Sebagai wujud yang menjadi asal muasal segala wujud, para teolog (mutakallimûn) menyebut Dzat Tuhan sebagai Dzat yang qadîm. Kata tersebut memberikan makna bahwa Tuhan itu tidak ada awalnya.

Mengapa tidak ada awalnya? Karena kalau dikatakan ada awalnya, maka itu artinya dia adalah wujud yang ada dari ketiadaan. Dan ketika dia ada dari ketiadaan, maka ketika itu pasti wujud ada yang mengadakan. Dan kalau dia sudah diadakan maka tentu Dia tidak lagi menjadi Tuhan.

Karena alasan itulah kita meyakini bahwa Tuhan itu tidak berawal. Sifat ketidakberawalan ('adam al-Awwaliyyah) Tuhan itu, dalam ilmu kalam, diistilahkan dengan qidam. Sementara wujud yang menyandang sifat tersebut dinamai sebagai wujud yang qadîm. Apa itu qadîm? Qadîm itu, sekali lagi, ialah sesuatu yang tidak berawal.

Kata lain yang biasa digunakan untuk menunjuk makna tersebut ialah kata azali. Kata ini juga sering dimaknai dengan pengertian yang sama, yakni sesuatu yang tidak ada awalnya. Tapi, apakah semua teolog mengimani kesamaan makna dari dua kata tersebut?

Mayoritas para Ahli bahasa, sebagaimana dicatat oleh al-Shawi (w. 1241 H), seorang teolog kenamaan Mesir, akan berkata iya. Bahwa azali itu adalah sinonim (murâdif) dari kata qadîm.

Artinya kedua kata tersebut memiliki makna yang sama, yaitu "sesuatu yang tidak ada awalnya, maka itu berupa ketiadaan, maupun keadaan, baik dia itu berdiri sendiri ataupun tidak berdiri sendiri." (ma lâ awwala lahu 'adamiyyan kâna aw wujûdiyyan, qâiman binafsihi aw la. (Syarh al-Shâwi 'ala Jauharat al-Tauhîd, hlm. 148)

Contoh ketiadaan yang tidak ada awalnya, sifat wahdaniyyah. Dengan sifat tersebut kita meyakini bahwa Tuhan itu tidak berbilang. Artinya, dengan sifat wahdâniyyah itu kita "meniadakan" keberbilangan dari Tuhan dalam Dzat, sifat dan perbuatan-Nya.

Pertanyaanya: ketak-berbilangan itu ada awalnya atau tidak? Tidak ada awalnya. Karena Dzat yang menyandang sifat tersebut juga tidak ada awalnya. Itulah yang dimaksud dengan "ketiadaan yang tidak berawal". Hal yang sama berlaku bagi sifat-sifat salbiyyah (sifat-sifat yang menegasikan hal-hal yang tidak layak bagi Tuhan) yang lain, seperti qidam, baqa, mukhalafah lil hawâdits, dan qiyamuhu binafsihi.

Contoh lain: Kita meyakini Tuhan sebagai Dzat yang qadim, misalnya. Dan sifatnya ialah qidam. Apa itu qidam? Qidam itu ialah ketidakberawalan. Artinya, dengan meyakini sifat tersebut, kita menafikan ketidakberawalan dari Tuhan.

Lalu ketidakberawalan itu sendiri ada awalnya atau tidak? Tidak ada. Karena Dzat yang menyandang sifat ketidakberawalan itu memang tidak berawal. Itulah yang dimaksud dengan "ketiadaan" yang tak berawal dalam definisi di atas.

Ketiadaan yang dimaksud dalam definisi di atas bukan berarti kita meniadakan sifat Tuhan, tapi sifat tersebut dengan sendirinya memang meniadakan sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan. Dan ketiadaan itu sendiri tidak berawal. Makanya dia disebut sebagai sifat yang qadîm.

Contoh keadaan yang tidak berawal: Dzat Allah Swt. Dzat Allah itu ada atau tidak ada? Jawabannya ada. Dan keadaan-Nya itu sendiri—seperti yang kita katakan di atas—tidak berawal dan tidak diadakan.

