Ada banyak hal yang bisa dibincang dari film Ayat-Ayat Cinta 2 yang telah tayang di bioskop Indonesia sejak tanggal 21 Desember 2017 dan masih ditayangkan hingga tulisan ini dibuat. Saat pertama kali melihat novel Ayat-Ayat Cinta 2 terpajang di sebuah toko buku sekitar dua tahun yang lalu, saya sudah menduga bahwa novel tersebut akan kembali diangkat ke dalam film layar lebar sebagaimana novel sebelumnya yang berjudul Ayat-Ayat Cinta

Sempat terbesit di benak saya sebuah pertanyaan: apa perlunya Ayat-Ayat Cinta dibuatkan sekuel? Pertanyaan itu kemudian berlanjut: kira-kira mana yang lebih dulu muncul, ide untuk menulis novelnya, atau keinginan untuk meraup jutaan penonton setelah nanti novelnya difilmkan? Sayangnya, tulisan ini tidak dibuat untuk memupuk prasangka-prasangka semacam itu.

Saya tertarik untuk membincang film (atau cerita, mengingat film ini diangkat dari sebuah novel) ini dari sisi penokohannya. Film Ayat-Ayat Cinta 2 berkisah tentang kehidupan Fahri, pemuda asal Indonesia yang meraih kesuksesannya sebagai seorang profesor muda di University of Edinburgh. Fahri digambarkan sebagai sosok yang prima secara fisik dan juga perilaku.

Tak pelak lagi, Fahri menjadi buah bibir di kalangan para mahasiswa (perempuan, tentu saja). Sutradara menggambarkan hal ini dengan begitu banyak cara dan dari berbagai sudut pandang. Mulai dari perbincangan di antara mahasiswi tentang apakah Fahri still available—di dalam kelas di mana Fahri sedang mengajar, sampai adegan di mana Fahri mendapat banyak pemberian makanan buatan khusus dari “para” pemberinya yang, tentu saja, adalah perempuan.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Fahri digambarkan sebagai sosok yang demikian bijaksana dan matang. Fahri tinggal di sebuah lingkungan yang plural dalam hal agama (hal ini juga menjadi sorotan dalam film).

Satu demi satu konflik di kehidupannya bertetangga berhasil dia selesaikan. Perihal negatifnya stereotip orang-orang di sekeliling Fahri tentang Islam—agama yang dianut Fahri—digambarkan dengan cara yang, setidaknya menurut saya, kurang apik, cenderung terlalu simplistis dan terlalu hitam-putih.

Fahri tetap menjalin hubungan baik dengan para tetangganya bahkan saat mereka memusuhinya. Fahri menolak untuk marah saat satu demi satu tetangganya menunjukkan sikap-sikap permusuhan atas nama stereotip negatif tentang Islam. Maka jadilah Fahri sosok yang demikian sempurna.

Ya, sempurna, saya akan berhenti di sana. Tidak ingin mengulangi kesalahan sutradara yang telah membiarkan saya, penontonnya, bosan menyaksikan “kesempurnaan” Fahri. Saya akan berhenti mendikte deretan kesempurnaan Fahri yang sejatinya masih banyak lagi (saya belum bicara soal percintaannya).

Adalah begitu mudah berimajinasi tentang sosok yang sempurna, cukup bayangkan bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain, maka demikianlah sosok yang sempurna. Fahri adalah orangnya. Sayangnya, tidak ada manusia semacam Fahri di dunia nyata. Dan karenanya, cerita kehidupan berikut sifat-sifat Fahri bagi saya tidak dapat dipercaya.

