- Semua berawal dari pikiran –

“Yang mengendalikan masa lalu mengendalikan masa depan. Dan yang mengendalikan masa kinilah yang mengendalikan masa lalu.” -1984

- Pelarangan diskusi sehat dan karya kritis adalah metodenya -

 

Indonesia sedang darurat intoleransi dan daya kritis.

Berbagai kasus kekerasan menjamur, dan menyasar berbagai kelompok. Contoh terbaru adalah penyerangan gereja St Lidwina di Sleman. Pelaku masuk dan menyabetkan pedang saat peribadatan. Beberapa korban luka-luka, termasuk polisi.

Ini mengerikan.

Namun, yang juga meresahkan adalah pembaca langsung membuat spekulasi motif pelaku, terutama dikaitkan SARA dan politik, saat masih potongan awal kejadian yang diberitakan. Kecenderungan instan-otomatis untuk berasumsi liar dengan prasangka tanpa dasar jelas.

Padahal banyak kemungkinan alternatif terkait daimon pelaku, semisal amok, pelaku lonewolf terhasut situs, frustasi jomblo, dan sebagainya. 

Inilah efek gejolak Pilpres 2014 dan Pilgub DKI 2017 lalu yang arwahnya masih gentayangan. Ditambah tahun politik 2018 dan 2019, tensi tetap panas ke depannya. Penggorengan hoaks, hasutan, propaganda, dan kampanye hitam akan tetap aktif.

Jelas kini adalah periode lubang hitam kewarasan, pusaran histeria yang setara dengan menjelang krisis obligasi hipotek 2007 di Amerika.

Namun ada aspek yang jauh lebih mendalam terkait hal ini.

Kolaps mental massal.

Dalam Collapse : How Societies Choose to Fail or Succeed, Jared Diamond memaparkan berbagai faktor kejatuhan masyarakat, baik yang di luar kendali mereka ataupun akibat keputusan mereka. Kaum Maya, Anasazi, Viking Greenland, dan sebagainya.

Pembahasan Diamond yang brilian kebanyakan berupa aspek fisik semisal geografi dan iklim. Namun, kita kini juga hidup di era digitalisasi. Zaman informasi. Faktor non fisik juga wajib dimasukkan, yakni terkait mental, pola pikir, daya cerna, kritis-analitis, dan komprehensi masalah kompleks multi variabel.

Faktor-faktor inilah penentu nasib bangsa ke depannya. Karena pikiran adalah hulu tindakan dan awal kejadian. Akan mewujud di hilir dalam banyak indikator nyata, objektif, dan terukur. Dan tampak dalam kemajuan masyarakat secara agregat nasional.

Berikut penjabarannya.

Kolaps mental ini terjadi karena kerentanan inheren dalam lempeng mental masyarakat nusantara. Digabung dengan tekanan era digital dan tensi 2014 hingga 2019, amat rawan gempa konflik.

Dan yang membuat lempeng rentan ini adalah lobotomi sejarah yang digalakkan sepanjang rezim Orba, yang menghancurkan proses membaca.

Perintah pertama Islam adalah Iqra. Bacalah. Memahami realita dengan analisis tenang, mendalam, tepat sasaran. Kini kenyataan lapangan amat jauh dari itu. Yang merajalela adalah prasangka tipe sapu bersih dan generalisasi.

Subjek membuat kotak-kotak kategori ‘kelompok’ di kepalanya, kemudian menyesuaikan paksa realita agar masuk ke sana. Siapapun yang dia labeli sebagai anggota ‘kelompok’ tersebut, otomatis adalah pelaku. Sumber masalah. Biang konspirasi.

Besar kenyataan tak terhingga, namun jiwanya hanya mau melihat area cahaya tampak. Berbagai variasi jiwa manusia dan dunia di berbagai area gelombang lain tak eksis baginya. Warna dan piksel realita luar biasa kaya, namun lensa mentalnya hanya melihat delapan megapiksel.

Pola pikir menjadi sederhana cenderung destruktif, hanya bergantung pada satu atau dua variabel saja. Lalu muncullah tudingan-tudingan super spekulatif.

“Ini salah Cina yang menguasasi ekonomi kita! Kerusakan moral ini gara-gara komunis liberal anarkis,” demikian asumsi mereka.

