Masa kecil adalah masa kenangan yang telah lampau, sudah jauh terlewati, tetapi aku masih ingat saat itu sedang bermain karambol (Permainan Sejenis biliar, tetapi dengan menggunakan jari sebagai penyentil dengan lempengan bundar yang dibuat dari kayu atau plastik sebagai pengganti bola) dengan ayahku. Dalam Permainan  karambol tersebut terdapat 4 lobang. Disetiap lobang terdapat nama-nama asing yang sama sekali aku belum mengenalnya.  masing-masing lobang karambol diberi nama-nama, yang bagiku asing untuk dikenal. Nama-nama tersebut yaitu Aristoteles, Thales, Plato, dan Socrates.

Pada saat itu aku masih kelas 3 MI (Madrasah Ibtida'iyyah) atau setara dengan SD.  Ketika asyik bermain karambol  dengan ayahku,  rasa pensasaranku tidak bisa hilang dengan nama-nama yang asing dihadapanku itu, Wahai ayahku yang tercinta, disetiap lobang karambol itu kau labeli nama-nama yang aku tidak mengetahuinya, Siapa nama-nama itu ayah?  Beliau menjawab dengan senyum yang teduh  "Kelak suatu saat kamu bakal tau jawabannya", hatiku tersentak mendengar jawaban ayah yang singkat, rasa penasaranku tidak hilang begitu saja. Kupendam hingga aku mulai usia dewasa.

Menjelang dewasa, setelah lulus SMA aku melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri tepatnya di kota kembang yaitu Bandung, awal perkuliahku disuguhkan dengan pelajaran yang asing bagiku dan akupun belum pernah mengenalnya yakni mata kuliah "Filsafat Umum", disela-sela perkuliah itu seluruh mahasiswa wajib membaca salahsatu buku yang dikarang oleh Prof. Dr. Ahmad Tafsir dengan judul "Filsafat Umum", kubaca lembaran-lembaran buku tersebut, kala itu dosen membagi setiap mahasiswa wajib membaca satu tokoh filsuf beserta pemikirannya, dosen itu menyebut namaku, kamu coba pahami tokoh yang bernama Socrates. Apa Socrates? Tanyaku dengan tegas. Iya kamu kebagian seorang filsuf yang bernama Socrates, rasanya aku tidak asing mengenal nama itu, tapi dimana? Ketika  sedang asyik berfikirr siapa itu socrates, dosen menutup perkuliahan. akupun pulang ke asrama yang aku tinggali.

Dalam perjalanan pulang ke asrama, aku mulai berfikir, Socrates?  sepertinya nama itu tidak asing bagiku, tapi dimana? Usai Shalat ashar tiba-tiba aku mengingat nama itu, ya Socrates adalah nama yang kala itu ayahku menuliskannya disalahsatu lobang papan karambol, aku merasa tersenyum sendiri kini aku mengetahui siapa itu socrates. Jawaban ayah yang singkat itu ternyata terbayar sudah, secara tidak langsung sejak kecil ayah mengajariku tokoh-tokoh filsuf yang terkenal yang tercantum dalam buku tersebut.  Akupun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ayah mengajariku secara diam-diam.

Satu hal yang masih kuingat tulisan ayahku lainnya, kali ini tulisan tersebut ditulis dalam satu lembar yang ditandatangani oleh ayahku sendiri, yang ditempelkan didepan pintu lemari bajuku, setiap aku mau buka pintu lemari tersebut aku selalu membaca tulisan yang dibuat oleh ayahku, entah kata-kata apa, aku belum paham betul karena kala itu aku masih kecil, dituliskan disatu lembar kertas.

Lambat sang waktu berganti akupun secara tidak sadar hapal kata-kata yang ditulis oleh ayahku, mungkin itu tulisannya atau apalah itu. Batinku semakin penasaran. Apalagi setalah ayah tidak menjawab pertanyaanku tentang nama-nama yang yang ada dipapan karambol. Jelasnya kata-kata itu seperti berikut:

Jika anak dibesarkan dengan Celaan, maka ia belajar Memaki.

Jika anak dibesarkan dengan Permusuhan, maka ia belajar Berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan Ketakutan, maka ia belajar Gelisah.

Jika anak dibesarkan dengan Rasa Iba, maka ia belajar MenyesaliDiri.

Jika anak dibesarkan dengan Olok-Olok, maka ia belajar Rendah Diri.

Jika anak dibesarkan dengan Iri Hati, maka ia belajar Kedengkian.

Jika anak dibesarkan dengan Dorongan, maka ia belajar Percaya Diri.

Jika anak dibesarkan dengan Toleransi, maka ia belajar Menahan Diri.

Jika anak dibesarkan dengan Pujian, maka ia belajar Menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan Penerimaan, maka ia belajar Mencintai.

Jika anak dibesarkan dengan Dukungan, maka ia belajar Menyenangi Diri.

Jika anak dibesarkan dengan Pengakuan, maka ia belajar Mengenali Tujuan.

Jika anak dibesarkan dengan Berbagi, maka ia belajar Kedermawanan.

Jika anak dibesarkan dengan Rasa Kejujuran dan Keterbukaan, maka ia belajar Kebenaran dan Keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan Rasa Aman, maka ia belajar Menaruh Kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan Persahabatan, maka ia belajar Menemukan Cinta dalam Hidup.

Jika anak dibesarkan dengan Ketentraman, maka ia belajar Berdamai dengan Pikiran

Pada perkuliahan yang lain aku dikejutkan kembali,  dengan tulisan yang ditulis oleh ayahku, pada mata kuliah Psikologi, aku secara tidak sengaja membaca buku yang dikarang oleh  Jalaluddin Rahmat dengan judul "Psikologi Komunikasi" di satu halaman aku menemukan tulisan yang bagiku tidak aneh, aku membacanya dengan serius, ya! aku mulai menyadari dan memahaminya,  bahwa tulisan tersebut sama seperti apa yang ditulis ayahku dilemari bajuku kala itu. Tulisan itu dibuat oleh Dorothy Law Nolthe, yang dikutip oleh Jalaluddin Rahmat dalam bukunya dan dikutip oleh ayahku   Sekali lagi aku dibuat tersenyum olehnya, ayahku lagi-lagi mengajariku secara tidak langsung. Oh ayah kau sungguh baik. Terima kasih ayah telah mengajariku ilmu yang dimasa datang aku mebgetahuinya.


Cabandua 11-07-17

03:11 WIB