Saya menduga, penulis novel Ayat-Ayat Cinta 2 ingin menginspirasi pembacanya untuk senantiasa berbuat kebaikan bagi sesama, altruistis, serta taat beragama—dengan cara menciptakan role model berupa sesosok tokoh rekaan dalam novel bernama Fahri. Fahri diharapkan dapat dijadikan contoh sosok altruis sejati, penganut agama tanpa cacat, serta pencinta tanpa kurang dan khilaf. Bahwa jika para pembaca (dan penonton) tidak bisa mencontoh keseluruhan sifat Fahri, sebagiannya pun tak mengapa. Sayangnya, fiction doesn’t work that way.

Fiksi bekerja di alam bawah sadar para penikmatnya tidak dengan cara demikian. Kita ingin disuguhi tokoh yang benar-benar seperti manusia apa adanya. Kita sudah cukup tahu tentang malaikat yang sempurna ketaatannya, pun tentang iblis yang sempurna kelicikannya. Kita ingin manusia, yang siapa pun orangnya, pasti memiliki peperangan dalam dirinya. Benak kita ingin disuguhi cerita yang tidak hitam atau putih, sebab kita selalu hidup di wilayah abu-abu. Kita ingin tokoh yang dapat dipercaya.

Orson Scott Card dalam bukunya berjudul Characters and Viewpoint yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit MLC pertama kali pada tahun 2005—menulis bahwa memang benar tokoh fiksi adalah manusia dan pengaranglah yang menciptakannya, namun bukan berarti tokoh tersebut tidak harus mirip manusia sesungguhnya dan seutuhnya.

Bahwa kita seharusnya dapat mengenal tokoh fiksi bahkan lebih baik daripada kita mengenal orang-orang terdekat kita sekalipun. Karena itulah alasan orang menikmati fiksi: untuk mengenal manusia dengan lebih baik. Dan untuk dapat mengenal manusia dengan lebih baik melalui fiksi, tokoh fiksi haruslah dapat dipercaya.

Dalam hal ini, setelah kita menonton film Ayat-Ayat Cinta 2, berapa kali kita bicara dalam benak kita masing-masing, “Ah, yang begituan paling cuma ada di film”, atau kita bertanya, “Ada gak ya manusia semacam Fahri?” Pertanyaan retoris semacam ini tentunya tidak perlu dijawab. Saya lebih tertarik untuk bertanya, “Lantas kenapa film Ayat-Ayat Cinta 2 demikian digandrungi?”

Ini benar. Di bioskop di kota saya, film Ayat-Ayat Cinta 2 ditayangkan di tiga studio sekaligus. Kursi-kursi teater selalu terisi penuh. Penonton dari segala usia rela mengantri panjang demi mendapatkan tiket masuk.

Opini saya di atas bisa saja benar, namun lebih empuk untuk dibantah. Bahwa jika memang film Ayat-Ayat Cinta 2 sedemikian tidak memenuhi elemen-elemen penokohan fiksi secara utuh, mengapa penonton masih berdatangan? Bahwa jika memang film ini tidak memenuhi harapan penonton tentang cara mengenal tokoh, mengapa masih banyak komentar-komentar positif tentang film ini?

Well, saya akan berusaha untuk tidak sinis dan sarkastik dalam menjawab pertanyaan semacam itu. Hanya saja, setiap produk memiliki pasarnya masing-masing. Dan kebanyakan pasar menuntut agar mereka mendapatkan apa yang mereka harapkan akan mereka dapatkan.

Saya sendiri cukup menikmati Ayat-Ayat Cinta 2 mengingat film ini melibatkan aktor dan aktris yang cukup ternama dan berkualitas serta mengambil lokasi di kota Edinburgh, Skotlandia. Produser tentu menggelontorkan dana yang cukup besar, yang tentu atas pertimbangan ekspektasi serta antusiasme penonton yang luar biasa.

Saya nyaris tidak kebagian kursi saat membeli tiket—padahal sudah mengantri panjang—kalau saja tidak bertemu orang yang batal menonton, entah karena alasan apa lantas menjual tiketnya kepada saya. Sungguh beruntung. Terakhir, jaya terus film Indonesia; jaya terus industri perfilman Indonesia!