Hampir setiap bulan bahkan minggu selalu muncul berita di televisi, koran, berita daring, dan media sosial mengenai bencana yang terus menerus melanda bumi ibu pertiwi. Apakah ini sebuah kebetulan atau memang sudah menjadi kodrat ilahi? Ataukah ibu pertiwi ini mulai merintih melihat kondisi bangsa ini?

Bangsa ini perlu tegar untuk menghadapi bencana yang terus datang silih berganti. Entah sampai kapan? Mungkin juga tidak akan berhenti hingga kiamat datang. Apa salah dan dosa bangsa ini sehingga banyak sekali bencana yang seakan-akan menjadi “pelanggan setia” bangsa ini.

Di balik bencana ini, selalu menyimpan duka yang mendalam bagi korban bencana. Baru-baru saja gempa di Lombok, kemudian disusul gempa di Palu-Donggala yang disertai tsunami dan fenomena likuifaksi. Namun, apakah duka yang mendalam ini juga dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Bisa dikatakan tidak.

Beberapa akun media sosial dengan tega “menggoreng” musibah bencana menjadi sesuatu yang dikaitkan dengan politik. Parahnya lagi politik ini dikaitkan dengan agama. Mereka yang tidak punya hati ini selalu mengatakan bahwa ini adalah azab dari Tuhan. Azab kepada hamba-Nya yang dipimpin oleh pemimpin yang tidak satu pemikiran dengan para “haters”. Baik pemikiran agama maupun pemikiran pilihan politik.

Jikalau memang ini azab dari Tuhan, apakah dari dahulu bangsa ini merupakan bangsa yang dipimpin oleh seorang yang hina? Atau bangsa ini terlalu banyak berbuat maksiat sehingga Tuhan selalu murka? Saya rasa tidak. Bukan sekarang saja bangsa ini dilanda bencana.

Negara Indonesia berada pada wilayah yang rawan bencana baik itu gempa bumi, erupsi gunung api, atau peristiwa alam lain yang berubah bencana. Hal ini karena negara ini berada pada lempeng-lempeng tektonik yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik. Lempeng-lempeng tektonik ini selalu bergerak. Di bawah lempeng tersebut tepatnya mantel bumi terjadi proses arus konveksi yang selalu bergerak dan mendorong lempeng tektonik. Bumi ini bukanlah berbentuk bola padat, tetapi di bawah permukaan bumi terdapat batuan yang berbentuk cairan yang selalu bergerak.

Negara kita juga berada pada wilayah Cincin Api Pasifik atau sering dikenal dengan “Ring of Fire”. Cincin api merupakan istilah untuk jalur gunung api aktif di lempeng bumi. Adanya tiga lempeng tektonik tadi memicu terbentuknya gunung aktif dan tidak aktif di Indonesia. Tercatat Indonesia memiliki 129 gunung api aktif, atau sekitar 17% gunung api aktif di dunia. Bahkan, Indonesia pernah mencatat sejarah tentang letusan terbesar gunung api yaitu Gunung Tambora dan Gunung Krakatau.

Setelah melihat fakta ini, apakah pantas menyebut korban bencana alam tersebut mendapat azab dari Tuhan? Bagaimana jika hal tersebut menimpa diri kalian, apakah mau dikatakan seperti itu? Tidak ada satupun bagian di Bumi ini yang luput dari bencana.

Negara-negara berbasis agama pun akan mengalami bencana. Namun, anehnya mengapa mereka hanya dikatakan menerima cobaan bukan azab? Padahal negara berbasis agama tersebut tidak berada di wilayah rawan bencana seperti Indonesia? Mungkin kita perlu tanyakan pada ahli kitab suci masing-masing.

Agama seharusnya menjadi ujung tombak dalam mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. Jika agama membutakan orang untuk berbuat kemanusiaan, berarti ada praktik yang salah dalam menafsirkan kitab suci. Ajaran agama harus menjadi penyejuk dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut KBBI, azab merupakan siksa Tuhan yang diganjarkan kepada manusia yang melanggar larangan agama. Pasti, dalam hati kita bertanya: “Lalu bagaimana dengan kita yang tidak melanggar larangan agama?”. Pertanyaan ini menurut saya adalah sebuah keangkuhan dalam pribadi manusia.