Penggunaan logika perburuan penyihir yang nirakal, brutal, dan serampangan, yang berujung amat berbahaya.“Semua akan beres kalau kita habisi X sekarang,” seru mereka.

Ketidakmampuan mendasar untuk menunda menganalisis masalah sebelum data mencukupi. Dari potongan masalah langsung lompatan ajaib ke solusi. Tanpa proses berpikir, mengenali masalah, mencerna, dan memikirkan solusi.

Dari serpih input langsung output. Dalam sempitnya asumsi gelap, apapun problemnya, rumusnya adalah persamaan garis lurus konspirasi, dan jawabannya adalah X.

Ada dua esensi inheren di sini : yakni kesempitan dan prasangka. Tiada ruang di pikiran untuk variasi manusia semisal motif, elemen kepribadian, serta irisan antar manusia dan kelompok. Hanya ada X, apapun itu. Prasangka muncul dari propaganda, penanaman rasa curiga, misinformasi, dan doktrin-doktrin agar saling curiga.

Kedua hal ini dijadikan lanskap mental di Indonesia oleh Orba. Efek ini dicapai dengan metode yang masih diteruskan oleh oknum-oknum berkepentingan saat ini : melalui pelarangan diskusi dan dialog yang tenang, juga beredarnya buku kritis analitis secara luas.

Budaya membaca kritis diberangus dari hulunya, padahal itulah fondasi untuk adil dari pikiran seperti kata Pram.

Proses membaca yang sehat dimulai dengan pikiran terbuka nirprasangka. Membaca dari berbagai sumber berbeda, sebagai bahan komparasi, lalu menarik kesimpulan dari semua itu. Seperti membaca titik-titik pada grafik.

Beginilah dimensi jiwa meluas sedikit demi sedikit. Informasi baru masuk dengan tenang lalu berintegrasi dengan data sebelumnya. Dari situ mozaik kenyataan makin menjelas, dan lama kelamaan jiwa kita menjadi besar.

Contoh : terkait Pembantaian 65. Kita dengarkan dari area kiri. Kemudian kita dengarkan pihak Islam. Lalu dari perspektif moderat semisal Iqbal Aji Daryono. Dan sumber-sumber lain.

Prosesnya perlahan-lahan. Berikan waktu pengendapan, agar pencernaannya lebih matang dan tenang. Kita tidak harus setuju pada semua pandangan dari satu sumber. Bisa kritis pada bagian tertentu. Sambil sadar bahwa memahami bukan berarti menyetujui. Bahwa mengerti tidak berarti mengaminkan sikap atau pilihan tindakan.

Bahwa membuka diri pada perspektif baru tidak berarti kehilangan identitas diri kita. Bisa kita lihat esensinya dan cari padanannya dari perspektif kita. Misal : adil dari pikiran dalam Islam muncul dalam tabayyun. Cari dulu kejelasannya.

Dari sana kita bisa melampaui jebakan benar-salah. Tidak jatuh ke kengototan salah satu pihak. Kita sadar bahwa ini adalah tragedi kemanusiaan luar biasa dengan korban dari semua pihak. Janganlah kita pakai ini untuk propaganda politik.

Lobotomi sejarah menghancurkan ruh dari proses sehat di atas. Efeknya nyata di masyarakat. Generasi yang terpapar propaganda Orba menurunkan prasangka ke anak cucu mereka, yang kini menjadi pemanggul bangsa.

“Kamu kok baca buku itu! Kan liberal, komunis, anarkis, ateis! Mau jadi kafir kamu ya!”

Percuma ada perpustakaan kalau NIAT AWAL untuk memahami masalah kompleks sudah dihabisi.

Kotak-kotak prasangka solipsistik memutilasi potensi perkembangan mental hingga hanya bisa berpikir sempit, sederhana, dan sedikit variabel. Tidak mampu lagi mencerna jaringan permasalahan yang sebenarnya kompleks.

Seperti meletakkan kotak kaca pada kutu yang melompat. Sebenarnya dia bisa melompat lebih tinggi, namun pikirannya telah dibatasi secara tak kasat mata.

Ini mewujud dalam skor PISA, PIAAC, dan literasi.

Dari 72 negara partisipan PISA 2015, pelajar Indonesia menempati peringkat 62. PISA mengukur daya membaca, matematika, dan sains. Sejauh mana siswa menyerap pengetahuan kunci dan kemampuan esensial untuk berpartisipasi di masyarakat digital modern yang melek literasi, teknologi, dan numerasi.

