Sekitar dua tahun lalu sampai hari ini, terjadi sebuah topik yang cukup hangat di lingkungan masyarakat. Toleransi, itulah yang cukup sering dibahas di berbagai forum, baik forum secara resmi atau tidak resmi.

Kehidupan yang plural juga tidak hanya dari berbeda keyakinan, tetapi juga datang dari berbagai macam suku dan budaya. Dari Aceh sampai Papua, terbentang satu kesatuan sehingga terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesa (NKRI).

Melunturnya nilai toleransi yang berdasarkan nilai pancasila, yang di dalamnya terdapat lima sila dan nilai Bhineka Tunggal Ika, membuat para tokoh bangsa dan tokoh agama mengingatkan kita untuk saling menjaga dan hidup rukun di lingkungan yang plural.

Bahkan, pemerintah telah membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) karena ideologi-ideologi radikal sudah menyebar di kawasan kampus. Ini membuktikan bahwa negara kita dalam keadaan darurat dalam lunturnya nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa.

Di sini kita tidak perlu berdebat, apakah pembentukan itu bermanfaat atau tidak, yang terpenting bagaimana kita bersikap untuk saling hidup berdampingan. Seperti contoh, kita hidup berdampingan atau berteman dengan siapa saja tanpa mempertanyakan keyakinan mereka.

Namun, apakah yang disebut toleransi itu sendiri? Menurut Arnold Fege dalam tulisan yang berjudul Response: Absolutism Does Not Preempt Toleration, mengartikan toleransi dalam pandangan yang lebih luas.

“Toleration does not require acceptance of viewpoints, but that we allow a variety of people, activities, and ideas to exist without legal or social impediment”.

Dalam terjemahannya, dapat diartikan bahwa toleransi tidak memerlukan pengakuan atau penerimaan terhadap berbagai sudut pandang, tetapi bahwa kita memperbolehkan berbagai macam orang-orang, aktivitas, and sebuah ide untuk hadir tanpa halangan hukum atau sosial.

Kita harus berpikir secara terbuka bahwa permasalahan toleransi itu bukan hanya sebatas suku, agama, ras, dan antar golongan saja. Masih banyak hal-hal lainnya yang harus kita pertimbangkan sebagai bagian dari toleransi tersebut.

Hal ini sebenarnya menjadi proses pembelajaran bagi bangsa ini dalam hal toleransi. Dimana toleransi di lingkungan masyarakat diharapakan dapat satu tingkat di atas.

Sebenanya pada dasarnya suku, agama, ras, dan antar golongan adalah mutlak yang ditetapkan oleh negara untuk hidup beragam antar masyarakat disekitar. Tentunya dengan ideologi Pancasila sebagai dasar negara.

Pengertian toleransi yang mengartikan hal yang lebih dalam lagi, diiringkan dengan contoh-contoh yang terdapat di kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, di negara maju dimana ada beberapa kelompok bahkan beberapa kampus dengan terbuka untuk mendukung LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender).

Dalam hal ini, bukan yang ditekankan bahwa kita harus mendukung atau sebaliknya. Tetapi bagaimana sebuah ide atau aktivitas untuk mendukung terhadap orang atau kelompok yang mendukung dan kelompok yang didukung (LGBT) tidak mengalami suatu diskriminasi baik dalam hal hukum ataupun sosial secara besar-besaran.

Toleransi juga tentang bagaimana kita bersikap terhadap orang lain. Apakah kita itu cukup terbuka untuk menghargai toleransi itu sendiri. Sebagai contoh, apakah kita pernah berpikir jika kita memiliki teman yang ternyata dalam golongan LGBT? Apakah kita mau menerima mereka dalam lingkungan kita?

Kemudian juga, ketika kita memandang perbedaan lebih dari sekadar berbeda agama. Contohnya apakah anda bersedia untuk berteman dengan orang yang bahkan tidak memiliki agama sekalipun?

Contoh lainnya, apakah kita bisa menghargai pendapat orang lain dalam berdiskusi? yang mungkin bagi kita pendapat atau ide yang diakatakan itu sebenarnya hal yang tidak masuk akal.

Pertanyaan diatas hanya beberapa yang bisa kita renungkan mengenai toleransi itu sendiri. Ini bukan sebuah pertanyaan yang mempunyai jawaban benar dan salah. 

Pada akhirnya anda sendiri yang memiliki pandangan dan sikap, sebagaimana toleransi yang diartikan di atas untuk menerima sebuah ide atau alasan dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Dengan catatan, bahwa kita menyatakan pendapat baik menerima atau menolak dengan suatu gagasan dengan menggunakan tata cara yang benar. Menyatakan dengan argument-argumen yang tidak menyerang pribadi atau kelompok tertentu secara personal.

Sebagai bagian dari toleransi, kita diharapkan untuk saling menghargai dan menghormati sebuah ide atau pendapat. Dalam hal ini kita tidak harus menyetujui ide atau pendapat orang lain.

Kesimpulannya, bahwa dasar nilai toleransi dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda, bukan hanya dari soal bagaimana kita melihat dari perbedaan dalam ruang kecil seperti hanya tentang perbedaan keyakinan.

Tentu, kita juga harus menjaga kerukunan antar umat beragama dan berbagai golongan di Indonesia, agar tercipta suatu kehidupan yang harmonis. Hanya saja dalam hal ini, bagaimana kita melihat dan menjadikan arti toleransi itu menjadi lebih bermakna dan lebih luas.