Keimanan adalah selemah-lemahnya pengetahuan.

Perihal ada atau tidak adanya tuhan sebetulnya bukan bahan diskusi yang menarik lagi. Namun, kolom Ulil Abshar Abdalla bertajuk “Argumen Keberadaan Tuhan untuk New Atheists” yang termojokkan itu mengundang hasrat untuk menanggapi.

Tidak seperti Richard Dawkins yang mengemas The God Delusion secara elegan dan solid, fondasi argumen Ulil terlihat amburadul dan rapuh. Penyangkalannya atas ketiadaan tuhan tampak dibangun dengan klaim emosional terhadap sains pemicu ateisme.

Sebagaimana Ulil ke Dawkins, kita juga bisa menangkap nada kemarahan mendalam atas sains yang demikian. Kemuakan di sana jelas bukan bersumber dari “kebrutalan” sains menihilkan tuhan, melainkan karena data-data sains dinilai Ulil masih belum cukup sebagai pendukung.

Jadi, haruskah saya membalik bahasanya, baik Dawkins atau new atheists dan Ulil atau orang-orang beriman memiliki kesamaan: kemarahan dan kemuakan?

***

Ulil menjadikan agnostisisme dan teori evolusi sebagai bukti kelemahan sains. Ia lalu menyusun argumen untuk menyangkal ketiadaan tuhan. Ia mencoba mematahkan kedua fondasi ibu ateisme ini.

Dan memang, sampai sekarang, sains belum atau bahkan tidak akan pernah bisa membuktikan ketiadaan tuhan. Kondisi ini tidak ada bedanya dengan orang-orang beriman seperti Ulil. Maka jangan jadikan ketidakmampuan sains membuktikan ketiadaan tuhan sebagai kegagalan sembari menyebut diri sukses meng-ada-kan tuhan hanya karena keimanan.

Meski berkondisi serupa, tak ada dari pihak-pihak itu yang bisa memberi kepastian, mari kita jawab jujur: siapa di antara keduanya yang mampu mencapai titik paling masuk akal?

Keadaan “tidak tahu” (agnostisisme) bisa jadi memang adalah puncak pencapaian sains ketika bicara soal ada atau tidak adanya tuhan. Tetapi berbekal temuan-temuan ilmiah tentang bagaimana hukum alam bekerja, ini setidaknya jauh lebih berbobot dari sekadar keimanan atau “sok tahu” padahal rujukannya adalah buku-buku fiktif.

Terlepas sangkalan Ulil atas empirisme, metode pembuktian seperti apa lagi yang paling memungkinkan jadi pegangan? Semua harus terkonfirmasi jelas sebelum memutuskan apakah sesuatu itu benar-benar nyata atau cuma hantu. Setidaknya ada upaya, ikhtiar, ketimbang hanya mengimaninya.

Lagi pula, dan sudah semestinya, beban pembuktian itu selalu menjadi tanggung jawab pihak yang mengeklaim keberadaan sesuatu, bukan sebaliknya—apa yang harus dibuktikan oleh orang yang mengatakan sesuatu itu tidak ada?

Kerapuhan Ulil makin menjadi-jadi ketika melucuti teori evolusi. Tampaknya ia tidak atau pura-pura tak paham apa yang sedang dibicarakannya. Ia menyebut teori evolusi memberi sumbangsih bahwa kehidupan itu berasal dari “keacakan”.

Dalam teori evolusi, benar bahwa kehidupan lahir melalui proses mutasi dan variasi. Tetapi menyebut proses itu bersifat “random”, acak, yang kata Ulil seperti acaknya sekeping dadu yang dilempar ke papan permainan, adalah keliru besar.

Ketiadaan campur tangan tuhan dalam proses penciptaan alam semesta yang bersifat natural tidak selalu berarti lahir secara acak. Butuh waktu miliaran tahun sampai sebuah sistem evolusi membuahkan hasil, bukan? Kita tidak pernah tahu apakah tatanan alam yang sekarang ini kita diami adalah buah yang sempurna—sangat mungkin masih sedang dalam proses.

Contoh paling jelas bisa kita amati dalam kondisi kebebasan. Dalam pasar bebas, misalnya, di sana ada istilah “tatanan spontan”, yang sama sekali tidak butuh “kecerdasan”. Ia bergerak sendiri, mengatur dirinya sendiri, hingga membentuk tatanannya sendiri—kita kemudian menyebut “tatanan spontan” ini sebagai “keteraturan” bukan “keacakan” meski temporer.

Tidak ada kata “sempurna” atau “final” untuk tatanan yang terbentuk secara spontan. Karena mutasi dan variasi (sistem evolusi) tetap akan bekerja, maka keacakan atau keteraturan alamiah tidak akan pernah bisa kita bandingkan secara tegas dengan keacakan atau keteraturan buatan.

Lagi-lagi membalik bahasa Ulil, inilah alasan kenapa saya sulit menerima hujah-hujah penyangkalan ketiadaan tuhan berdasarkan buku-buku fiktif sebagaimana yang dikemukakan orang-orang beriman seperti Ulil. Keimanan yang menjadi fondasi hujah mereka tidak cukup mendukung.