Profesi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau yang dulu kita sebut dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih menjadi profesi yang memiliki banyak sekali peminat. Di posisi apa pun, bidang dan departemen mana pun, para peminat ini seakan berlomba-lomba untuk bisa masuk sebagai jajaran ASN.

Setiap tahunnya, saat diadakan tes masuk, euforianya terasa sekali. Peminatnya beragam, mulai dari para lulusan terbaru sampai yang sudah memiliki profesi di perusahaan swasta.

Jenjang karier yang jelas, gaji dan bonus yang menggiurkan, fasilitas negara yang bisa didapatkan, sampai dana pensiun mungkin yang menjadikan ASN dipilih sebagai profesi terfavorit.

Tapi, bagaimana dengan kinerjanya? Apalagi untuk para pegawai yang kerjanya memang di departemen yang melayani urusan publik, apakah para ASN ini sudah melakukan kewajiban mereka sesuai dengan hak yang mereka dapat?

Sudah jadi rahasia umum, sejak bertahun-tahun lalu, kinerja ASN hampir selalu dinilai kurang baik. Di posisi dan departemen mana pun, yang selama ini terlihat memang hampir sama.

Contoh: petugas kecamatan atau Puskesmas yang judes atau kurang ramah menghadapi warga; polisi yang menerima uang sebagai cara damai menghadapi sebuah kasus atau tilang kendaraan bermotor; para ibu-ibu sebuah departemen pemerintahan yang di jam kerja terlihat asyik mengobrol atau malah pergi ke luar kantor, jalan-jalan atau shopping.

Tidak menggeneralisasi, tidak menyama-ratakan, tapi memang ada yang seperti ini. Banyak. Iya, kan?

Setelah banyaknya sorotan bernada nyinyir datang dari warganet dan perbaikan manajemen di sana-sini dari pemerintah, barulah terasa adanya perubahan. Pemerintah masing-masing kota juga sepertinya sudah punya tindakan langsung bila menemukan para pegawainya yang ketahuan berada di luar kantor pada jam kerja tetapi bukan untuk urusan pekerjaan.

Bagi para masyarakat juga sudah cukup terasa dampaknya. Ingin mengurus berkas surat-menyurat di kecamatan atau dinas kependudukan sudah lebih teratur dan rapi, juga sudah jauh lebih mudah. Ke Puskesmas, pelayanannya sudah lumayan baik dan tidak merepotkan. Pungutan liar sudah tidak ditemukan. Petugas yang kurang ramah? Masih ada.

Sekarang, coba kita hentikan pemikiran sampai di sini dan coba untuk memutar sudut pandang kita. Usahakan ada di posisi netral. Mari kita pandang bahwa para pegawai aparatur negara ini, bagaimanapun, adalah manusia yang juga punya kebutuhan, kepentingan, juga urusan masing-masing.

Semisal sebuah kantor layanan publik yang jam operasionalnya dimulai pukul delapan pagi, tapi ternyata ada beberapa petugas yang berkepentingan belum datang; ya mungkin beliau-beliau itu memang masih di jalan. Terjebak macet karena berangkatnya sedikit mundur dari jadwal biasanya. Mungkin penyebabnya adalah anaknya yang rewel untuk berangkat sekolah, jadi harus dibujuk dulu.

Misalnya lagi, pegawai pemerintahan yang sibuk dengan gawainya di jam kerja. Ya siapa tahu mereka memang sedang ada pembicaraan yang sangat penting sekali dengan keluarga atau mungkin sedang ada masalah di rumah yang harus segera diselesaikan.

Ada petugas yang kurang ramah dan terlihat judes padahal tugasnya adalah melayani publik yang otomatis harus bertemu dengan banyak orang? Jangan berpikiran negatif dulu. Siapa tahu mereka sedang ada masalah. Lagi ribut dengan pasangan atau malah baru pisah? Jadi ya wajar kalau mood mereka sedang tidak stabil. Iya, kan?

Harus menunggu berjam-jam hanya untuk mengurus berkas? Ya karena memang antreannya panjang. Kan, pegawai pemerintahan itu kerjanya bukan cuma mengurusi urusan kita saja? Masyarakat lain juga banyak yang memiliki urusan yang sama dengan kita. Jadi petugasnya otomatis memang jadi lebih sibuk.

Makan atau ngemil saat jam kerja? Ya memang belum sempat sarapan kali, karena tadi berangkat kerjanya terburu-buru. Karena sibuk ngurus cucian dan beres-beres rumah. Daripada asam lambung naik, kan? Nanti malah tidak bisa fokus kerja.

Ini hanya beberapa contoh saja, bukan bermaksud menyindir atau bagaimana juga. Karena pemikiran tentang ASN yang kinerjanya kurang terlalu baik itu sepertinya sudah ada sejak lama, jadi kenapa kita tidak coba mengubahnya? 

Memahami bahwa yang namanya petugas aparatur negara itu juga manusia. Sama seperti kita. Punya emosi, punya kebutuhan pribadi juga. Jadi jangan asal nge-judge kalau kita melihat kinerja mereka yang mungkin tidak maksimal.