Dalam sekejap Fitsa Hats yang mengadaptasi nama sebuah gerai Italian Food menjadi viral. Netizen memang luar biasa, sedikit saja topik yang aneh dalam sekejap mata jadi trending di media sosial. Belum lama berselang om telolet om malah jadi trending world wide, gila.

Adalah tulisan di BAP pemeriksaan salah seorang saksi yang memberatkan Basuki Tjahaja Purnama pada persidangan kasus penistaan agama yang menerangkan bahwa saksi pernah bekerja di gerai Pizza Hut (mungkin maksudnya seperti itu).

Namun penulisan di BAP ditulis dengan "fitsa hats," entah kesalahan dari penulis BAP yang tidak tahu cara menulisnya atau memang permintaan dari saksi yang notabene adalah orang yang anti terhadap produk asing yang dianggapnya kafir, sehingga ejaannya sengaja diubah. Atau memang keduanya memang tidak tahu ya, karena sebelum ditandatangani mestinya saksi memeriksa kebenaran tulisan tersebut.

Ah sudahlah, terlepas dari siapa yang salah dalam penulisan itu yang jelas kejadian ini tentu saja sangat memalukan. Ketakar betapa rendahnya kualitas SDM di Indonesia, sehingga menulis ejaan asing yang sebetulnya cukup familiar saja bisa salah, dan ini bukan sekedar typo, tapi lebih ke bodoh.

Jadi ingat beberapa tahun lalu saat di-hire untuk melakukan seleksi untuk rekruitmen penyiar di sebuah stasiun radio swasta. Ada beberapa pelamar yang kebanyakan dari kalangan mahasiswa yang notabene well educated ternyata tidak bisa mengeja kata dalam bahasa Inggris.

Ketika saya suruh mengeja tulisan STYX yang semestinya dieja es ti way ex beberapa di antaranya mengucapkan es ti ye ix, ada malah yg mengucapkan stik. Belum lagi ketika disuruh mengucapkan CHOIR, yang harusnya dibaca quaier dibacanya khoir, emang bahasa arab?

Bukan bermaksud merendahkan atau bahkan sok tahu, tapi kualitas SDM yang seperti ini memang harus dibenahi. Jangan salah, mereka bekerja di instansi pemerintah. Sebuah pekerjaan yang banyak diidamkan tapi tidak mudah untuk bisa dicapai, bukan karena faktor ketidakpandaian tapi lebih banyak karena faktor X.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa mereka yang tidak menguasai bahasa Inggris, minimal secara pasif, adalah warga negara kelas dua. Ungkapan satire tentu saja, mengingat begitu pentingnya penguasaan bahasa Inggris di semua lini, terlebih di instansi pemerintah.

Jangan kaitkan dengan nasionalisme karena ini adalah dua sisi yang jelas berbeda, menguasai bahasa Inggris secara baik tidak berarti tidak nasionalis. Kurang nasionalis apa orang sekelas Soekarno yang menguasai banyak bahasa.

Kalau Malaysia yang didominasi etnis melayu saja kemampuan bahasa Inggrisnya bagus, mestinya Indonesia juga demikian. Sebenarnya bukan masalah Malaysia yang pernah di bawah penguasaan Inggris, toh Indonesia yang lama dijajah Belanda pun, penduduknya yang saat ini menguasai bahasa Belanda bisa dihitung dengan jari.

Kembali lagi ke Fitsa Hats, ini adalah contoh kecil betapa orang Indonesia tidak terdidik dengan baik. Saya jadi bingung, apa yang ada di benak orang yang menuliskan ini. Kalau dibilang dia tidak pernah melihat bagaimana bentuk tulisan yang sebenarnya, rasanya mustahil. Karena gerai ini tersebar di setiap sudut kota Jakarta.

Kalau dia menulis fitsa hats sebagai rujukan di mana saksi pernah bekerja, kira-kira tempat bekerja seperti apa yang ada di benak penulis fitsa hats ini? Barangkali sejenis bank atau mungkin tempat pencucian mobil.

Tidak bermaksud menyalahkan siapa pun, juga bukan membela saksi dari FPI, tapi ketika tulisan seperti ini dikonsumsi oleh publik ini memalukan sekali. Apalagi tertuang dalam BAP yang notabene adalah bahasa hukum.

Tentu akan ada konsekuensi-konsekuensi hukum di balik kesalahan penulisan seperti ini, bisa jadi BAP-nya dianggap tidak sah kan? Mungkin saja, saya tidak tahu bagaimana konsekuensi hukum untuk kesalahan tolol seperti ini, gugur sebagai saksi? Who knows? Kesimpulannya, baik penyidik maupun saksi sama-sama tidak menguasai bahasa dengan baik. Fatal.

Saya juga tidak menyalahkan teman-teman netizen yang membuat ini jadi viral, mereka merasa excited sekali ketika ada sebuah kesalahan yang dilakukan oleh orang yang berseberangan pendapat. Seperti kita tahu, Ahok yang pertama kali mengangkat hal ini di media online saat diwawancara, maka berpestalah para pendukungnya.

Saat demam pilkada seperti sekarang ini, semua bisa dijadikan bahan bully, media sosial memang kejam. Apalagi yang terjadi adalah fakta, tidak ada fakta saja para pendukung cagub berani bikin dan sebar hoax. Dampak sih dipikir belakangan, yang penting ngetren, syukur bisa nambah follower.

Sudah seharusnya institusi yang berkaitan, dalam hal ini Polri mestinya mawas diri. Ini bukan masalah sepele. Ini menyangkut wibawa instansi sebagai penegak hukum. Mungkin saya salah, tapi hendaknya kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

Apalagi Polri sedang jadi sorotan dari masyarakat terkait pembiaran terhadap tindakan intoleran dan kesan seolah terintimidasi oleh massa anti Ahok. Walaupun di sisi lain mendapat pujian karena detasemen anti terornya berhasil membekuk pelaku rencana teror.

Polri mestinya malu saat Ahok menertawakan tulisan di BAP, walaupun saat itu terkesan Ahok menertawakan saksi. Tapi fakta bahwa tulisan tersebut tertuang di BAP itu riil, dan siapa pun pasti mahfum bahwa yang membuat BAP adalah petugas di kepolisian.

Kita berharap semua institusi penegak hukum bisa lebih profesional lagi. Kalau masalah bahasa saja dianggap sepele bahkan sampai tidak menguasai, bagaimana kita yakin bahwa mereka bisa bersikap independen dalam menegakkan hukum di negeri ini?

Dikerubungi massa takut, diintimidasi plonga-plongo, disuruh mengamankan malah mengawal. Cukupkan kebodohan ini, sudah 2017 masa iya masih gitu-gitu aja kinerjanya. Jangan sampai ada lagi sarkas yang mengatakan hanya ada 3 polisi baik di negara ini Pak Hoegeng, Polisi Tidur, dan Patung Polisi.

Salam Tri Brata!!