Akhir-akhir ini makin banyak bermunculan para pengamat, komentator, dan kritikus terhadap kinerja pemerintahan dan masalah-masalah lingkungan yang terjadi. Mereka dapat berasal dari kalangan apa saja, baik akademisi, peneliti, politisi itu sendiri ataupun mantan birokrat. 

Terlebih lagi, tahun 2019 ini adalah tahun politik, yang mana akan dilaksanakan Pemilu Legislatif dan Presiden secara serentak, banyak bermunculan kritikus dan pengamat musiman. Terlepas dari apakah mereka yang mendukung dan berseberangan dengan pemerintah pusat atau daerah yang memegang kekuasaan pemerintahan saat ini, semuanya ingin menunjukkan bahwa mereka lebih tahu permasalahan yang terjadi.

Ya, memberikan kritik yang membangun adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk perbaikan. Namun komentar dan kritik yang tidak disertai saran perbaikan, atau bahkan malah menjelekkan dan untuk melemahkan perlu ditelaah ulang. 

Kritikan yang tidak dalam rangka perbaikan hanyalah sekadar menunjukkan kesombongan ilmu dan kepandaian atau ada niat menghinakan. Lalu bagaimanakah menjadi pengamat dan kritikus semestinya kita lakukan?

Dalam perspektif Islam, orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berilmu, baik ilmu-ilmu Quran ataupun ilmu-ilmu penunjang untuk kemaslahatan umat, akan punya kemampuan untuk mengajak orang kepada jalan yang lebih baik sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Orang yang paham Quran dan Hadis akan lebih didengar oleh orang lain jika menyampaikan masalah-masalah agama, dan mengajak untuk beribadah. 

Orang yang ahli ilmu pertanian dan paham teknik bertani akan lebih diikuti oleh petani dalam merubah cara mereka bertani dibandingkan. Dokter yang melakukan penyuluhan kesehatan juga akan lebih dipercaya oleh masyarakat dibandingkan profesi lainnya, meskipun dengan tingkat dan strata pendidikan yang sama. 

Inilah makna yang lebih luas yang difirmankan Allah SWT bahwa hendaknya ada ‘di antara kamu’ untuk menyeru kepada kebaikan (Ali Imran [3]:104 dan 110).

Menjadi kritis untuk mengajak kepada kebaikan secara tegas disebutkan dalam ayat-ayat tersebut (Ali Imran [3]:104 dan 110), yakni dilakukan untuk menyeru kepada makruf dan mencegah dari kemungkaran. Atau dalam kata lain, dilakukan untuk melakukan perbaikan dan solusi perbaikan masalah yang terjadi. 

Dalam makna luas, makruf atau kebaikan bukan hanya sebatas ibadah-ibadah mahdah seperti shalat, zakat dan puasa. Makruf  yang dimaksud dapat berarti segala bentuk kebaikan yang ada disyariatkan ataupun diisyaratkan oleh Allah jalajalaluh, termasuk di dalamnya bagaimana menjaga kebersihan yang baik, menjaga kesehatan, mengatur tata kelola pengairan untuk pertanian dan sebagainya.

Di sinilah peranan orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mempunyai pengalaman lebih, yakni mesti menyuarakan nilai-nilai kebenaran mengkoreksi kesalahan yang terjadi pada lingkungan sosial dan pemerintah sekalipun. Semuanya tentu harus dilakukan sesuai dengan bidang ilmu dan keahliannya. 

Untuk melakukan perbaikan pada lingkungan sosial diperlukan kerjasama yang baik lintas ilmu dan keahlian. Tidaklah mungkin orang yang hanya mengetahui seluk beluk ilmu hadits bisa menyuarakan lebih baik bagaimana cara mengatur keuangan pemerintahan lebih bijak sedangkan ia tidak paham akan itu.

Melakukan kritisi terhadap kesalahan yang terjadi pada masyarakat ataupun berbagai kepincangan yang terjadi pada pemerintah sangat dibutuhkan. Setiap orang yang berilmu dapat melakukan fungsi kontrol itu sesuai dengan peranannya masing-masing. 

Akan tetapi, melakukan kritisi, mengajak kepada kebenaran (da’wah) harus dilakukan dengan keteladanan. Tidaklah mungkin seseorang bisa melakukan perubahan kepada yang lebih baik, jika dalam melakukan upaya itu ia justru melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji. 

Inilah yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam Al-Quran Surat An-Nahl [16] ayat 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Bahkan lebih tegas lagi, Allah subhanahu wata’ala sagat membenci orang-orang menyeru kepada kebaikan atau berkata sesuatu namun perilaku dan tindakannya justru bertentangan dari yang ia ucapkan itu (Ash-Shaf [61]:2-3):

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Termasuk di dalam hal ini adalah berkoar-koar, mengkritik dan menghujat segala kepincangan yang terjadi pada masyarakat dan pemerintah hanya untuk disorot media dan menjadi terkenal. Setelah terkenal, ia kan punya posisi tawar yang tinggi untuk ikut terlibat mendapatkan bagian kekuasaan dari apa yang ia kritik sebelumnya. 

Hal ini juga telah diperingatkan Allah subhanahu wata’ala, di antara manusia ada orang-orang yang sangat menakjubkan kata-katanya, seolah-olah punya niat yag tulus dan baik tapi justru dibalik suara vokalnya ia punya niat yang tersembunyi (Al-Baqarah [2]:204): 

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras."

Oleh karena itu, kita para akademisi, pengamat dan kritikus jadilah kritikus yang sehat dan membangun. Semuanya dilakukan dengan data dan fakta dan sengan cara yang baik dan bijak pula (hikmah  dan mauzhan hasanah). Berikan bukti bukan asumsi, mengapresiasi terhadap kebaikan, dan saran konstruktif terhadap kekurangan. Semua itu dilakukan dengan tulus, bukan akal bulus karena sudah mengincar posisi yang sedang diendus.