Apakah di dunia ini ada manusia yang luput dari dosa? Lantas, jika kita sudah bersih dari dosa mengapa takut ajal menjemput? Atau kita takut karena masih memikirkan hal-hal duniawi? Seharusnya, sebagai seorang yang beriman dan benar-benar bersih kita tidak perlu takut menghadapi ini dan harus selalu berpikiran positif sehingga tidak menyalahkan orang lain yang berbuat dosa.

Kita perlu menyadari bahwa Bumi ini menjadi tempat tinggal bersama seluruh umat dan perlu untuk "dicintai". Bumi ini sudah semakin tua untuk ditinggali manusia. Mungkin Tuhan hanya ingin mengingatkan kita, sebagai makhluk ciptaan-Nya untuk selalu ingat akan Tuhan. Selalu berserah diri kepada Tuhan dan bersahabat dengan alam ciptaan-Nya.

Tindakan kita yang menyalahkan korban bencana alam sebagai azab merupakan tindakan yang tidak terpuji. Di mana adab kita? Adab merupakan kehalusan, kesopanan, akhlak dan kebaikan budi pekerti yang menjadi identitas diri manusia apapun suku dan agamanya.

Bangsa Indonesia berpedoman pada Pancasila yang salah satu silanya yaitu sila kedua mengatakan bahwa Kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketika terjadi bencana hendaknya ego kita terhadap batas-batas suku, agama, ras, dan golongan harus dihilangkan. Semua ini hanya untuk rasa kemanusiaan. Dan memang ego ini harus sudah dibuang jauh-jauh dalam kehidupan bermasyarakat sehingga kerukunan tetap terjaga.

Selain Pancasila, bangsa Indonesia juga memiliki falsafah hidup masing-masing yang dimiliki oleh suku-suku. Falsafah-falsafah hidup ini mulai luntur sehingga beberapa masyarakat sekarang ini sudah hilang adabnya. Salah satu falsafah hidup yang bisa menjadi panutan adalah falsafah hidup orang Jawa.

Nerima ing pandum yang artinya selalu menerima keadaan. Kita harus menerima keadaan termasuk bencana yang silih berganti karena memang Indonesia berada di wilayah rawan bencana. Keikhlasan hati perlu dipupuk agar kita menjadi manusia yang tidak serakah. Apakah kita hanya bisa menerima keihklasan dengan berdiam diri?

Ingat dan waspada atau eling lan waspada. Ingat yang dimaksud adalah ingat kepada Yang Maha Kuasa dan selalu berhati-hati dalam menjalani hidup. Jika mengetahui wilayah kita rawan bencana, maka setidaknya kita perlu mempelajari mitigasi bencana di wilayah kita. Pemerintah wajib berperan dalam mitigasi bencana ini sehingga meminimalisir korban.

Urip iku urup yang artinya hidup itu menyala. Hidup itu harus menyala. Hidup harus menjadi semangat untuk orang di sekitar kita termasuk membantu orang-orang di sekitar kita. Pasti, suatu saat kita juga membutuhkan bantuan orang lain. Percayalah, sapa nandur bakal ngunduh. Siapa yang menanam akan memanen. Apabila kita menanam kebaikan pasti kita juga akan memanen kebaikan.

Ingat, bencana itu seperti “kejutan” yang bisa diterima siapa saja dan kapan saja karena bencana tidak bisa diprediksi. Setidaknya jikalau memang tidak mau membantu korban bencana, tetaplah diam dan instropeksi dengan tidak memanfaatkan keadaan. Turut serta menyebarkan berita hoaks setelah bencana juga akan menambah gelisah korban bencana. Cermati berita dari sumber yang terpercaya.

Falsafah Jawa seperti di atas setidaknya menyadarkan bahwa kita harus rukun berada tinggal di rumah yang sama yaitu Bumi Pertiwi Indonesia. Menjaga “hati” korban bencana setidaknya akan meringankan trauma psikis mereka. Utamakan adab sebelum azab benar-benar menimpa diri kita.