Dengan kata lain, secara agregat komparatif, generasi muda Indonesia relatif lemah dalam daya kritis dan analitis untuk bertahan di era baru ini.

Kini kita lihat PIAAC, versi dewasa dari PISA, yang mengukur kompetensi usia dewasa dalam literasi, numerasi, dan pemecahan masalah di lingkungan kaya teknologi. Dari 34 negara OECD yang dites, Indonesia menempati peringkat terburuk. Dalam numerasi kalah jauh, dan terburuk dalam literasi.

PIAAC hanya diukur di Jakarta. Namun mengingat konsentrasi pembangunan dan akses di Jawa dan Jakarta, jelas kalau tes PIAAC dilakukan di area pelosok lain, hasilnya bisa lebih memalukan lagi.

Tentu tidak semua penduduk hasilnya serendah itu. Namun juga jelas bahwa ketimpangan privilese berbagai akses dan infrastruktur amat nyata di Indonesia. Bagusnya hasil persen kecil berarti hancurnya skor mayoritas sisanya.

Lebih jauh : rendahnya literasi bukan karena buta huruf, karena rerata menguasai kemampuan dasar membaca. Ini dia aspek kuncinya : hanya menguasai tahapan dasar namun terhalang banyak faktor untuk naik ke level lebih tinggi.

Kesehatan, infrastruktur, ketersediaan komputer dan keleluasaan akses internet. Namun saya kira, faktor terbesar adalah budaya membaca informasi secara sehat yang terkebiri.

Di negara peringkat atas dalam PIAAC, PISA, dan literasi, faktor esensialnya adalah budaya membaca dan diskusi sehat yang tenang, serta ekspresi artistik yang kritis-analitis tanpa represi penuh dalih, baik oleh oknum pengatasnama maupun massa tertentu.

Karya kritis bisa mencapai pembaca populer, artinya muncul di depan masyarakat luas, dalam bentuk fiksi maupun non fiksi yang bisa diakses umum, serta bisa diputar di bioskop terang-terangan.

Contohnya adalah manga Akumetsu di Jepang yang menjabarkan mekanisme berbagai kasus korupsi dengan rinci dan jelas, bahkan menyebut nama pejabatnya. Saya ragu karya semacam ini mencapai arus utama di Indonesia.

Contoh lain adalah Korsel. Penduduknya hanya 51 juta, jauh lebih kecil dari Indonesia yang di atas 250 juta. Film The Admiral yang paling banyak ditonton sepanjang sejarah Korsel, total penontonnya adalah 17 juta. Sebagai perbandingan, Warkop DKI Reborn meraih 6 jutaan penonton.

Variasi genre juga berbeda.

Sepuluh besar film terlaris sepanjang masa di Korsel menjabarkan topik perang, evakuasi saat perang, kriminal oligarkis (Veteran), pencemaran lingkungan (The Host), spionase sejarah (Assassination), kompleksitas dilematis pemerintahan (Masquerade), dll.

Di Indonesia, variasi pada film sepuluh besarnya kalah jauh : komedi, horor, drama motivasi pendidikan, roman (remaja dan reliji), dan variannya. Yang terbaru adalah film Dilan 1990 yang super populer.

Mohon tidak salah paham.

Semua film terlaris itu punya kualitas teknis dan esensial kuat, dan saya TIDAK sedang menjelekkan mereka, tidak pula menyalahkan penonton. Daftar film di atas mencerminkan geografi mental di Indonesia, terkait keleluasaan mengolah sejarah dan gagasan, serta seterang-terangan apa kritik melalui karya bisa berlangsung.

Jelas, di sini kalau mau mencapai audiens luas, terpaksa mengkritik secara tidak langsung, sindiran samar, satir, dan komedi sarkas. Kalaupun langsung, porsinya kecil dalam cerita (semisal AADC).

Perbedaan lain yang krusial-esensial di Korsel adalah topik ‘tabu’. Tidak hitam putih. Tidak sesederhana kelompok besar X lawan Y. Multi perspektif, tidak dominasi narasi. Tidak reduktif benar salah. Sisi manusiawi dan suara tiap karakter tersampaikan. Banyak irisan antar anggota narasi.

Menontonnya perlu berpikir, daya kritis, dan terpenting : kematangan mental untuk mencernanya dengan tenang.

