disuguhkan sebuah roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Buya HAMKA. Roman tersebut saya dapatkan dari seorang paman yang berprofesi nelayan, tapi berjiwa sastra.

Katanya, ia dapatkan buku itu di Kota Daeng ketika ia merantau. Dan tahun itu pula, ia kembali ke alam abadi karena penyakit yang telah lama dideritanya.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk merupakan karya yang sangat menguras emosi. Mengobok-obok perasaan muda-mudi. Saat membacanya, seakan-seakan tokoh Zainuddin berpindah ke diri saya. Begitu pula cinta sejati yang dicampakkan oleh cintanya, Hayati. Saya meyakini bahwa setiap orang yang membaca roman itu, maka akan merasakan hati pilu. Yang jadi pertanyaan, apakah cerita tersebut ada di realita kita?

Buku karangan Haji Abdul Malik Karim Amrullah, nama yang lebih populernya adalah Buya HAMKA, menjadi buku kedua yang mengesankan dalam hidup saya. Meninggalkan daerah asal, saya pergi ke kota Makassar untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Bertepatan pada tahun 2011. Walaupun saya tidak menyelesaikan kuliah saya di kota Makassar.

Saya merasa bahagia telah mendapatkan buku berjudul "Iqra" karya Bapak Suherman M.Si. Buku yang menyadarkan saya agar mencintai buku segila-gilanya. Mengapa tidak? Bapak Suherman menyadarkan saya bahwa tokoh-tokoh besar terlahir karena kegilaan terhadap buku. Seperti fouding fathers kita, Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka adalah pemuda-pemuda yang gandrung terhadap buku.

Belum lagi tokoh-tokoh dunia, seperti Barack Obama, Ali Syariati, Imam Khomeini dan Karl Marx adalah tokoh yang gila membaca buku. Dan perintah pertama dalam Al-qur'an adalah membaca (Iqra). Semangat membaca ini mengakibatkan Islam mengusai dunia selama 7 Abad. Pertanyaan untuk kita sebagai ummat Islam sekarang, mengapa perintah ini kita abaikan begitu saja? Mengapa ummat lain yang menjalankannya?

Coba kita lihat bangsa Eropa, negara-negara maju, mereka dididik agar melek membaca buku. Bagaimana dengan ummat Islam? Bagaimana dengan masyarakat Indonesia yang notabenenya adalah ummat Islam terbesar di dunia?

Mari kita mencontohi kutubuku, Bung Hatta. Pulang dari Belanda, membawa buku berpeti-peti ke Indonesia. Sebab bangsa yang mencintai buku adalah bangsa yang bermartabat. Negara yang menghargai buku adalah ciri dari negara maju. Dan pemuda yang gila terhadap buku adalah pemuda yang sadar akan peran dan tugasnya memajukan negara Republik Indonesia.