Manusia sebagai makhluk Tuhan yang diberikan akal dan rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan membuat manusia selalu berkeinginan untuk mencari tahu segala sesuatu yang belum diketahuinya. Seiring berjalannya waktu, manusia mulai mengembangkan beberapa disiplin ilmu untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka terhadap segala hal yang terjadi di sekitar mereka.

Dalam filsafat, hakikat ilmu sangatlah penting terutama dalam hal ukuran kebenaran. Dalam filsafat ilmu terdapat berbagai macam teori kebenaran, tetapi yang lebih populer ada tiga macam, yaitu teori korespondensi, teori koherensi, dan teori pragmatis, namun dalam teori-teori kebenaran tersebut juga terdapat berbagai permasalahan.

Pada suatu ketika, ada seorang anak kecil yang berkata bahwa 3+4=7. Keesokan harinya ia berkata lagi bahwa 5+2=7, dan kemudian keesokan harinya lagi ia berkata bahwa 6+1=7. Permasalahan sederhana ini membawa kita kepada apa yang disebut dengan  teori kebenaran, yaitu semua jalan yang ditempuh untuk meraih sebuah tujuan adalah sesuatu yang benar selama ia menghasilkan kesimpulan yang benar.

Tidak semua individu mempunyai syarat yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar, maka dari itulah yang menyebabkan perbedaan jalan pemikiran dalam menemukan kebenaran tersebut, termasuk hal yang terjadi pada anak kecil yang diceritakan sebelumnya.

Ada beberapa teori-teori kebenaran yang sangat populer dalam filsafat ilmu, yaitu: teori kebenaran korespondensi atau kesesuaian, teori kebenaran koherensi atau keteguhan, dan teori kebenaran pragmatis atau kesuksesan. Disamping itu ada pula teori kebenaran yang dikenal dalam konteks kontemporer yakni, teori kebenaran performatif dan teori kebenaran konsensus.

Teori kebenaran korespondensi ialah teori yang pertama kali muncul dalam kajian filsafat ilmu. Menurut teori ini, ukuran kebenaran ditentukan oleh adanya kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan. Louis O. Kattsoff menyatakan dalam teori korespondensinya bahwa suatu pendapat itu benar jika arti yang dikandung juga benar-benar sesuai dengan halnya (real). Teori ini merupakan teori nalar umum (common-sense) jika nalar umum itu mempunyai teori.

Contohnya mengenai fakta empiris, keyakinan tersebut akan dikatakan benar atau salah bukan karena keyakinan lain yang menopang atau  yang merobohkannya, tetapi karena adanya sesuatu yang menopang kebenarannya secara empiris. Contoh, “Jakarta adalah ibu kota Indonesia”, pendapat itu benar karena berkesesuaian dengan objek faktual yakni Jakarta memang ibu kota Indonesia, dan bernilai salah apabila fakta empiris membuktikan bahwa Jakarta bukan ibu kota Negara Indonesia, tetapi Surabaya.

Teori kebenaran kedua adalah koherensi. Secara etimologis, koherensi berasal dari bahasa latin Cohaerere yang memiliki makna bersatu atau menyatu. Sedangkan secara terminologis, ialah merupakan teori yang menyatakan bahwa kebenaran adalah karena adanya pernyataan yang konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang diyakini benar adanya.

Sebagai contoh, kita meyakini bahwa, “Semua manusia akan mati”, dan itu adalah suatu pernyataan yang benar. Kemudian si fulan berkata “Aku akan mati”, itu juga merupakan pernyataan yang benar dan memiliki satu makna dengan pernyataan sebelumnya yang telah diyakini benar, yaitu karena fulan adalah manusia, dan manusia akan mati, maka fulan juga akan mati.

Problem dalam teori koherensi muncul karena teori ini tampak terlihat logis dan sistematis. Teori ini bisa saja menyatakan suatu kebohongan karena teori ini belum menentukan kebenaran, tetapi dinilai karena adanya kesesuaian dengan pendapat kuat sebelumnya yang diyakini benar dan bukan karena adanya kesesuaian dengan fakta. Tidak akan berguna suatu pendapat yang logis dan sistematis jika tidak ada kesesuaian dengan fakta.

Teori yang terakhir adalah pragmatis. Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu pragma yang berarti perbuatan atau tindakan. Jadi menurut teori kebenaran ini, sesuatu dapat dikatakan atau dinilai benar apabila pernyataan tersebut memiliki hasil tindakan yang berguna atau bermanfaat dan dinilai salah apabila memiliki hasil tindakan yang merusak atau merugikan.

Sebagai contoh, katakanlah ada seseorang yang tersesat di dalam hutan. Setelah berpikir sejenak, dia berkata dalam hatinya, “jalan keluarnya ialah ke kiri”. Proposisi ini mengandung makna bagi dia, yaitu jika dia kemudian berjalan ke kiri, atau dengan kata lain, kita menghadapi masalah untuk keluar dari hutan dan kita telah mengucapkan suatu proposisi atau pemikiran yang merupakan hipotesis mengenai cara keluar dari hutan.

Menurut Dewey, dia baru mengetahui setelah mengadakan verifikasi dan yang demikian ini dapat terjadi jika dia kerjakan dengan cara dia berjalan ke kiri. Jika dengan berjalan ke arah kiri, dia sungguh-sungguh keluar dari hutan, maka barulah proposisi tersebut sungguh-sungguh benar.

Problem yang muncul dari teori pragmatis yaitu, apakah asas manfaat yang cenderung subjektif itu justru tidak bertentangan dengan prinsip objektivitas sebagai tujuan ilmu pengetahuan. 

Tentu saja ilmu pengetahuan lebih didasarkan pada kebenaran secara objektif dan melupakan nilai-nilai subjektif di dalam kegiatannya dan hal ini sangat bertentangan dengan teori pragmatis yang lebih mengutamakan subjektif atau perasaan puas dibandingkan objektif atau kenyataan. Jadi hasil yang memuaskan itu juga seharusnya berkaitan dengan tujuan akhir kegiatan keilmuan. 

Kesimpulannya adalah bahwasanya teori-teori kebenaran itu tidak selalu benar, karena kebenaran itu masih memerlukan tumpuan pada bukti-bukti yang pendukung kebenaran itu.