Dani Mahardika menggerak-gerakkan seluruh tubuh ke kanan dan ke kiri. Tanah liat berlumpur telah menodai kain putihnya. Jangan berharap di sana seterang rumahmu. Gelap dan kedap suara. Menjerit minta tolong sampai mampus pun tidak bakal ada yang mau menolongnya. 

Ia tidak tahu seperti apa pastinya, yang jelas ia merasakan yang namanya kematian. Orang bilang tempat itu adalah rumah terakhir para manusia bumi. Tak peduli sekaya apapun mereka, itulah rumah terkahirnya.

Ketika Dani berhasil melepaskan tangannya dari sebuah ikatan kencang, ia senang bukan main. Setiap insan juga pasti akan diikat seperti Dani kelak.

Sumpalan berupa kapas telah jatuh dari kedua lubang hidungnya. Ia bingung itu kapas atau tisu, tapi kalau orang yang dikubur pasti disumpal pakai kapas bukan tisu, begitu pikirnya. Jadi ia pikir itu adalah kapas. 

Lupakan soal kapas, kali ini ia dihadapkan pada ulat-ulat menjijikan yang menari-nari di atas tubuhnya. Entah datang dari mana ulat-ulat itu. Di susul kemudian cacing tanah berserta gerombolannya. Ia tak ada pilihan lain selain mengajak mereka untuk mengobrol bersama.

Ia meminta tolong pada cacing berwarna hitam kecokelatan. Ia ingat cacing seperti itu biasa ia gunakan untuk memancing setiap akhir pekan di tambak milik juragan Somad. Aktivitas memancing ditemani sang istri menjadi khayalannya. Cipratan air tambak yang mengenai wajah sang istri dijadikan gurauan bersama. Suara syahdu daun cemara menambah keromantisan akhir pekan. 

Pokoknya tidak ada lagi aktivitas senikmat itu. Sekejap kemudian ia kembali ingat cacing di atas tubuhnya. Kalau cacing itu tahu kejadian demikian, sudah pasti cacing itu enggan mengobrol kepada Dani, takut dijadikan umpan pancingan. Tunggu dulu, Dani mengobrol dengan cacing?

Ia tak habis pikir, kenapa ini bisa terjadi. Atas yang dilihatnya berupa tanah. Samping yang dilihatnya berupa kayu bercampur tanah. Bawah yang dilihatnya juga tanah lagi. Sementara ia sudah sangat kepanasan. Menghirup udara adalah kebutuhan pokok baginya. Meskipun tubuhnya besar, ia sudah tak mampu lagi menahan napas hanya untuk beberapa jam. 

Beberapa tanah berjatuhan menimpa wajah pucatnya. Cacing-cacing kepanasan kembali masuk ke dalam tanah seolah-olah tidak sudi berduaan dengan mahkluk besar yang nyatanya ngos-ngosan mengambil napas di ruangan sesempit lubang buaya. 

Ia bersyukur cacing meninggalkannya seorang diri tapi ia sangat berharap cacing itu bisa bicara lalu menyampaikan pesan kepada manusia di atas tanah agar menyelamatkannya secepat mungkin.

“Cing, Cing, tolong aku!”

Percuma, cacing hanya seekor binatang melata nan menjijikan yang tak mengenal huruf apalagi berbicara. Saking berharapnya pada cacing, ia terus melihat cacing melata meninggalkannya lewat celah-celah dalam tanah, persis seperti layaknya tontonan kartun di televisi rumahnya. Setidaknya ia bisa terhibur meski terkubur.

Selanjutnya Dani kembali diam. Ia tak tahu harus mengais tanah dengan resiko tubuhnya terkubur seratus persen atau diam saja menunggu keajaiban datang dari atas sana. Kali ini ia masih bisa bergerak ke kanan dan ke kiri sampai sepuluh sentimeter. Tidak tahu nanti, bisa jadi ia tidak bisa menggerak-gerakkan tubuhnya yang dibaluti kain serba putih.

