Pesona Manado memang keterlaluan. Tidak hanya menyajikan pemandangan bawah lautnya yang mewah, tetapi juga kota ini menghidangkan pemandangan pegunungan yang dapat membuat hati para jomblo meleleh. 

Pusat keramaian kota Manado persis berdampingan dengan laut, namanya kawasan Mega Mas. Sejam dari kawasan itu, Tomohon si kota bunga sudah siap memeluk dengan kesejukan pegunungannya.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Petuah ini tepat untuk menjawab pertanyaan kenapa memilih olahraga menyelam atau diving. Selain tentu saja indahnya pemandangan bawah laut yang sering dijumpai di majalah atau Channel National Gheographic. Manado dengan taman laut Bunakennya yang terkenal tentu memperkokoh alasan untuk memilih diving menjadi hobi baru.

Seorang kawan menganjurkan untuk mencoba Freedive. Menurutnya, menyelam itu secara garis besar dibagi menjadi tiga jenis, yaitu Scuba Dive, Spear Fishing, dan Free Dive. Scuba sendiri merupakan kepanjangan dari self-contained underwater breathing apparatus. Scuba Dive, mudahnya, bisa diartikan sebagai menyelam dengan membawa tabung oksigen untuk bernafas di bawah laut.

Berbeda dengan Scuba Dive, Spear Fishing dan Freedive mengandalkan kemampuan menahan nafas untuk melayang-layang cuci mata lihat-lihat keindahan bawah air laut. Spear Fishing, sesuai namanya, kurang lebih berarti berburu ikan dengan menggunakan tombak. Meskipun nyatanya ia menggunakan senjata mirip senapan tapi “pelurunya” menggunakan tombak yang tajam.

Freedive lebih sederhana. Tarik nafas, tahan, lalu meluncurlah tegak lurus ke dalam laut, tapi jangan lupa kembali ke permukaan untuk bernafas.

Sayangnya, di balik kesederhanaan ini, ada bahaya besar di belakangnya. Beberapa orang berpendapat bahwa freedive ini termasuk jenis kegiatan ekstrem. Tapi bagi yang sudah mencicipinya, freedive ini termasuk olahraga yang fantastis dan membuat ketagihan.

Setidak-tidaknya freedive memenuhi kedahagaan orang-orang yang senang bermain-main dengan risiko. Dan bagi yang sedikit narsis dan kekinian, akun Instagram-nya menjadi tidak terlalu “mati gaya”.

“Kalau bisa berenang, bisa ikut freedive, ngga?” Saran penulis, arenanya laut bukan bak kamar mandi. Lebih baik belajar berenang dulu. Tidak perlu semahir atlet olimpiade, tapi setidak-tidaknya sudah tidak terlalu panik kalau ujung jempol kaki tidak menemukan dasar kolam renang.

Panik, ini yang menjadi tantangan pertama yang harus ditaklukkan. Kemampuan mengusir panik dan mengundang ketenangan sangat-sangat berpengaruh dalam ber-freedive. Ya, tahapan pertama sebelum menghujamkan diri ke dalam laut adalah menenangkan diri atau istilah resminya relaksasi. Caranya, mengatur nafas: menarik nafas dan menbuang nafas dengan tempo yang akan membuat fisik maupun mental menjadi santai atau relax.

“Perlengkapan freedive bagi pemula apa saja?” Peralatan minimalnya adalah Kacamata Selam (Mask), snorkel, dan Fins (kaki katak). Kacamata selam untuk freedive, apabila dibandingkan dengan kacamata selam untuk scubadive, adalah ia lebih ramping dan volumenya lebih kecil. 

Snorkel tidak terlalu perlu khusus untuk freedive. Snorkel yang biasa dipakai untuk bersnorkling juga bisa saja digunakan. Toh, ketika di dalam laut, snorkellnya dilepas dari mulut. Sedangkan untuk Fins, gunakan fins yang panjang/long fin.

Bagaimana dengan “wetsuit”? Bagi yang tidak bermasalah dengan isi dompet, silakan saja menggunakan wetsuit yang cocok dengan ukuran tubuh. Ketebalan wetsuit 3 mm cukup untuk digunakan di laut beriklim tropis seperti Manado. Tidak terlalu kegerahan juga tidak terlalu kedinginan meski agak lama di bawah air.

"Ok, peralatan minimal siap, boleh langsung pergi ke laut lepas?" Tunggu dulu. Ada petuah di dunia selam-menyelam: Never dive alone. Jangan pernah menyelam sendirian. Selalu ajak teman yang lebih dulu terbiasa freedive, ber-liscense atau lebih mantap apabila ditemani instruktur freedive. Hal ini akan jauh membuat nyaman dan tentu saja aman.

Kenapa harus liscense? Karena untuk mendapatkannya, peserta akan diberikan materi tentang teknik freedive yang aman dan materi tentang rescue (penyelamatan). Bagaimanapun juga, bawah laut bukanlah habitat asli untuk manusia. Sehebat apa pun orang suku Bajo, tetap saja butuh udara di atas permukaan laut. Kehadiran buddy yang kompeten untuk menemani saat menyelam tentu menjadikan kegiatan menyelam menjadi lebih aman.

Sepanjang penulis tahu, meski freedive ini relatif hobi baru, tetapi komunitas-komunitasnya sudah banyak di beberapa daerah di Indonesia, seperti Manado, Bali, Ternate, Surabaya, Kendari, Makassar, dan lain-lain, bahkan Jakarta juga ada.

Bergabung dengan komunitas akan sangat bermanfaat dan menunjang kemampuan berfreedive. Untuk yang di Manado, bisa bergabung dengan komunitas Tuturuga Freedive Manado. Mereka rutin latihan minimal seminggu sekali di pantai Malalayang, hanya sekitar lima belas menit dari pusat kota Manado.

Kembali ke perkara tahan nafas. Umumnya, kita bisa menahan nafas kurang lebih satu menit. Penulis sendiri mulai dari empat puluh lima detik. Bandingkan dengan rekor dunia yang dipegang William Turdbridge di tahun Dua Ribu Enam Belas, empat menit tiga puluh empat detik dengan kedalaman seratus dua puluh dua meter! (Tempo.Co). 

Jadi tenang saja. Kalau bisa tahan satu menit dengan teknik yang tepat, sudah cukup untuk menyentuh kedalaman tiga puluh meter.

Idealnya seperti itu. Tapi berbicara kedalaman, tidak melulu mengenai kuat-kuatan tahan nafas, tapi juga rasa sakit di telinga karena tekanan air laut. Semakin dalam, semakin kuat tekanannya. Cara untuk menghilangkan rasa sakit itu disebut equalize. Definisi ngawur versi warung kopinya, equalize itu mengeluarkan udara dari telinga. Ayo, tunggu apalagi?

Mar jo dang torang bafreedive (Ayo Kita ber-freedive)