Tidak ada yang lebih kreatif dari orang Indonesia dalam soal nama. Orang Eropa umumnya bernama John, Michel, Charles dan sejenisnya. Untuk orang Arab, nama-nama yang umum seperti Aziz, Ali, Baihaqi, Muhammad dan sebagainya.

Di Indonesia, nama-nama Eropa dan Arab tadi banyak dijumpai. Di samping banyak nama-nama lokal dan bahasa lain. Beberapa nama bahkan tidak ada dalam kosakata bahasa apa pun.

Tidak terkecuali dalam dunia sepak bola. Dalam sepak bola, untuk urusan nama ini mungkin Indonesia-lah juara dunianya. Tidak ada negara lain yang lebih unggul dari Indonesia dalam urusan nama.

Coba Anda lihat di Inggris. Sejak saya belum lahir sampai anak saya dewasa, nama Liverpool tetap Liverpool, Arsenal tetap Arsenal. Di Italia, klub Juventus yang sempat terdegradasi ke serie C1 karena kasus calciopoli tetap memakai nama Juventus.

Tidak heran jejak sejarah klub di Eropa gampang ditelusuri. Tim-tim semacam Leeds United, Wimbledon, QPR dan Midlesbrough tetap bisa dicari meski saat ini mereka tidak lagi berlaga di Premier League. Lihat saja klasemen divisi di bawahnya pasti akan ditemukan.

Lain di Eropa lain lagi di Indonesia. Di Indonesia, klub berganti nama itu sudah umum. Biarpun prestasi tidak pernah berganti tapi nama sering berganti-ganti. 

Banyak klub yang berstatus "Almarhum", banyak pula klub yang tiba-tiba meroket tanpa pernah didengar sebelumnya nama klub itu.

Kita dapat contohkan seperti peserta Liga 1 sekarang. Nama-nama semacam Badak Lampung, Tira Persekabo, Borneo FC atau Bali United adalah nama-nama yang beberapa tahun sebelumnya tidak ada. 

Ya, sebab Badak Lampung sejatinya adalah Perseru Serui yang pindah homebase ke Lampung lalu berubah nama menjadi Badak Lampung. Tira Persikabo aslinya adalah PS TNI yang berubah menjadi PS Tira, kemudian pindah ke Bogor menjadi Tira Persikabo.

Di pulau Kalimantan terdapat klub Borneo FC. Klub ini aslinya adalah Persisam Samarinda. Sebelumnya sempat berubah menjadi Pusamania Borneo FC sebelum akhirnya dipersingkat menjadi Borneo FC.

Masih ada lagi klub asal Kota Samarinda yang lain yaitu Putra Samarinda (PUSAM). Klub ini tiba-tiba berubah menjadi Bali United, sebuah nama yang benar-benar baru dan tidak mengandung unsur nama Putra Samarinda lagi.

Bhayangkara FC sebelumnya adalah Bonek FC. Bonek FC adalah nama yang dipilh saat Persebaya DU dilarang menggunakan nama dan logo Persebaya oleh Menkumham.

Lalu Persebaya DU ini siapa? Persebaya DU adalah klub yang mengikuti kompetisi Divisi Utama disaat Persebaya yang asli mengikuti kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI). Persebaya DU ini aslinya adalah Persatuan Sepakbola Kutai Barat (Persekubar). 

Di Kota Palembang ada klub yang bernama Sriwijaya FC. Tahukah Anda bahwa Sriwijaya FC itu sebelumnya bernama Persijatim Solo FC? Persijatim Solo FC adalah pindahan dari Persatuan Sepakbola Jakarta Timur (Persijatim).

Di era 1980-an ada Persatuan Sepakbola Kebayoran Sekitarnya (Perkesa). Saat mengikuti kompetisi Galatama berubah menjadi Perkesa 78 Sidoarjo. Lalu pindah ke Jogja menjadi Perkesa Mataram.

Dalam perjalanan berikutnya nama Perkesa hilang menjadi Matarm Putra. Lalu berubah lagi menjadi Mataram Indocement. Akhirnya klub ini pindah lagi ke Cirebon menjadi PS. Indocement.

Yang paling fenomenal menurut saya adalah Pelita Jaya. Klub besar Indonesia ini tiba-tiba pindah ke Solo berubah nama menjadi Pelita Solo. Dari Solo klub ini pindah markas ke Cilegon dan berubah menjadi Pelita Krakatau Steel.

Tak cukup di situ, klub ini pindah markas lagi dan berubah nama menjadi Pelita Jaya Purwakarta. Setelah itu evolusi dilanjutkan lagi dengan berubah menjadi Pelita Jaya Karawang.

Beberapa musim berikutnya nama klub ini berubah menjadi Pelita Bandung Raya (PBR). Lalu sekarang? Tahukah Anda namanya berubah tanpa kata "pelita" lagi, menjadi Madura United?

Sekilas cerita-cerita di atas menggelikan dan membuat kita tertawa. Tapi jika kita pelajari lebih serius, perubahan nama yang terlalu sering terjadi di sepak bola kita adalah cerminan potret buram eksistensi dan konsistensi pembinaan sepak bola di Indonesia.

Di negara lain, pergantian nama klub sepak bola bukan tidak ada. Di Jepang ada klub Gamba Osaka yang dulunya bernama Matsushita FC. Di Korea Selatan ada Seongnam FC yang dulu bernama Ilhwa Chunma FC.

Tapi di negara lain, perubahan nama tersebut terjadi hanya sekali dua kali dalam sejarah klubnya. Perubahan nama ini biasanya hanya langkah rebranding dan berlaku jangka panjang tidak menghilangkan sejarah klub dan tidak mengubah instrumen klub seperti aset maupun suporter.

Di Indonesia, perubahan nama sering berdampak sistemik terhadap klub. Umumnya perubahan disebabkan pindah homebase sehingga nama disesuaikan dengan domisilinya. Ini berarti identitas klub tersebut menjadi baru sama sekali. Fans yang hari ini menjadi pendukung fanatik sebuah klub bisa berubah menjadi lawan. Sungguh aneh bin ajaib.

Lebih memprihatinkan lagi sering terjadi perubahan nama ini disebabkan adanya dimensi kapital. Orang atau daerah yang ingin memiliki klub papan atas tidak mau merintis pendirian klub dari bawah. Mereka suka menempuh cara praktis dengan membeli klub yang sudah ada di kompetisi lalu diubah namanya.

Trend pembelian klub di Indonesia ini marak terjadi. Yang memprihatinkan, pembelian klub itu bukan hanya pembelian saham tetapi pembelian identitas atau jati diri klub. Apa yang lebih mengenaskan di dunia ini selain menjual jati diri?

Dalam perenungan yang dalam, kita pun patut melakukan refleksi situasi. Saat banyak terjadi kasus pengaturan skor di Liga Indonesia, kita bisa berkaca dari hal ini. Jangankan prestasi, sedangkan jati diri pun bisa dijual murah.