Barangkali Dani termakan omongannya sendiri. Pasalnya beberapa hari lalu (entah hari atau bulan atau bahkan tahun, ia tak tahu pasti karena di dalam tanah tidak ada kalender atau jam dinding) ia meremehkan drama religi tentang azab mandor durhaka yang tertimpa batu meteor.

“Mana ada azab semengerikan itu? Harusnya sineas layar TV lebih kreatif lagi, bisa jadi nanti azab meteor berbalik kepada para penulis skenario beserta jajarannya,” ucap kesal Dani pada istrinya yang hamil tiga bulan. Sementara sang istri adalah penggemar berat drama religi tentang azab.

“Hus! Jaga ucapanmu, Mas! Bagaimanapun juga drama religi seperti itu memberikan pukulan telak bagi kita yang masih saja melanggar perintah Allah. Ambil positifnya saja! Lagi pula mereka yang main juga ganteng-ganteng,” balas istrinya. Suami dilarang protes jika sang istri berbeda pendapat, itu rumus rumah tangga yang mampu mempertahankan rumah tangga mereka hingga menonton drama religi bersama. Sudah dipastikan Dani hanya bisa tersenyum palsu.

“Hem, jadi itu alasan utamanya. Bukan karena hikmah dari filmnya tapi hikmah dari pemainnya yang ganteng. Padahal gantengan juga aku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Awas saja! Besok, remot TV itu akan aku buang ke sungai, biar tidak ada lagi ceritanya film drama religi alay seperti itu,” ungkap Dani penuh kesal di dalam hatinya. Bisa gawat kalau sang istri tahu apa yang dibicarakan Dani.

Dani tertawa di dalam tanah begitu mengingat kejadian itu. Kalau karena kejadian itu lantas ia terkena azab, sudah dipastikan ia sedang berada di alam mimpi. Bukankah alam mimpi senyata alam fana.

Ia merasa tak ada yang salah dari menghilangkan atau menyembunyikan remot TV. Kalau tujuan ia baik, tentu Tuhan tidak akan sampai memberikan azab layaknya drama religi yang hanya ada di layar televisi. Apalagi azab yang sedang ia timpa lebih mengerikan daripada itu, ia masih hidup di tengah-tengah kematian. Kalau azab di film itu, mayatnya sudah benar-benar mati, tidak bernapas seperti dirinya.

Ngiiing. Suara di telinga Dani berbunyi. Entah suara apa itu. Suara itu terdengar nyata, senyata kegerahan dirinya di dalam tanah. Ia tidak sedang bermimpi. Sekali lagi, apa memang benar bahwa ia mendapatkan azab karena menyembunyikan remot TV dari istri yang hendak menonton film drama religi tentang azab. Atau mungkin ada sesuatu yang lain, sebuah dosa yang lebih besar dari itu.

Suatu hari ia mendapatkan pesan singkat di media sosial barunya. Pesan yang datang dari mantan pacarnya dulu. Konon menjalin hubungan dengan mantan pacar adalah tindakan selingkuh. Tanpa sepengetahuan sang istri, Dani sering membalas obrolan dari Sri, mantannya yang kini berstatus janda ditinggal mati sang suami.

Bukan sekali atau dua kali bahkan berkali-kali ia menjalin hubungan lewat media sosial sampai pada akhirnya Sri mengajaknya bertemu langsung di kafe miliknya. Tak ada perjumpaan spesial selain bertatap langsung sambil memadu kasih. Ia ingin menolak tapi ia tidak bisa berkata tidak bisa tidak jadi. Mana ada kesempatan selebar itu ia abaikan.

Kafe milik Sri searah dengan kantornya di pertigaan jalan besar. Ia pun mampir pada jadwal yang sudah disepakati bersama. Di sana bukan obrolan indah yang mereka utarakan, di sana adalah luka di masa kini di mana Sri semakin cantik, lebih cantik seratus persen ketimbang saat ia sedang menjalin asmara dulu. Luka itu semakin dalam begitu melihat Sri akan dipersunting lagi oleh pria kaya raya, Hermanto, saingannya dulu sewaktu merebut hati Sri di sekolah menengah.

