12 November dikenal sebagai hari ayah atau bahasa yang tak asing lagi yaitu “father days”. Begitu menyadari tanggal tersebut adalah hari ini, penulis tertarik menulis bertemakan sang pahlawan untuk anak. Bukan karena bulan ini adalah bulan November atau bukan karna untuk memperingati hari pahlawan. Tetapi, penulis yakin, tidak sedikit orang – orang yang memiliki pengalaman yang luar biasa mengenai ayahnya.

Memang, kata ayah tidak lebih populer dibandingkan dengan “ibu”. Semua tahu, bahwa surga terletak di bawah telapak kaki ibu. Memori mengenai hari ibu lebih dominan dari hari ayah. Bahkan tidak sedikit orang yang merayakan hari ibu. Lalu, ayah? Tidak seharusnya kata ayah termarjinalkan. Ada sosok – sosok dan peran penting seorang ayah untuk anak – anaknya di kehidupan nyata.

Menelisik kehidupan nyata saat ini, banyak anak – anak yang lebih dominan pada ibu. Rasa segan menghantui mereka kala ingin mendekat dengan ayah. Sosok yang tegas, berwibawa, berkharisma, dan menjadi sang pengambil keputusan. Tetapi jauh di lubuk hatinya, ada sosok kelembutan dan kasih sayang yang sengaja tak mereka tampakan. Mengapa tak mereka tampakkan? Mereka hanya mengorbankan diri mereka untuk tak menampakannya.

Sudah jelas dan pasti, sosok wanita yang lembut menjadi peran yang dominan untuk anak – anaknya. Lalu jika ayah menampilkan hal serupa, bagaimana si anak dapat tumbuh dan berkembang tanpa ada yang mencontohkan ketegasan padanya?

Ayah memang tidak selalu ada untuk anak. Tapi dalam waktunya yang sedikit, semaksimal mungkin dia curahkan perannya sebagai ayah. Air matanya tak pernah dia teteskan di depan sang anak. Lelahnya tak pernah dia tampakan di depan sang anak, kasih sayangnya ditutupi dengan segala peraturannya. Untuk apa? Semata – mata hanya untuk menjadikan diri anak kuat, tegas, dan bisa mengambil keputusan kelak dia sudah tiada.

Ketika menjadi seorang anak, rasanya memang merasa terkekang olehnya. Ketika dewasa dan belajar banyak rasa, dan pastinya ketika dia sudah tiada. Timbul kesadaran, dialah pahlawan seorang anak. Dia yang menempa diri sang anak menjadi sosok yang kuat, bahkan lebih kuat. Terpaan, ujian, dan cobaan dunia seakan menjadi suatu hal yang kecil ketika sudah menjadi sosok yang berjiwa besar.

Ayah dalam perspektif Al – Quran

QS. Al – Baqarah ayat 132

Artinya:

Dan Ibrahim mewasiyatkan yang demikian kepada anak – anaknya dan demikian pula Yakub seraya berkata: “Hai anak – anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri.”

Tanggung jawab anak dalam hal agama dan keitaan kepada Allah SWT diserahkan sepenuhnya kepada sosok ayah yaitu Nabi Ibrahim, begitu pula kepada Nabi Yaqub. Wasiyat turun temurun diturunkan kepada sosok sang ayah.

Beban berat atas nama agama dan Allah Taala ada dipundak sang ayah, dengan berbagai cara, sang ayah harus mencontohkan, mendidik, dan mengawasi anaknya agar selalu ada di zona yang diingikan oleh Allah Taala. Si pencari nafkah, si pengambil keputusan, bahkan si penanggung jawab. Dialah yang menjadikan anak menjadi anak yang seharusnya dengan segala ketegasannya. Dan, dalam setiap doanya selalu ada permohonan untuk anak – anaknya.

Terima kasih ayah, kupersembahkan tulisan ini untukmu. Tak terhitung rasanya betapa banyak pelajaran – pelajaran hidup yang kau ajari kepada kami. Tak terhitung rasanya betapa banyak usapan lembut tanganmu ketika kami lelap tertidur, dan tak terhitung rasanya betapa banyaknya tetesan air mata yang terjatuh ketika menyadari bahwa kau telah tiada. Kami, yang berdiri saat ini dengan tegap dan tegar tidak terlepas dari buah hasil didikannmu. Kaulah pahlawan sejati kami, kaulah pahlawan yang selalu ada dalam hati kami.