Spektrum kajian Alquran di Barat melingkupi banyak aspek. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Fazlur Rahman, studi akademik modern paling awal yang dilakukan Barat atas Alquran diklasifikasikan ke dalam tiga kategori.

Tiga klasifikasi tersebut adalah karya yang berusaha menelusuri keterpengaruhan Alquran oleh ajaran Yahudi dan Kristen, karya tentang rekonstruksi urutan kronologis Alquran, dan karya yang memuat penjelasan isi kandungan Alquran, baik keseluruhan maupun beberapa aspek saja.

Di samping kategori yang telah dideskripsikan Rahman, beberapa kajian lain, seperti manuskrip, kitab dan teori tafsir, dan living Qur`an, juga menjadi bagian dari aspek yang diteliti sarjana Barat. Dalam hal ini, seorang sarjana terkadang tidak hanya membahas satu tema tertentu saja. 

Arthur Jeffery, misalnya, selain menulis karya yang berusaha untuk merekonstruksi susunan kronologis Alquran—dalam karyanya, Materials for the History of the Text of the Qur’an, ia juga menulis karya yang mengkaji kata-kata asing dalam Alquran.

Dalam The Foreign Vocabulary of the Qur`an, Jeffery menyatakan bahwa Alquran memuat sebanyak 275 kosakata asing selain nama diri. Beberapa nama yang terdapat dalam Alquran, seperti Ibrāhīm, Mūsā, Dāwūd, Sulaimān, Nūḥ, dan ‘Īsā, dinyatakannya memiliki karakteristik Bibel.

Di samping itu, nama tempat, seperti Bābil, Rūm, Madyan, dan Saba’; dan istilah-istilah religius yang kerap muncul, seperti Syaiṭān, Taurāh, Injīl, Sakīnah, Firdaus, dan Jahannam, menurut Jeffery, akan sangat familiar di telinga seseorang yang mengenal kitab suci umat Yahudi dan Kristiani. 

Pendapat ini, dalam pandangan penulis, merupakan konsekuensi logis dari tesis pertama Jeffery yang ia utarakan dalam kalimat pertama bagian pendahuluannya, dimana ia mengaitkan materi Alquran dengan agama yang ada di Arab ketika teks keagamaan tersebut mengalami proses formasi.

"One of the view distinct impressions gleaned from a first perusal of the bewildering confusion of the Qur’an, is that of the amount of material therein which is borrowed from the great religions that were active in Arabia at the time when the Qur’an was in process of formation."

Meskipun demikian, kosakata asing (foreign vocabulary) yang ditulis oleh Jeffery ini tidak terlepas dari kajian garīb al-Qur`ān yang digagas oleh para sarjana Muslim. Dalam pandangannya, diskusi awal mengenai kosakata asing yang terdapat dalam Alquran disandarkan pada sahabat Ibn `Abbās. 

Ia merekam bagaimana wacana ini berkembang dalam tradisi keilmuan Muslim, dan menyatakan bahwa mufasir awal telah sepenuhnya menyadari dan mengakui eksistensi beberapa kosakata yang bukan berasal dari Bahasa Arab.

Namun, pada periode selanjutnya, ketika dogma sifat kekal Alquran dielaborasi, beberapa tokoh menolak pendapat demikian, seperti Imam Syāfi`ī dan Ibn Jarīr al-Ṭabarī. Mereka mendasarkan pendapatnya pada beberapa ayat yang menyebut bahwa Alquran berbahasa Arab, seperti dalam QS. Fuṣṣilat [41] ayat 44.

Deskripsi Jeffery mengenai pendapat para sarjana Muslim, menurut penulis, merupakan salah satu latar belakang mengapa karya tentang kosakata asing yang ditulisnya muncul. Ia, dalam hal ini, banyak menyitir pendapat al-Suyūṭī, yang pada dasarnya mengakui eksistensi bahasa selain Arab dalam Alquran. 

Kajian yang dilakukannya bersifat filologis, yang diidentifikasi dari pemaparan kebahasaan dan asal-usul kosakata yang dianggapnya berasal dari bahasa asing. Contohnya tergambar ketika ia menjelaskan kata Hārūt dan Mārūt.

Jeffery mengamini pendapat para ahli filologi yang menyatakan bahwa dua term tersebut bukan berasal dari Bahasa Arab—dimana pendapat tersebut ia kutip dari al-Jawālīqī. Ia menjelaskan bahwa kedua istilah ini dianalisis bermacam-macam. 

Oleh Lagarde, Hārūt dan Mārūt diidentifikasi sebagai Haurvutāt dan Amǝrǝtāt dari Avesta, yang di Persia akhir diketahui sebagai Khurdād dan Murdād, dan dijadikan sebuah nama untuk malaikat agung yang dipuja oleh dewa-dewa Armenia.

Sebagaimana suatu pemikiran mengundang beragam respons, karya ilmiah Jeffery pun tak lepas dari tanggapan sarjana lainnya. Salah satu komentar tersebut dilakukan oleh Walid A. Saleh, yang ia ungkapkan dalam tulisannya, “The Etymological Fallacy and Qur`anic Studies: Muhammad, Paradise, and Late Antiquity”.

Di sana, Walid mengomentari tulisan Jeffery yang dianggap sebagai karya paling substansial tantang asal muasal kosakata Alquran pada abad ke-19 dan awal 20, dengan menyoroti bagaimana kata furqān didiskusikan. 

Menurutnya, Jeffery seakan menyatakan bahwa para filolog Arab cukup kompeten untuk menampilkan makna kata berbahasa Arab asli yang mereka temukan dalam Alquran. Perdebatan makna suatu term di kalangan sarjana Alquran kemudian melatarbelakangi keraguannya tentang asal mula bahasanya. 

Dari sini, Walid menyimpulkan bahwa Jeffery seolah mengartikulasikan sebuah ketentuan yang berkaitan dengan kajian kosakata yang berkembang dalam tradisi sebelumnya.

Jeffery, dalam pandangannya, secara tidak langsung mengatakan bahwa jika para ahli filologi native tidak berhasil menampilkan satu makna (atas sebuah term tertentu dalam Alquran), maka sarjana modern harus menemukan bahasa lain untuk menjelaskan makna kata tersebut. 

Ia menilai bahwa ketentuan awal tentang kajian kosakata asing dipresentasikan beragam oleh para pengkajinya. Menurutnya, hal semacam inilah yang menyebabkan karya sekunder tentang kosakata asing dalam Alquran sulit dikarakterisasi.

Pada akhirnya, jika ditinjau dari bagaimana respons dan kritik yang berkembang di kalangan para sarjana atas pembahasan kosakata asing dalam Alquran, dapat dikatakan bahwa kajian ini memiliki perkembangan yang cukup dinamis. 

Namun begitu, terlepas dari apakah wacana tersebut secara metodologis tepat atau tidak, kajian Jeffery merupakan salah satu dari keanekaragaman diskursus studi Alquran di Barat, yang tak dapat dipungkiri keberadaannya berpengaruh terhadap kejian Alquran di dunia Muslim.