Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Jika kita melihat atau membaca pengertian pengertian yang lain mengenai sekolah pada dasarnya pasti terselip kata belajar dan mengajar.

Ya, memang benar. Sekolah identik dengan proses belajar dan mengajar. Di sekolah siswa tidak hanya mendapat pengajaran mengenai pembelajaran yang ada namun juga mengenai sikap yang baik dalam menghadapi orang lain.

Sekolah sering disebut sebagai rumah kedua bagi siswa maupun siswi. Jika mengacu pada kata rumah berarti seharusnya sekolah menjadi tempat yang nyaman dan asyik untuk belajar bukan malah tempat yang membosankan dan menakutkan untuk dikunjungi.

Namun, bagaimana dengan kenyataan yang sebenarnya? Apakah sekolah mampu menjadi tempat ternyaman bagi siswa maupun siswi? Atau sekolah malah menjadi “tempat angker” untuk dikunjungi?

Sebagian besar mungkin akan menjawab bahwa sekolah adalah tempat yang membosankan. Tempat segudang tugas yang akan terus menumpuk di pundak para siswa. Tempat yang selalu menguras keringat, tenaga, dan otak.

Jika dari sisi ini, sekolah tidak lagi menjadi rumah kedua tetapi menjadi sebuah penjara yang sudah siap dengan jeruji besinya untuk menahan siapa saja yang berani melanggar aturan ataupun yang enggan untuk belajar.

Lalu, jika seperti ini apakah salah sekolah tersebut? Apakah salah guru guru yang mengajar disekolah tersebut? Atau malah salah para siswa yang malas dan berat untuk melangkahkan kakinya ke sekolah tersebut?

Sebenarnya anggapan seperti ini muncul bukan karena kesalahan tiga faktor tersebut. Bukan kesalahan siapa siapa juga. Tetapi sistem pendidikan yang setiap tahun semakin mengalami perubahan yang membuat para siswa tercengang dan semakin gundah berada di sekolah.

Memang benar dari tahun ke tahun sistem pendidikan menglami perubahan. Terutama di Indonesia yang kita ketahui. Setiap pergantian menteri pendidikan pasti sistem pendidikannya juga berganti entah itu lebih baik atau lebih mengerikan menurut para siswa.

Pada tahun 2017 yang lalu menteri pendidikan Indonesia mengumumkan istilah sistem pendidikan dengan kata Full Day School. Full Day School berarti jam pelajaran di sekolah ditambah dari yang biasanya.

Memang tidak semua sekolah memberlakukan hal seperti ini. Awal masa diterapkannya Full Day School hanya beberapa sekolah disetiap daerah di Indonesia menjadi sekolah percobaan untuk sistem pendidikan Full Day School. 

Berdasarkan sistem pendidikan Full Day School, jam belajar disekolah bisa mencapai kurang lebih 8 jam. Karena bertambahnya jam belajar tersebut, ada beberapa sekolah yang menerapkan sekolah lima hari, hanya sampai hari Jumat.

Jadi, hari sabtu dan minggu diberikan kesempatan bagi para siswa untuk beristirahat. Namun ada juga sekolah yang menerapkan sistem pendidikan Full Day School tetap memberlakukan sekolah hingga hari sabtu.

Apakah sistem pendidikan Full Day School dampak memberi dampak yang baik? Tentu ada dampak yang baik. Tidak mungkin menteri pendidikan merancangkan suatu yang tidak memberi dampak yang baik bagi para siswa.

Namun, apakah tidak ada dampak buruknya? Jika diberi pertanyaan seperti ini mungkin banyak siswa yang akan berargumentasi dan bersedia untuk membuat daftar dampak buruk dari adanya Full Day School.

Jika menurut menteri pendidikan Full Day School merupakan sistem pendidikan yang dapat mengasah minat dan bakat para siswa dan sitem Full Day School merupakan sistem pendidikan yang paling tepat untuk diberlakukan di Indonesia.

Lalu bagaimana dampak yang ditimbulkan bagi para siswa yang menjalaninya? Banyak siswa yang mengeluh dengan sistem pendidikan Full Day School ini. Mereka mengeluhkan jam belajar yang terlalu lama membuat mereka jenuh dan letih.

Belum lagi mereka harus menyelesaikan tugas tugas dari semua mata pelajaran yang berjumlah lebih dari 10 pelajaran. Belum lagi jika mereka harus mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Belum lagi jika mereka harus menyelesaikan tugas rumah yang menumpuk.

Lalu, kapan waktu yang dapat diluangkan untuk sekedar mengukir tawa bersama keluarga di rumah? Atau waktu untuk merebahkan badan setelah ditimpa dengan tugas tugas yang beratnya setara dengan beras 50 kilogram.

Sistem pendidikan Full Day School memang sangat bermanfaat untuk lebih menambah pengalaman para siswa untuk bersosialisasi dengan orang lain ataupun menambah pengetahuan para siswa.

Terkadang kita juga perlu melihat lebih jauh lagi mengenai kehidupan para siswa, memang tidak bisa diteliti satu per satu. Namun, kita juga harus memikirkan kegiatan yang mungkin harus dilakukan sebagai rutinitas yang juga tidak kalah penting dengan pendidikannya.

Semoga kedepannya menteri pendidikan di Indonesia membuat terobosan baru mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Tidak hanya mementingkan kuantitas jam belajarnya. Namun juga kualitas yang dihasilkan dari diterapkannya sistem pendidikan tersebut.

Para siswa memang tugasnya untuk belajar, tetapi mereka juga perlu waktu untuk sekedar meneguk segelas air, berbaring di tempat tidur, ataupun bercanda ria dengan keluarga mereka masing masing. Pendidikan seharusnya menjadi suatu hal yang menyenangkan bukan malah menjadi sesuatu yang membosankan.