"Namun naas! Kali ini Ki Ko tak terbiasa memasak porsi sangat besar, bagi sang Raja, keluarga istana juga rakyat seantero negeri."

Seribuan tahun lalu, di sebuah negeri zamrud khatulistiwa, adalah sebuah kerajaan yang permai gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo, mbangun karyo hambeg projo, dipimpin oleh seorang Raja yang sangat bijaksana.

Semua rakyat negeri itu sangat mencintai sang Raja, meski ia telah berusia senja dan mulai terganggu pendengarannya.


Ki Ko!

Matahari baru saja beranjak dari ufuk timur, cahaya hangat putih kekuningan menyemburat menebar hangat di halaman istana kerajaan. Sang Raja bijak tengah sendiri duduk bahagia di singgasana memandang ke timur, menikmati hamparan alam nan permai menyambut terpaan cahaya matahari yang menyehatkan.

Pagi itu, sang Raja merasa bahagia. Bersama seluruh rakyatnya, dia hendak menikmati liburan seantero negeri, bersama masing-masing keluarganya tercinta.

Dalam kebahagiaan pagi, sang Raja memerintah koki istana membuat masakan paling enak untuk hidangan keluarga Raja, beserta rakyatnya.

“Ki Ko!” Sang Raja memanggil nama koki kepercayaannya.

“Saya, Ndoro... Nggih, wonten dawuh?” Jawab Ki Ko sopan sangat menghormati tuannya, sosok Raja yang disegani oleh banyak negeri.

“Hawa dan cuaca juga pemandangan indah ini, sangatlah tepat bagiku juga rakyatku untuk menikmati masakanmu, Ki.” Sang Raja memang selalu menambahkan alasan dalam setiap permintaan.

“Saya, Ndoro. Hamba mohon ijin mempersiapkan.” Sambil berjongkok, kedua kaki Ki Ko melangkah pelan di atas ubin istana menjauhi sang Raja, lalu berjalan menuju dapur istana.

Agak lama Ki Ko menyiapkan masakan pesanan sang Raja. Dia selalu mengolah setiap masakan juga minuman dengan sangat hati-hati dan cermat, tanpa pernah membuat seisi istana kecewa.

Sang Raja pun paham kebiasaan koki kepercayaannya. Masakan Ki Ko selalu lama dalam penantian namun berbuah rasa yang membahagiakan.


Grogi

Namun naas! Kali ini Ki Ko tak terbiasa memasak porsi sangat besar, bagi sang Raja, keluarga istana juga rakyat seantero negeri.

Ki Ko mendadak grogi. Selama memasak, dia mengaduk-aduk karon beras terlalu lama. Bakal nasi pun menjadi lembek, lalu halus.

Panik! Tapi Ki Ko sang koki andal, tak kurang akal. Dia pun menambah rupa-rupa bumbu, sayuran, taburan ayam suwir, kacang serta bawang goreng di atas nasi matang terlalu halus itu

Sambal tak lupa disiapkan. Karena Ki Ko persis tahu bahwa sang Raja juga rakyat selalu mencari-cari sambal sebagai pendamping hidangan.

Anehnya, apabila tersaji sambal saja, maka mereka lalu bertanya-tanya hidangan lainnya mana.

Semua masakan telah matang. Pelan-pelan Ki Ko menata hati menyuguhkan semangkok nasi lembek halus berlimpah sayuran dan suwiran daging ayam, taburan kacang bawang goreng.


Belum Bernama

“Silakan Baginda.” Ki Ko menyuguhkan mangkok keramik berisikan inovasi masakan resep terbaru.

Sajian itu sebagai contoh saja apakah sang Raja berkenan ataukah tidak.

Sang Raja seperti biasa menghirup aroma semangkok masakan, manggut-manggut pelan, lalu menyendok nasi lembek halus itu.

