Pilihan dalam politik merupakan sebuah keniscayaan. Jadi, pilihan dalam konteks pilkada Makassar terbagai empat pilihan; Adama, Makassar Bangkit, Dilan, dan Imun. Empat pilihan ini sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya. Semuanya memiliki kontribusi bagi prospek demokrasi kita ke depannya.

Dalam konteks politik, setiap pilihan memiliki plus minus dan harganya, maka memunculkan opsi untuk memilih salah satunya atau tidak memilih keempatnya merupakan hal yang normal. Sekarang tinggal bagaimana kita memberikan pemaknaan dan narasi terhadap pilihan-pilihan ini dalam konteks kepentingan masyarakat dan Kota Makassar yang jauh lebih besar.

Keadaan sekarang ini, kita dapat menyaksikan demokrasi di pilkada Makassar 2020 ini, masih berkutat dalam permasalahan emosional, rame-rame, serta gaduh. Demokrasi kita per hari ini dengan cerita hoax, ujaran kebencian, fitnah dan adu domba dan sebagainya, membuktikan bahwa kita sedang mengetengahkan demokrasi yang miskin substansi. Kita masih fokus pada kemasan, dan belum menyentuh substansi yang diperdebatkan. Namun kembali lagi, keadaan ini perlu untuk dimakhlumi.

Untuk dapat mengarah pada pilihan yang rasional, tentunya kita membutuhkan narasi dan gagasan yang rasional pula, melalui break down visi-misi pasangan calon. Akan tetapi, menyimak keadaan dalam masa kampanye khsusnya di media sosial, masih terkesan didominasi oleh pertarungan emosional, walau masih tahap wajar dan masih dapat ditolerir.

Tetapi, semakin mendekati masa pemilihan, pertarungan yang dimainkan harus semakin berbobot, substantif, dan mengerucut pada kerangka pikir strategis dari keempat pasangan ini. Hal ini pula menjadi titik urgensi bagi mereka yang belum menentukan pilihan dan untuk membuat publik makin cerdas untuk membuat pilihan, mana yang terbaik diantara keempat pasangan yang bertarung.

Sehingga publik pun tidak lagi disuguhkan oleh permasalahan remeh-temeh seperti hoax, fitnah, ujaran kebencian, adu domba, dan sebagainya. Tanpa perlu dijelaskan, publik pun sudah mengetahui kebenaran dan mengmbil sikap akan semuanya itu. 

Maka, keempat kubu harus mulai untuk fokus membahas isu penting seperti misalnya ekonomi, kesehatan, pendidikan, kemiskinan, pengangguran ataupun mengarah pada diskusi tentang pengembangan sektor ekonomi dan bisnis yang cocok di wilayah-wilayah tertentu. Di tahapan ini, konsep politiknya semakin detail, riil, dan kontekstual. Hal ini membantu masyarakat untuk memiliki gambaran tentang oritentasi kebijakan dari setiap kandidat yang bertarung.

Tetapi kita tidak perlu heran apabila isu negatif dan remeh temeh politik diangkat yg tdk berkaitan dengan kepentingannya substansi yang dihadapi masyarakat secara langsung. Sebab, begitulah politik. Politik tidak selalu berkaitan dengan kepentingan publik secara langsung. 

Misalnya kasus Bosowa, yang tidak memiliki hubungannya dengan paslon Appi-Rahman, tetapi kemudian menjadi ramai dibahas. Padahal, perhatian sedang tertuju kepada penanganan Covid 19 dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di tengah pandemi.

Isu-isu negatif dan urusan remeh temeh politik masih mendominasi dan melampaui visi-misi calon dalam konteks pilkada. Padahal, paslon dan timnya harusnya dapat menerjemahkan visi-misi itu ke dalam konteks riil hari ini, dan untuk kedepannya. Seperti masalah pengangguran, kesehatan, ekonomi, otonomi daerah, korupsi, dan sebagainya.

Maka kita semua punya tanggung jawab menjadikan masyarakat sebagai bagian dari pemilu itu sendiri, dengan mengajak mereka mendiskusikan substansi pilkada sebagai ajang demokrasi untuk memilih pemimpin daerah yang dianggap layak dan tepat. Di sinilah peran masyarakat terkhusus simpatisan, relawan, pendukung, tim kerja, tim kampanye untuk mengambil posisi ini sehingga dapat mencerahkan pemilih untuk memilih dengan benar.

Untuk itu, cara agar masyarakat dapat tetap menjaga rasionalitas politiknya adalah dengan membiasakan calon dan timnya melakukan diskusi untuk mendegarkan uneg-uneg, curhatan, juga sebagai media menghimpuan aspirasi warga. 

Hal ini dapat dilakukan di tingkatan RT, RW, kelompok, komunitas dan sebagainya, untuk membahas isu isu strategis dan perkembangan politik secara terbuka agar warga masyarakat memiliki kesadaran memilih paslon dengan akal sehat dan rasional. Juga masyarakat akan ikut berpatisipasi langsung dalam perhelatan pilkada..

Pilihan politik itu bukan sekedar pilihan atau hanya karena didasari hubungan emosional, kedekatan, pengaruh, ataupun popularitas calon tapi sejatinya pilihan politik harus didasari pertimbangan logis dan rasional. Dengan disertakan pertimbangan logis dan rasional sehingga, secara perlahan kita akan semakin diarahkan kepada pilihan calon yang dianggap layak dan tepat.

Apabila hal ini dilakukan, maka masyarakat akan memilih paslon dengan akal sehat. Jika berbicara akal sehat, menurut saya Appi-rahman (MakassarBangkit) dapat menjadi salah satu opsi untuk menjawabi persoalan di Makassar.

Maka, secara pribadi, saya menjatuhkan pilihan poltik saya pada pasangan calon Appi-Rahman (Makassar Bangkit) dengan berbagai pertimbangan logis dan rasional tentunya. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan adalah :

  • AppiRahman adalah Pasangan Ideal Saling Melengkapi Pengusaha –Birokrat.
  • Figus pemimpin yang memiliki Jejak Rekam Bersih.
  • Program kerja Jelas, Realistis, Kreatif & terukur.
  • Fokus Penangganan Covid 19.
  • Membangun sosialisasi dan kampanye Politik Berbasis Kerja Nyata.
  • Konsisten dan Fokus Merealisasikan Program Kerja.
  • Peduli dan Merangkul seluruh elemen dan lapisan masyarakat.
  • Membangun Optimisme Masyarakat bangkit di masa Pandemi.
  • Membangun Jejaring Politik Berbasis Kontribusi, Sinergis dan Produktif.

Sehingga saya memutuskan untuk mendukung dan memilih pasangan APPI-Rahman ini, karena didasari oleh pertimbangan logis dan rasional. Pilihan politik ini saya lebih orientasikan kepada tanggung jawab mengajak publik untuk memilih Appi-Rahman dalam konteks kepentingan masyarakat yang jauh lebih besar dan Kota Makassar yang lebih baik kedepan.