Jangan harap hal ini terjadi luas di Indonesia.

Nasib film My Generation karya Upi adalah konretnya. Dicegat sensor habis-habisan, walau kontennya tak seperti kecurigaan massa. Film itu mencoba mengutarakan permasalahan dan perspektif remaja milenial dan Z, yang dicap generasi brengsek berdasar prasangka generalisir saja.

Tapi bahkan sebelum sempat bicara, lidah ekspresi sudah dipotong.

Di Indonesia, diskusi sudah biasa digerebek begitu saja.

Salah satu contohnya yaitu kasus pengepungan gedung YLBHI pada September 2017 lalu. Ratusan massa berkerumun sambil mengintimidasi orang-orang di dalam gedung dengan tuduhan PKI. Bahkan banyak ancaman untuk membunuh dan membakar.

Betul-betul (nir)logika perburuan penyihir.

Di bumi pertiwi, tidak ada variasi narasi skala nasional. Yang melek hanya penduduk urban, atau siapapun dengan privilese infrastruktur dan akses teknologi-informasi. Golongan satu persen, sebagian teramat kecil.

Inilah salah satu faktor timpangnya distribusi kesejahteraan di Indonesia, selain korupsi. Karena distribusi informasi sudah dikebiri. Jadi bukan karena SARA.

Padahal, kekayaan dan kompleksitas narasi juga menyumbang peningkatan IQ dan kecerdasan majemuk bangsa melalui Efek Flynn. Misalnya, episode Simpsons banyak rujukan ke situasi ekosospol nyata. Seri permainan video The Witcher memaparkan kompleksitas kepribadian karakter dan irisan vektor hubungan antar karakter.

Di luar, genre seperti fiksi ilmiah dan fantasi juga membahas persoalan penting. Contohnya hubungan identitas gender dan seksual dengan sosial budaya dalam The Left Hand of Darkness, pembunuhan narasi-buku dalam Fahrenheit 451, dan teknologi serta dominasi oligarki-megakorporasi dalam Neuromancer.

Jangan lupakan narasi non hitam putih super manusiawi dalam Game of Thrones.

Prosesnya : saat menikmati karya semacam ini, koneksi serabut saraf antar berbagai area otak akan terbentuk dan menguat sedikit demi sedikit seiring waktu, sehingga meningkatkan kecerdasan secara perlahan. Jika membudaya luas, maka kecerdasan nasional dalam menganalisis masalah kompleks juga akan naik.

Di zaman modern ini, literasi situasi, teknologi, dan pemecahan masalah kompleks adalah kunci. Di Amerika hal ini berkembang luas, terutama di area seperti Lembah Silikon. Dan tanyalah para pemimpin teknologi digital di sana, apa bacaan mereka saat kecil.

“Saya membaca sastra, fantasi, dan fiksi ilmiah,” jawab mereka.

Jangan lupakan juga literasi finansial.

Karya semacam The Big Short yang membahas mekanisme krisis keuangan nasional-global dan budaya korup-serakah petinggi finansial. Juga The Wolf of Wall Street dan Money Monster.

Adakah film Indonesia yang membahas lengkap mekanisme korupsi dan krisis finansial, serta mencapai audiens lokal luas? Korupsi impor daging sapi, pengadaan Al Quran, dan sebagainya. Korupsi memberi efek nyata kehancuran ekonomi berupa mampetnya realisasi kebijakan, program perbaikan, dan lainnya.

Ini juga bisa menginspirasi orang untuk teliti dalam mengelola finansialnya. Tidak mudah tergiur dengan pancingan investasi bodong, skema Ponzi, penipuan travel umroh, dan semacamnya. Tidak mudah terhasut propaganda.

Mentalnya lebih melek, teguh, dan tahan hasutan hoaks. Serta berujung pada kesadaran, keawasan, dan pemberdayaan diri. Jika dibudayakan, menjadi masyarakat melek.

Namun kini agregat mental nasional adalah kebalikannya : amat rapuh.

Efek Flynn amat lemah dan dinikmati satu persen pemilik privilese.

Lobotomi sejarah dan informasi membuat lanskap mental Indonesia sama rapuhnya dengan geografi fisik Greenland. Tandus dan tidak kuat menopang kebudayaan berpikir kritis, tenang, dan mendalam dalam skala besar.

