Konflik atas dasar sentimen agama bukanlah hal yang sulit untuk ditemukan. Lagi-lagi konflik semacam ini mencuat sebagai imbas terbakarnya sentimen yang terpendam di masing-masing pihak yang bertikai.

Agama dituduh sebagai bahan bakar konflik yang mudah tersulut bahkan oleh pemantik yang kecil sekalipun. Lalu, apakah pendapat agama sebagai dalang konflik tersebut dapat dibenarkan? Apakah agama benar-benar sebagai faktor utama sebagai pembungkus kepentingan lain?

Setiap agama punya peluang untuk mengalami hal tersebut. Di sini, agama bukanlah konsep jahat sehingga dapat dimanfaatkan sebagai ‘pembungkus’ kepentingan. 

Agama tetaplah agung, hanya segelintir umatnya yang telah kehilangan ruh untuk beragama, sebagaimana kekerdilan pemeluk dalam memahami kebesaran ajaran agamanya.

Agama hilang keagungannya karena pemeluknyalah yang menghilangkan salah satu ruh utama dalam kehidupan beragama. Pada dasarnya semua agama dapat diterima dan bertahan di dunia tiada lain karena setiap sosok pembawa ajaran agama mengajarkan etika kemanusiaan sebagai ruh beragama.

Barangkali, etika kemanusiaan adalah konsep yang selalu ada di agama apa pun. Sehingga dapat dianggap bahwa etika kemanusiaan menjadi ajaran paling dasar dan ruh dari semua agama di muka bumi.

Dalam kajian filsafat etis, dikenal istilah the golden rules yang merupakan muatan moral yang selalu ada di semua agama. Aturan ini menjadi panduan paling dasar mengenai bagaimana melakukan hubungan sosial antarmanusia, yang berbunyi: “Perlakukanlah orang lain seperti kamu ingin diperlakukan.”

Amsal ini menjadi batu peletak dasar etika kemanusiaan universal yang di dalamnya termuat ajakan persaudaraan, hubungan timbal balik, dan pencegahan konflik.

Etika kemanusiaan adalah satu poros yang membangun konsep dasar agama. Etika adalah poros horizontal antarmanusia. Sedangkan poros kedua adalah poros vertikal antara setiap umat beragama dengan tuhannya yang tampak melalui ibadah transedental sesuai ajaran agamanya masing-masing.

Kedua poros ini harus tetap terjaga secara seimbang untuk menjaga hubungan manusia selayaknya sebagai sesama saudara di muka bumi dan sebagai umat di depan tuhannya.

Andai agama hanya mengajarkan hukum, ritual, dan ibadah-ibadah tanpa etika kemanusiaan yang membumi, barangkali agama di dunia sekadar menjadi candu dalam masyarakat seperti yang dituduhkan oleh Karl Marx.

Terang saja, masyarakat yang tidak mempraktikkan poros etika akan lebih sentimental terhadap kehormatan agamanya dan dengan friksi yang minimal pun akan berpeluang besar untuk menimbulkan pertikaian.

Namun nyatanya, agama mulai kehilangan praktik etika kemanusiaannya. Dengan hilangnya semangat kemanusiaan, pemeluk agama dapat dengan mudah untuk diprovokasi dengan isu yang mencederai kehormatan agamanya.

Di sinilah kepentingan lain, seperti hajat politik dan ekonomi, dapat menyusup serta menunggangi agama. Masyarakat mudah terpolarisasi dan gampang menghakimi lawannya yang berbeda pandangan, mulai memaksakan kehendak atas kelompok lain, dan pada tahap lanjut dapat berujung pada konflik.

Hakikat agama yang pada akhirnya mudah ditunggangi oleh kepentingan lain telah lama diramalkan oleh filsuf muslim bernama Ibnu Rusyd. Dalam kitabnya yang berjudul Fasl al Maqal, ia pernah berkata: “Jika ingin menguasai orang yang bodoh, bungkuslah sesuatu yang batil dengan agama.”

Begitu mudahnya agama untuk dijadikan alat pembungkus hajat batil tentunya tak lepas dari tercerabutnya praktik etika kemanusiaan normatif yang tertanam dalam ruh semua agama. Penghayatan yang minim pada poros etika membuat kesan bahwa agama menjadi satu-satunya sumber konflik paling mutakhir.

Lantas apakah dengan mengembalikan lagi etika kemanusiaan benar-benar dapat memulihkan keagungan agama? Agama adalah juru damai, membawa pesan persatuan dan kasih sayang. 

Apabila pemeluk suatu agama berkonflik atas dasar imannya, maka bukanlah agama yang mengajarkan itu, namun tafsir pemeluknya yang kurang tepat.

Oleh sebab konsep keagamaan yang berpotensi multitafsir, maka suatu ajaran tidak akan pernah steril dari probabilitasnya sebagai sumber konflik. Sampai kapan pun, pemeluk agama yang buta oleh hajat politik maupun ekonomi akan berusaha memasukkan kepentingan tersebut ke dalam bungkus agama.

Etika, sebagai ruh agama, perlu ditekankan sebagai penggerak utama perdamaian. Terlepas dari apa pun nama agamanya, ajaran etika yang terkandung menyediakan jalan menuju persatuan.

Dalam The Ambivalence of Sacred, karya Scott Appleby, agama memiliki bekal untuk memulihkan kesatuan umat manusia yang dimanifestasikan dalam bentuk ‘dialog’

Dialog yang dimaksud adalah kegiatan bertukar rasa melalui cara-cara simpatik seperti pemberian maaf kepada pihak yang salah, rekonsiliasi pelaku pertikaian, sikap kedermawanan, rasa hormat kepada pihak lain yang berbeda entah dari segi iman maupun paham apa pun, dan menghindari sikap menghakimi.

Kembalinya praktik etika kemanusiaan kepada keseharian para pemeluk agama menjadi harapan baru sebagai upaya untuk memulihkan keagungan agama. Agama yang beretika membuat agama selalu dianggap agung karena daripadanya beragam sumber moral terpancar, selalu menjadi juru damai, dan penebar pesan persatuan.

Walaupun agama dan paham apa pun tidak akan pernah lepas dari bayang-bayang konflik, setidaknya satu ideasi yang patut dipertahankan adalah untuk mengembalikan etika yang sempat hilang dari keseharian pemeluknya.