Sang Raja meniup-niup pelan semangkok masakan yang menebar aroma menggairahkan. Sesuap nasi halus racikan Ki Ko, mulai ia rasakan. 

Kedua mata Ki Ko menatap penuh sigap menanti titah. Napasnya pun tertahan demi melihat sang Raja mulai menikmati masakan.

Sluuuuuuuurrp!” Suara seruput sesendok nasi halus berkuah terdengar memecah kesunyian istana. 

Kedua mata sang Raja memejam, meraih nikmat. Gurih dan sejuta cita rasa telah menyatu.

Aaahh.” Perasaan lega tersirat dari kedua mata sang Raja yang membuka pelan.

Menunduk sejenak menikmati sensasi masakan Ki Ko yang baru kali ini sangat berasa menggelitik ujung syaraf pengecap rasa, sang Raja pun lalu berucap.

“Ki Ko!”

“Saya, Ndoro...”

“Ini namanya masakan apa, Ki Ko?”

“Saya, Ndoro… Eem... Eeemmm.” Ki Ko gugup mencari alasan sebagai penjelasan.

“Kali ini masakanmu nikmat sekali Ki Ko.” Sang Raja menimpali.


Su Jadi Bu

“Begini Baginda, semua ramuan masakan itu saya racik dari hasil bumi kerajaan kita yang subur," jawab Ki Ko taktis, enggan menyebut nama masakan yang tercipta dari sebuah kesalahan.

“Bagaimana?... Bubur?” Sang Raja balik bertanya. Telinga kanannya condong ke arah Ki Ko.

“Maaf Baginda, tanah kita subur...”

Hhmm... Ya ya aku tahu. Jadi ini bubur.”

“Subur, Baginda," suara Ki Ko agak meninggi, berusaha menjelaskan lagi.

Sang Raja sontak menoleh ke arah Ki Ko, menatap tajam.

“Aku tahu Ki Ko! ... Aku ini rajamu! ... Pokok e iki bubur. Titik.”

Wajah Ki Ko pucat pasi. Dia menunduk dalam-dalam, menyesali suaranya tadi meninggi.

“Wahai Panglima! Segera umumkan rakyat agar semua berkumpul di halaman istana!" Seru sang Raja memerintah Panglima istana.

“Siap, Baginda!” sahut sang Patih, si Panglima tinggi besar, tegap, perutnya rata berhias enam buah benjolan tipis otot pertanda giat berlatih raga. Dadanya sangat kokoh, kedua pentilnya terlihat mungil mentilis bagai pentilnya Aquaman.

Potret Sosok Aquaman


Menggemari Karya Keliru

Tak berapa lama semua rakyat telah berkumpul di halaman istana bersama keluarga tercinta mereka.

Sang Raja lalu berdiri dengan gagah bersemangat penuh bahagia di lantai dua istana menghadap semua rakyatnya yang berdiri di bawah. 

“Wahai rakyat ku semuanya!!" Sang Raja membuka titah.

“Pada hari yang berbahagia ini. Ku persembahkan masakan baru olahan Ki Ko, juru masak andalan istana!”

“Tadi aku telah mencoba, berjuta rasa nikmatnya!” lanjut sang Raja. Kedua sorot matanya menatap bahagia memandangi ratusan rakyatnya yang menunggu kabar gembira.

“Ini dia masakannya! Namanya? ... Bubur!” Lantang suara sang Raja sambil mengangkat semangkok bubur masakan Ki Ko.

Horee... Hooreee!!” Semua rakyat pun kegirangan penuh suka cita.

Ki Ko merasa sangat lega. Masakan yang keliru pada awalnya, ternyata mendapat hati bagi sang Raja dan rakyatnya.

Semenjak itu, rakyat semakin mencintai pemimpinnya.

Sang Raja pun tak pernah kesulitan mengajak seluruh rakyat membangun negerinya.

Sebuah dongeng tentang kekeliruan yang tak selalu berbuah kesalahan.