Sri hanya memberinya undangan pernikahan.

Azab itu mungkin datang ketika Dani mulai melupakan sang istri yang sedang hamil sembilan bulan. Ia bukannya memperhatikan sang istri yang sebentar lagi melahirkan malah menjalin cinta diam-diam dengan mantannya.

“Apa benar selingkuh itu dosa besar?” ia bertanya dalam hati sementara keringat mengucur ke seluruh wajahnya. Ia meminum air keringat itu begitu jatuh ke dalam bibirnya, lumayan sebagai pelepas dahaga.

Setelah itu apa yang akan ia lakukan selanjutnya, kembali menjerit? Atau kembali pasrah?

Dani mencoba memejamkan mata namun tidak bisa.

“Apa ini yang namanya alam kubur. Azab peselingkuh yang ternyata masih hidup di alam kubur. Mungkin itu judul yang cocok buat drama religi tentang aku.”

Ia tidak bisa tidur. Bisa-bisa ia tidur beneran alias meninggal dunia.

Beberapa waktu kemudian, dari atas berbunyi suara mesin, suara itu mirip buldoser yang menggeruk tanah. Suara itu semakin keras, mengeras dan memenuhi seluruh gendang telinganya. Beberapa orang berbaju oranye dengan helm kuning dilihat secara samar-samar. 

Ia sudah tidak bisa membedakan lagi, mana yang asli, mimpi, malaikat atau khayalan semata. Semuanya berjalan ke arahnya. Mereka datang penuh perkasa. Ia pikir juga mereka adalah malaikat pencabut nyawa. Ia memilih pasrah, lagi pula tidak ada gunanya menjerit. Apakah malaikat pencabut nyawa akan pergi menjauh begitu mendengar jeritan minta tolong dari kita? Tentu tidak, bukan?

“Cepat lepaskan kemeja putihnya!” perintah salah satu dari mereka.

Apa begini cara malaikat pencabut nyawa bekerja. Bukankah ia memakai kain kafan bukan kemeja.

“Tali rafia putih yang melilit tubuhnya segera potong! Itu pasti yang membuatnya tak bisa bernapas dengan leluasa. Lalu apa ini?”

“Kenapa ada tisu basah di sekitar hidung pria ini.”

Samar-samar, ia semakin tidak bisa mendengar dan melihat apa-apa di atasnya. Mungkin ia akan dibawa ke alam yang lain.

***

Pagi itu sebelum gempa terjadi, Dani pamit kepada isrtinya hendak pergi bekerja. Tak seperti biasanya Dani pamit pada istrinya itu. Mungkin saja karena ia akan berselingkuh dengan mantan pacarnya dulu. Ia juga memakai kemeja putih terbaiknya, sebuah kemeja yang ia pakai ketika sedang melangsungkan akad pernikahan setahun silam. Ia berharap ia tak jadi memadu kasih dengan mantannya, itu dosa besar baginya. Hanya berjumpa dan temu kangen apa salahnya.

Ia merasakan luka terdalam begitu tiba di kafe milik mantannya itu. Luka dalam itu tak hanya sebatas mengenai paras Sri yang semakin cantik atau kabar Sri yang akan menikah lagi. Lebih dari itu, ia merasakan guncangan tanah semakin dahsyat. Guncangan tanah itu bercampur dengan guncangan hatinya. Dari kejauhan, ia melihat sang istri sedang makan bersama dengan seorang pria tampan.

“Bukankah pria itu adalah aktor yang bermain di film drama religi tentang azab mandor yang terkena batu meteor.”

Perasaan Dani jatuh ambruk bersamaan dengan likuifasi tanah yang bergetar. Ia melihat semuanya terkubur hidup-hidup, tak ada yang tersisa dari kafe itu selain tisu basah dari air mata kesedihannya sore itu. Ia baru ingat kejadian itu begitu siuman dari bangsal rumah sakit.