Kebanyakan orang tahu tentang kisah ulat. Ya, kisah ulat yang berdoa pada Batara Guru. Doa makhluk kecil itu dikabulkan setelah batara guru melihat kesunguhannya dalam bertapa. Ia kemudian terlahir kembali menjadi makhluk yang cantik bernama kupu-kupu.

            Namun, tahukah kalian tak semua ulat mendapat keistimewaan seperti itu. Ulat mempunyai seorang kakak yang bernama Arung Malam, ia tak berubah menjadi kupu-kupu wujudnya tetap ulat tapi berbeda dengan ulat pada umumnya. Bentuk tubuhnya sedikit lebih besar dengan warna yang lebih gelap dan ada sedikit bintik merah mengelilingi perutnya.

            Tak banyak yang tahu juga, nama kecil ulat yang berubah menjadi kupu-kupu adalah Rupa Warna. Hubungan Arung Malam dan adiknya sangat baik. Ia kakak yang bisa diandalkan sepeninggal orang tua mereka yang telah tiada. Bahkan, ketika Rupa Warna pertama kali keluar dari kepompong, Arung Malamlah yang menjaganya dan mencukupi setiap kebutuhan makannya, karena sayapnya masih basah dan lengket. Lagipula Rupa Warna belum tahu caranya terbang.

            Sampai suatu saat, Rupa Warna mulai berubah sikap. Ia mulai enggan bertemu kakaknya, lebih banyak waktu ia habiskan terbang di udara bukan untuk mencari makan melainkan mencari pujian dari makhluk-makhluk lain yang kebetulan melihatnya. Arung Malam pun mengingatkannya.

“Sesekali pulanglah, kita jarang sekali bertemu sekarang, lagipula apa saja yang kau
  kerjakan?”
“Ah, sudahlah kak urusi saja urusanmu!”
“Bukan begitu, meskipun sekarang kau sudah punya sayap, kau tetap harus bekerja
  dengan giat, sayapmu pemberian Batara Guru, manfaatkanlah dengan baik”
“Oh, kenapa kakak tak terus terang saja, kau iri padaku kan?”
“Sudahlah kak, kita sekarang berbeda aku mau berkunjung ke tempatmu kau
  seharusnya sudah bersyukur, kau ini hanyalah ulat ingat itu”

Mendengar adiknya berkata seperti itu, Arung Malam langsung naik pitam

 “hei apa katamu?”. Rupa warna tak menanggapi ia telah berlalu pergi. Arung Malam juga merasakan kesedihan yang mendalam, bagaimana mungkin adiknya berkata seperti itu. Adiknya adalah keluarga satu-satunya keluarga sekarang, dan ia terasa jauh.

            Rupa Warna tetap saja tidak berubah, meskipun telah diperingatkan kakaknya. Ia semakin sombong, ia bahkan tak mau lagi bergaul dengan sebangsa ulat.

            Sampai suatu saat, Rupa Warna berseru berkata pada semua makhluk hutan”menjadi ulat adalah kutukan, jangan sekali kali mendekat pada mahluk itu, mereka menyebarkan penyakit.”

            Tentu, perkataanya sampai ke telinga Arung Malam, ia lalu langsung menuju ke rumah Rupa Warna yang sekarang terletak di pucuk pohon buni.

            "Hei, Rupa Warna minta maaflah pada seluruh penghuni hutan!”
            “Enak saja, memang begitu keadaanya.”

             Arung Malam berusaha mencengkram sayap adiknya, agar ia tak kabur lagi seperti kapan hari. Namun, dengan segera Rupa Warna menghindar dengan cepatnya dan terbang. Kini posisinya tak bisa digapai Arung Malam. Sebenarnya, Arung Malam tak pernah berniat melukai adiknya, ia hanya ingin berbicara. Akan tetapi, Rupa Warna tak menganggapnya demikian, ia mengambil ancang-ancang untuk menyerang kakaknya.

             Dan, wuushhh Rupa Warna terbang menuju kakaknya. Ia mencengkram punggung kakaknya dan ia hempaskan. Arung malam yang tak menyangka, mendapat serangan dari adiknya. Ia menyadari tubuhnya ketika terhempas dari ketinggian dan matanya berkunang-kunang.

             Entah berapa lama Arung Malam tak sadarkan diri, ia bangun dengan luka di sekujur tubuhnya. Dengan amarah dan dendam yang masih menguasai hati, ia berdoa pada Batara Guru, sebelum mati ia ingin membalas perbuatan Rupa Warna terhadap dirinya. Namun sayang yang menjawab doanya adalah Batara Durga yang berwujud Batara Guru di depan Arung Malam.

              Batara Durga mengabulkan doanya, dengan satu syarat Arung Malam tak akan bisa lagi melihat matahari terbit. Tanpa pikir panjang Arung Malam setuju. Seketika tubuhnya menjadi kepompong. Ia juga bertapa seperti adiknya, setelah beberapa hari keluarlah sosok dari kepompong itu.

              Berbeda dengan Rupa Warna, makhluk ini punya badan yang lebih besar dengan warna yang lebih gelap sosoknya juga berbulu. Dengan wujud barunya, Arung Malam langsung melesat menuju Rupa Warna.

Arung Malam, membalas apa yang diperbuat adiknya itu.
“Nah, Rupa Warna mana kesombonganmu waktu itu?”
“Siapa kau, apa maumu?”

Tak mengindahkan apa yang dikatakan adiknya, Arung Malam tetap mencabik-cabik

sayap Rupa Warna. Dengan ukuran tubuh yang lebih besar, tentu Rupa Warna bukanlah tandingannya. Dalam pertengkaran itu lama kelaman Rupa Warna sadar, kalau itu adalah kakaknya.

“Ampun kak sudah hentikan, aku mengaku bersalah, aku akan minta maaf pada penghuni hutan”

            Mendengar itu, Arung Malam sadar tujuan awalnya adalah mengingatkan adiknya bukan menghajarnya, tapi semua sudah terlambat. Sayap Rupa Warna telah tercabik-cabik. Arung Malam juga baru sadar wujudnya juga sudah berubah.

            Arung Malam memeluk tubuh adiknya sambil menangis, tapi itu tak berlangsung lama karena pagi datang menjelang. Tubuh Arung Malam terasa panas, tersengat matahari pagi. Ia lalu pergi mencari perlindungan dan meninggalkan Rupa Warna yang tak berdaya.

            Setelah peristiwa itu, sayap Rupa Warna masih ada namun lebih kecil dari biasanya. Saat hinggap di dedaunan atau bunga, ia selalu mengatupkan sayapnya. Rupa Warna atau yang dikenal kupu-kupu oleh manusia berharap kakaknya melihat permintaan maafnya, karena kesombongannya semua hal buruk ini terjadi.

            Sementara, Arung Malam kemudian dikenal dengan nama ngegat oleh manusia. Ketika malam datang, Arung Malam hinggap pada suatu dahan atau daun, ia selalu membuka sayapnya. Sejatinya ia memohon pada Batara Guru agar wujudnya dikembalikan seperti sedia kala. Ia juga menyesal dendam dan amarah telah menguasai hatinya, hingga lupa pada niatan yang awalnya baik.

             Begitulah, kenapa sayap kupu-kupu kebanyakan lebih kecil daripada ngengat dan selalu mengatup ketika hinggap. Begitu juga dengan ngegat, ia lebih besar, berwarna gelap dan berbulu, ngegat juga hanya tampak pada malam tiba. Ketika hinggap ngegat juga masih membuka sayapnya dan berdoa sampai sekarang.