Begitu juga dengan sifat ma'âni, seperti sifat qudrah (kuasa), misalnya. Sifat qudrah berbeda dengan sifat-sifat sebelumnya. Sifat ini tidak meniadakan sesuatu dari Tuhan, tapi justru dia memberikan makna lebih kepada Dzat Tuhan (zâid 'ala al-Dzât), yaitu kemahakuasaan.

Karena itu kita meyakini keberadaannya. Hanya saja keberadaan-Nya ada karena adanya Dzat, tidak terpisah dari Dzat juga bukan di luar Dzat. Tapi dia juga tidak ada awalnya. Dan itulah yang dimaksud dengan "keadaan" yang tidak berawal.

Namun, Sa'duddin al-Taftazani (w. 791 H), seorang teolog Sunni besar abad ke-8, punya sedikit pandangan yang berbeda. Baginya, azali itu lebih umum ketimbang qadîm.

Karena—demikian al-Taftazani—qadîm itu diberlakukan kepada suatu wujud—sekali lagi suatu wujud—yang tidak awalnya dan dia itu berdiri sendiri. Sementara azali diberlakuan bagi "sesuatu yang tidak ada awalnya, maka itu berupa ketiadaan, maupun keadaan, baik dia itu berdiri sendiri ataupun tidak berdiri sendiri."

Atas dasar itu, kata al-Taftazani, sifat Allah Swt itu lebih tepat disebut dengan istilah azali, bukan qadîm, karena dia tidak berdiri sendiri. Dia ada dalam Dzat (qâim bidzzât), bukan sesuatu yang terpisah dan berdiri sendiri di luar Dzat. Karena itu, jika kita mengacu pada definisi di atas, ia lebih tepat disebut sebagai sesuatu yang azali, bukan qadîm.

Begitu juga halnya dengan ketiadaan-ketiadaan yang tidak berawal (al-'Adam al-Azaliyah). Seperti apa contohnya? Saya lahir tanggal 19 Desember 1994. Sebelum tanggal itu saya tidak ada. Pertanyaannya: ketiadaan saya itu ada awalnya atau tidak? Tentu saja tidak ada.

Nah, ketiadaan saya itu bisa disebut dengan ketiadaan azali. Tapi bukan ketiadaan yang qadîm. Mengapa demikian? Karena qadîm itu, berdasarkan definisi yang terakhir ini, hanya berlaku bagi sesuatu yang ada, dan keadaan tersebut tidak ada awalnya, sebagaimana ia juga berdiri sendiri.

Dengan demikian, dalam pandangan al-Taftazani, kata qadîm itu hanya berlaku bagi wujud Tuhan. Sementara sifat-sifat-Nya, dan ketiadaan-ketiadaan yang tidak berawal itu lebih tepat disebut dengan istilah azali, bukan qadîm. 

Nanti muncul perdebatan keras di kalangan para filsuf dan para teolog. Bisa tidak alam semesta itu disebut sebagai sesuatu yang qadîm? Kelompok kedua dengan tegas akan berkata tidak, tapi kelompok pertama akan berkata iya. Namun mereka punya pemaknaan tersendiri terhadap kata qadîm itu.

Qadîm yang mereka maksud ialah sesuatu yang tidak didahului oleh waktu. Kenapa bisa begitu? Karena memang sebelum alam semesta ada, tidak ada yang namanya waktu. Tapi pandangan ini dikafirkan oleh al-Ghazali, seperti yang tercatat dalam bukunya yang terkenal, Tahâfut al-Falâsifah (Incoherence of Philosophers).

Pertanyaannya: Mengapa al-Ghazali bisa mengafirkan pandangan itu? Padahal dengan pandangan tersebut para filsuf tidak bermaksud untuk mempersamakan Tuhan dengan alam? Lembaran pendek ini tak akan cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut. Karena itu lebih baik saya sudahi. Demikian, wallahu 'alam bisshawâb.