Kehidupan tenang dan toleran nasional saat ini sudah semakin melemah, seperti Viking di Greenland dulu. Jika dibiarkan, tinggal tunggu waktu saja kesejahteraan kritis kita kolaps seperti Viking tersebut.

Namun misinformasi ini sengaja diteruskan oleh kalangan tertentu, walau mereka menyadarinya. Karena bisa diperah demi keuntungan. Agregat massa menjadi buta sejarah, tercerai dari realita aktual terkini, serta terputus dari level kompetensi internasional.

Isolasi dan pelemahan mental besar-besaran, tanpa pertimbangan dan perbandingan.

Akhirnya berujung mutlak-mutlakan penuh kekerasan.

Rapuhnya geografi mental ini paling sering dieksploitasi saat pemilu. Dibangkitkanlah segala omong-kosong. Hantu komunis, dominasi-konspirasional Cina, dan semacamnya.

Mengawang-awang. Lupakan bukti konkret. Tidak perlu verifikasi. Tidak ada itu pengrusakan ekonomi oleh korupsi. Tak perlu berpikir dan mengecek, karena share dari grup WA ini PASTI KEBENARAN MUTLAK.

Agitasi mengubah kerentanan mental menjadi peluru bagi siapapun yang ingin dia hancurkan. Lawan politik, kritikus, wartawan, aktivis, dan sebagainya.

Daya kritik disembelih, dan potensi pengebalan hukum tertentu semakin muncul.

Contoh terkini adalah pengesahan revisi UU MD3, yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Poin kontroversial dari revisi ini antara lain terkait kewenangan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dan rawannya kriminalisasi bagi pengkritik DPR.

Betul-betul pukulan tambahan bagi demokrasi, yang memang lanskap mentalnya sudah rentan dari sejarahnya.

Tidak sedikit yang mengkhawatirkan DPR menjadi antikritik dan kebal hukum. Padahal banyak setumpuk masalah konkret lain  semisal ketimpangan kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, kasus intoleransi, dan sebagainya.

Spiral setan pemiskinan mental terorganisir untuk memudahkan eksploitasi kontinu. Seperti siklus rekrutmen tanpa henti oleh mafia NCO pada rakyat Campania, yang diotaki Cutolo.

Mari simak kembali kejatuhan Viking di Greenland.

Selain faktor geografis di luar kendali kaum Nordik tersebut, dalam Collapse Diamond juga memaparkan faktor keputusan mereka. Kita bisa menarik pelajaran dari sini untuk masalah lanskap mental Indonesia.

Salah satu faktor kolapsnya Viking adalah prasangka inheren terhadap kaum Inuit, yang jauh lebih sukses bertahan hidup di rentannya kondisi hidup Greenland. Bagi Viking, Inuit adalah pagan kafir. Tak peduli betapa tepatnya adaptasi pola pikir dan teknologi berburu Inuit yang amat relevan dengan situasi aktual kolektif mereka.

Kita bisa memulai dengan tidak langsung berprasangka. Tabayyun dulu. Perjelas, baru bertindak. Amati baik-baik kenapa ‘kaum lain’ lebih sukses. Dan apa betul semuanya sukses?

Satu lagi penjatuh Viking adalah penyalahgunaan kuasa oleh para kepala sukunya. Mereka mencegah inovasi pola pikir dan tindakan agar posisi mereka terjaga. Kepentingan pribadi jangka pendek jauh lebih penting disbanding kepentingan jangka panjang seluruh Viking.

Jangan takut berinovasi dan berpikir terbuka. Kita bisa melakukannya secara sehat, seperti saya jabarkan di atas, tanpa kehilangan keyakinan pribadi. Sadarilah bahwa kondisi miskin kontinu dipelihara oleh kelompok tertentu agar untung pribadi.

Demikianlah.

Untuk mengatasi masalah, awalnya harus menyadari masalah.

Diskusi sehat dan kerjasama akan menguntungkan lintas pihak. Seperti Athena kuno yang menghasilkan banyak filsuf, dramawan, dan negarawan luar biasa. Mereka tidak berprasangka saat muncul gagasan baru dan mampu mengadaptasikannya. Seperti dijabarkan Werner dalam The Geography of Genius.

Banyak batasan pemikiran hanya menguntungkan kaum tertentu saja.

“Semua batasan adalah buatan. Dan manusia bisa bebas jika awalnya mampu berpikir melakukannya.” – Cloud Atlas